LINI MASA: Mengapa jumlah pelaku bom Sarinah berubah-ubah?

Santi Dewi
Berubah-berubahnya jumlah terduga pelaku memicu spekulasi bahwa tak semua teroris yang terlibat dalam serangan teror Sarinah telah tewas di tempat

TEWAS. Polisi forensik sedang menutup jenazah korban yang tewas dalam serangan bom Sarinah, Jakarta, pada Kamis, 14 Januari lalu. Foto oleh Roni Bintang/EPA

JAKARTA, Indonesia — Polda Metro Jaya mengungkapkan bahwa dari tujuh korban meninggal dunia akibat serangan teror di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat, Kamis, 14 Januari, empat di antaranya diduga sebagai pelaku serangan.

Jumlah ini menurun dari yang disampaikan pihak Polda Metro sebelumnya, yaitu lima orang.

Menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes MIqbal, hal ini karena Sugito yang awalnya diduga sebagai pelaku, telah dipastikan ternyata merupakan warga biasa.

“Untuk Sugito kenapa kita sampaikan terduga pelaku, yang bersangkutan pada saat saksi mata melihat dan ada juga rekaman CCTV, Sugito dan Dian (korban meninggal dunia yang menjadi terduga pelaku) berjalan berbarengan,” kata Iqbal kepada Rappler, Minggu, 17 Januari.

“Kemarin tim sudah bekerja. Ternyata kita sudah pastikan Sugito ini adalah warga sipil. Korban karena tidak ada kaitannya. Kita sudah analisa, selidiki, wawancara. Kesimpulan kita sekarang terduga pelaku yang meninggal ada empat orang,” ujarnya.

Iqbal lebih jauh menjelaskan bahwa nama Sugito secara kebetulan sama dengan nama seorang terduga anggota jaringan teroris yang sedang dicari oleh kepolisian. Ini juga menjadi penyebab mengapa pada awalnya ia ditetapkan sebagai terduga pelaku. 

“Ternyata kebetulan namanya saja yang sama,” ujar Iqbal. 

Sebelumnya sejumlah pejabat dan institusi yang berwenang juga telah menyampaikan keterangan tentang berapa sesungguhnya teroris yang terlibat dalam serangan teror Sarinah. Dari lima menjadi enam lalu kembali lima dan kini empat, berikut kronologinya: 

Kamis, 14 Januari

Beberapa jam setelah kejadian, Menteri Koordinator Politik, Hukum, Keamanan (Menkopolhukam) Luhut Panjaitan menyatakan lima orang teroris telah mati dalam baku tembak dengan pihak kepolisian.

Tak berselang lama, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Krishna Murti yang turun langsung memimpin pasukannya saat kejadian menyampaikan bahwa terdapat enam teroris yang tewas di tempat.

(BACA: Daftar nama korban dan pelaku serangan teror Bom Sarinah)

Jumat, 15 Januari 

Rilis Polda Metro Jaya juga kemudian menyebut bahwa pelaku serangan berjumlah enam orang, konsisten dengan yang disampaikan Krishna.

Dalam pernyataannya, Polda Metro menyebut ada enam orang memakai ransel ingin masuk ke dalam Gedung Sarinah, namun dicegah oleh petugas gedung karena diduga membawa bom.

Keenam orang tersebut dibawa ke pos polisi lalu lintas di lampu merah perempatan Sarinah.

Tiga dari mereka langsung meledakkan diri di pos polisi tersebut. Sisanya kabur menuju ke dalam kedai kopi Starbucks di Menara Cakrawala, yang berseberangan dengan Gedung Sarinah.

Setelah tiba di depan Starbucks satu orang meledakkan diri, sedangkan yang lainnya menodong pengunjung kafe dengan senjata.

Selengkapnya bisa dibaca di sini

Sabtu, 16 Januari

Pada Sabtu 16 Januari, Iqbal justru membantah keterangan tersebut.

Ia bersikeras hanya ada lima teroris di tempat kejadian. Empat di antara pelaku tewas dalam baku tembak dengan polisi, sedangkan satu sisanya meninggal karena meledakkan diri sendiri dengan bom.

“Tidak ada pelaku selain lima orang yang meninggal dunia,” kata Iqbal.

Minggu, 17 Januari

Setelah Sugito berdasarkan keterangan Polda Metro dipastikan bukan terduga pelaku, jumlah terduga pelaku yang tewas saat kejadian menjadi empat orang.

Simpang siurnya jumlah pelaku menimbulkan spekulasi bahwa terdapat pelaku yang tak meninggal saat kejadian dan berhasil melarikan diri. 

Terlebih, AKBP Untung Sangaji—polisi berbaju putih yang terlihat di tayangan CCTV terlibat baku tembak dengan pelaku—menyatakan bahwa ada dua orang teroris yang berhasil melarikan diri.

Untung dan rekannya, Ipda Tamat, melihat dua orang tersebut naik motor bebek melarikan diri ke arah Tanah Abang. Kedua polisi tersebut merupakan anggota tim Detasemen Khusus (Densus) 88 yang kebetulan sedang berada dekat dengan lokasi teror. 

Kepada Rappler, Iqbal membantah spekulasi ini. “Tidak ada (pelaku yang melarikan diri), saya sudah bantah itu,” katanya. —Rappler.com  

BACA JUGA: