Berita hari ini: Senin, 15 Januari 2018

Perkembangan berita terbaru yang perlu Anda ketahui

%

%

%

%

%

%

%

%

Hello!

Hallo pembaca Rappler!

Pantau terus laman ini untuk memperbarui berita pilihan redaksi Rappler Indonesia pada Senin, 15 Januari 2018.

Fredrich Yunadi imbau semua advokat agar memboikot KPK

DITAHAN. Pengacara Fredrich Yunadi mengenakan rompi orange dan resmi ditahan pada Sabtu pagi, 13 Januari 2018. Foto oleh Santi Dewi/Rappler

DITAHAN. Pengacara Fredrich Yunadi mengenakan rompi orange dan resmi ditahan pada Sabtu pagi, 13 Januari 2018. Foto oleh Santi Dewi/Rappler

Tersangka Fredrich Yunadi diperiksa untuk kali kedua di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) usai resmi ditahan sejak Sabtu pekan lalu karena dianggap telah merintangi penyidikan kasus Setya Novanto. Sebelum masuk ke ruang pemeriksaan, Ia kembali menyatakan kepada media bahwa penahanan terhadap dirinya merupakan bentuk tindak kriminalisasi.

“Mereka tidak ada bukti (saya telah merintangi penyidikan kasus) dan saya mendengar dari berita, seolah-olah katanya saya dicari seharian. Itu adalah bohong semua,” ujar Fredrich.

Ia mengaku tidak berusaha kabur, tapi tengah berobat di rumah sakit di area Gatot Subroto. Mantan kuasa hukum Setya Novanto itu ditangkap ketika tengah melakukan medical check up.

“Tidak ada yang dicari seharian (oleh penyidik). Itu semau bohong. Saya mengimbau advokat di seluruh Indonesia agar memboikot KPK, karena ini sebuah pelecehan,” tutur dia.

Apalagi polisi sudah menyatakan bahwa peristiwa yang terjadi pada 16 November 2017 di area Permata Hijau murni sebuah kecelakaan. Padahal, yang menyimpulkan adalah polda metro jaya yang nota bene merupakan bawahan dari Kapolri Jenderal (Pol) Tito Karnavian.

“Kalau memang dia meragukan (apakah kecelakaan itu benar terjadi atau rekayasa), mengapa KPK tidak memeriksa Kapolri? Kalau tidak percaya, ya salahkan Kapolri dong,” katanya.

Fredrich dicari dan ditangkap penyidik lembaga anti rasuah pada Jumat malam pekan lalu. KPK mengaku telah memiliki bukti yang kuat bahwa pengacara berusia 62 tahun itu telah melakukan pemesanan RS Medika Permata Hijau sebelum Setya mengalami kecelakaan pada pertengahan November 2017.

Polisi: Robohnya lantai Bursa Efek Indonesia bukan disebabkan ledakan bom

Kepala Divisi Mabes Polri, Irjen (Pol) Setyo Wasisto menegaskan penyebab robohnya lantai mezanin di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) bukan disebabkan bom atau bahan peledak. Polisi hingga saat ini masih menelusuri lebih lanjut mengapa lantai mezanin bisa roboh.

"Lantai itu roboh sekitar pukul 12:20 WIB dan kami sangat menyayangkan kejadian tersebut. Ada korban dan sudah dirawat di beberapa rumah sakit," ujar Setyo kepada media.

Polisi juga masih menghitung berapa jumlah korban. Nantinya akan dirilis.

"Korban dibawa ke tiga rumah sakit yaitu RS Siloam, RSAL Mintoharjo dan RS Pertaminan," tutur dia.

Pengelola gedung diketahui adalah Farida Riyadi.

- Rappler.com

X

Ayo langganan Indonesia wRap