Berita hari ini: Jumat, 14 April 2017

Perkembangan berita terbaru yang perlu Anda ketahui.

%

%

%

%

%

%

%

%

Hello!

Halo pembaca Rappler,

Pantau terus laman ini untuk memperbarui berita terbaru pilihan redaksi Rappler Indonesia pada Jumat, 14 April 2017.

Jawara Betawi ditangkap polisi karena diduga langgar aturan kampanye

DITANGKAP. Jawara Betawi ditangkap oleh pesonel Polres Jakarta Selatan karena diduga telah melanggar aturan kampanye. Foto oleh Rappler

DITANGKAP. Jawara Betawi ditangkap oleh pesonel Polres Jakarta Selatan karena diduga telah melanggar aturan kampanye. Foto oleh Rappler

Polisi Metro Jakarta Selatan menangkap seorang jawara Betawi yang diduga melanggar aturan kampanye. Aturan yang dilanggar yakni melakukan tindakan diskriminatif yang menyinggung suku, agama, ras dan antar golongan.

“Ada banyak laporan dari masyarakat tentang tindakan diskriminatif yang dilakukan tersangka,” ujar Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Iwan Kurniawan di kantornya.

Pria bernama Abu Bakar Sadelih bermukim di daerah Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Dalam sebuah acara pada Minggu lalu, dia berdiri di atas panggung.

Tangan kanannya terlihat mengacungkan golok, sedangkan tangan kiri memegang mikrofon. Abu Bakar kemudian mengucapkan sumpah untuk tidak memilih gubernur kafir. Sumpahnya itu diikuti oleh peserta acara yang jumlahnya diduga mencapai puluhan.

Momentum pengucapan sumpah itu direkam dengan kamera video kemudian ditayangkan lewat Youtube.

“Kami sudah menyita bukti rekaman itu,” tutur Iwan.

Saat ini dijerat menggunakan Pasal 16 junto Pasal 4 Undang-Undang nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun. Selengkapnya baca di sini.

Setara Institute: Langkah Kapolres Semarang larang keberadaan FPI sudah tepat

TOLAK FPI. Kediaman Zaenal Abidin Petir yang dijadikan lokasi deklarasi pembentukan ormas Front Pembela Islam (FPI) di Semarang dijaga oleh personel kepolisian. Sekitar 15 ormas di Semarang menolak pembentukan FPI. Foto oleh Fariz Ardianto/Rappler

TOLAK FPI. Kediaman Zaenal Abidin Petir yang dijadikan lokasi deklarasi pembentukan ormas Front Pembela Islam (FPI) di Semarang dijaga oleh personel kepolisian. Sekitar 15 ormas di Semarang menolak pembentukan FPI. Foto oleh Fariz Ardianto/Rappler

Ketua Badan Pengurus SETARA Institute, Hendardi menilai langkah warga Semarang yang melarang pembentukan ormas Front Pembela Islam di kota tersebut tidak keliru. Hal itu karena aktivitas dan ideologi FPI sudah kerap merongrong kemajemukan dan nilai Pancasila.

Organisasi tersebut kerap terlihat melakukan berbagai tindak kekerasan.

“Jadi, tindakan itu (melarang pembentukan FPI) bukan menolak hak untuk berserikat anggota FPI,” ujar Hendardi dalam keterangan tertulis.

Dia juga sepakat dengan langkah yang ditempuh oleh Kapolrestabes Semarang, Kombes Polisi Abiyoso Seno Aji yang ikut melarang dibentuknya FPI. Aksi-aksi ormas pimpinan Habib Rizieq itu sudah identik dengan perilaku intoleran dan kekerasan yang mengganggu ketertiban sosial.

Malah, Hendardi mengatakan sikap tegas Abiyoso patut ditiru oleh Polres di wilayah lain ketika menangani organisasi pro kekerasan itu.

“Jangan lah seperti Bupati Kuningan, Jawa Barat yang justru memfasilitasi pembentukan FPI Kuningan,” tutur dia.

Berkembangnya organisasi intoleran perlu dicegah karena ibarat virus, mereka cepat menyebar dan membahayakan Republik Indonesia.

“Sudah semestinya semua penyelenggara negara dan pemerintahan mengambil langkah-langkah preventif berkelanjutan menjaga dan merawat keberagaman di Indonesia,” katanya. Selengkapnya berita mengenai pelarangan pembentukan FPI Semarang bisa dibaca di sini.

Kisah Djarot yang dengarkan ajakan memilih pemimpin Muslim dalam ceramah salat Jumat

BERSAMA ISTRI. Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat (tengah) bersama istrinya Happy Farida (kedua kanan) tiba di Stasiun Kebayoran Lama, Jakarta, Kamis, 17 November. Foto oleh Muhammad Iqbal/ANTARA

BERSAMA ISTRI. Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat (tengah) bersama istrinya Happy Farida (kedua kanan) tiba di Stasiun Kebayoran Lama, Jakarta, Kamis, 17 November. Foto oleh Muhammad Iqbal/ANTARA

Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta nomor urut 2, Djarot Saiful Hidayat melaksanakan salat Jumat di Masjid Jami Al Atiq di Kebon Baru, Tebet pada siang tadi. Begitu tiba, dia langsung masuk ke dalam masjid tersebut.

Usai menunaikan salat Jumat, Djarot mendengarkan ceramah berisi ajakan kepada para jemaahnya untuk memilih pemimpin Muslim pada Pilkada DKI yang digelar pada 19 April.

“Kalau pemimpin Muslim, Insya Allah negara kita akan mendapatkan ridanya dan akan mendapat rahmat dari Allah,” demikian sebagian isi ceramah yang disampaikan di masjid tersebut.

Tidak jauh dari masjid itu, terdapat sebuah spanduk yang bertuliskan “Tolak Penista Agama di Kampung Melayu Tercinta”. Di depan spanduk itu, terdapat spanduk lain berisi gambar pasangan calon Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Lalu, apa komentar Djarot?

“Saya ke masjid mana saja boleh. Tadi, jemaahnya juga bagus semua, salaman semua. Mungkin takmirnya baru tahu saya ada di situ ya kan, sehingga ya pidato seperti itu,” kata Djarot.

Dia pun mengaku tidak memiliki niat buruk dengan menunaikan salat Jumat di masjid tersebut. Selengkapnya baca di sini.

Fahri Hamzah: Anggota DPR juga butuh dikawal personel kepolisian

DIPECAT. Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah memberikan keterangan kepada wartawan terkait pemecatan dirinya dari keanggotaan PKS di Gedung DPR, Jakarta, Senin, 4 April 2016. Foto oleh Rivan Awal Lingga/ANTARA

DIPECAT. Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Fahri Hamzah memberikan keterangan kepada wartawan terkait pemecatan dirinya dari keanggotaan PKS di Gedung DPR, Jakarta, Senin, 4 April 2016. Foto oleh Rivan Awal Lingga/ANTARA

Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah mengaku terheran-heran mengapa hanya penyidik KPK saja yang ditawarkan untuk mendapat pengawal an personel Polri dan TNI. Dia menilai anggota DPR pun berhak memperoleh pengawalan yang sama.

“Kenapa kalau ada penyidik KPK diserang orang, tentara pun menawarkan diri untuk melindungi? Kenapa DPR tidak juga mendapat persepsi seperti itu?” ujar Fahri di gedung DPR.

Fahri menilai DPR merupakan lembaga tinggi negara yang pemilihan anggotanya membutuhkan anggaran besar. Kewenangan yang dimiliki DPR pun tidak kalah besar, sehingga pengawalan dinilai perlu.

Ide pengawalan menyeruak kite penyidik senior Novel Baswedan diserang oleh dua pria misterius dengan menggunakan air keras. Kini, Novel mengalami kesulitan penglihatan dan tengah dirawat di rumah sakit di Singapura. Selengkapnya baca di sini.

Ganjar Pranowo ikut “turun gunung” bantu kampanyekan Ahok-Djarot

TURUN GUNUNG. Gubernur Jawa Tengah ikut 'turun gunung' dan membantu kampanye calon gubernur nomor urut dua untuk memenangkan Pilgub DKI 2017. Foto oleh R Rekotomo/ANTARA

TURUN GUNUNG. Gubernur Jawa Tengah ikut 'turun gunung' dan membantu kampanye calon gubernur nomor urut dua untuk memenangkan Pilgub DKI 2017. Foto oleh R Rekotomo/ANTARA

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo ‘turun gunung’ dan membantu kampanye calon gubernur DKI nomor urut 2, Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama dan Djarot Syaiful Hidayat. Salah satunya ketika dia ikut menghadiri deklarasi dukungan dari Tim Pakuwojo di GPR Otista, Jatinegara.

Ganjar disambut meriah oleh massa yang mengenakan batik berwarna hijau. Dia sempat berinteraksi dengan pendukung Ahok-Djarot di sana.

Politisi PDIP itu sempat menanyakan apa saja yang selama ini sudah didapat dari pemerintahan cagub petahana.

“Anak dapat KJP enggak? Dapat KJS enggak? Terus kalau yang sudah didapat masih mau dirasakan lagi enggak? Makanya tetap pilih gubernur yang sudah ada, biar apa yang sudah dirasakan selama ini tetap dinikmati,” kata Ganjar. Selengkapnya baca di sini.

- Rappler.com

Ayo langganan Indonesia wRap