Pelaku penyerangan Mapolres Banyumas merupakan anak pensiunan TNI

Walaupun pernah dibesarkan di lingkungan TNI, Ibnu diduga terpengaruh paham radikal dan kini mendukung paham ISIS.

MENGGREBEK. Personek kepolisian dari Mapolres Banyumas tengah menggrebek kediaman Ibnu Dar, pelaku penyerangan ke kantor Mapolres pada Selasa, 11 April. Foto oleh Irma Muflikhah/Rappler

BANYUMAS, Indonesia – Polisi terus menyelidiki penyerangan terhadap kantor Mapolres Banyumas yang terjadi pada Selasa, 11 April. Pelaku berhasil diketahui bernama Ibnu Dar, warga Desa Karangaren, Kutasari Purbalingga.

Ketika beraksi, Ibnu menyeruduk seorang anggota polisi bernama Aipda Ata Suparta. Lalu, dia juga menyerang dua personel polisi lainnya dengan menggunakan parang.

Pasca kejadian itu, polisi kemudian melakukan penggeledahan di rumah Ibnu. Polisi mengerahkan empat mobil termasuk mobil ambulance.

Operasi itu dipimpin langsung oleh Kapolres Banyumas AKBP Azis Ardiansyah. Demi keamanan, polisi memarkir kendaraan agak jauh dari rumah sasaran. Mereka kemudian berjalan kaki sekitar 200 meter menuju sebuah rumah bercat hijau.

Beberapa polisi kemudian mendobrak pintu depan sambil mengarahkan senapa ke dalam. Namun, rumah tersebut ternyata kosong.

Dari rumah Ibnu, polisi menyita beberapa barang bukti. Total yang disita sebanyak 38 item, termasuk di dalamnya kain hitam dengan lambang ISIS dan beberapa buki agama.

“Kami juga menemukan panci yang telah dipasangi rangkaian kabel, komputer, trafo dan plastik pijara,” ujar Kasatreskrim Polres Banyumas, AKP Djunaedi pada media pada Selasa, 11 April.

Polisi juga menemukan beberapa foto yang menyerupai aktivitas pelatihan militer dengan latar belakang hutan. Satu di antara tiga orang yang diabadikan di dalam foto adalah Ibnu. Selama proses penyelidikan, rumah Ibnu disegel polisi dan warga dilarang mendekat.

Kapolres Banyumas, AKBP Azis Andriansyah mengatakan pihaknya telah meminta keterangan dari Ibnu. Namun, dia lebih banyak diam. Kalaupun ada kata yang keluar dari mulutnya hanya “thagut”.

Azis tidak menampik jika ada indikasi Ibnu terkait dengan jaringan kelompok radikal. Hal itu diperkuar dengan barang bukti yang berhasil diamankan.

“Dia pakai ikat kepala bertuliskan mirip lambang ISIS ketika menyerang Mapolres,” kata Azis.

Mendukung paham ISIS

DISERANG. Suasana Mapolres Banyumas usai diserang oleh Ibnu Dar pada Selasa, 11 April. Ibnu menyeruduk personel polisi dengan sepeda motor, lalu melukai dua polisi lainnya dengan parang. Foto oleh Irma Muflikhah/Rappler

Menurut salah satu warga yang tinggal dekat rumah Ibnu, Muhlani, pelaku serangan teror merupakan seorang buruh pabrik kayu di Purbalingga. Dia dibesarkan di lingkungan keluarga militer, karena ayahnya adalah pensiunan TNI.

“Kakaknya mengikuti jejak sang ayah dan saat ini sedang dinas di luar kota sebagai prajurit TNI,” ujar Muhlani.

Sementara, ayahnya memilih tinggal di Jakarta bersama kakak Ibnu.

“Ibunya sudah meninggal. Ayahnya sempat nyalon lurah di sini tapi kalah. Setelah itu, dia memilih menetap di Jakarta bersama anaknya,” kata dia lagi.

Praktis, Ibnu tinggal seorang diri di rumah tersebut. Warga sekitar menduga Ibnu sudah diracuni paham radikal. Tapi tidak jelas dari mana dia terpengaruh.

Warga lainnya, Mualif mengaku pernah dibuat geram oleh sikap Ibnu. Tempo hari dia pernah membakar spanduk berisi ucapan “selamat datang” bagi para peziarah di makam leluhur di desa itu.

Warga akhirnya mengetahui bahwa dalang pembakaran spanduk adalah Ibnu. Hal itu terungkap karena ada sebuah surat yang ditinggalkan Ibnu di lokasi dekat makam.

“Surat itu isinya, Ibnu bertanggung jawab atas penurunan dan pembakaran spanduk tersebut,” kata Mualif.

Beberapa warga kemudian mengklarifikasi isi surat tersebut langsung ke Ibnu. Kepada warga, Ibnu mengaku telah memusnahkan spanduk itu, karena aktivitas peziarah di makam tersebut tidak diperkenankan sesuai ajaran agama yang dianutnya.

“Menurut dia, hal itu semacam bidah,” tutur dia.

Bahkan, kepada warga, Ibnu mengaku mendukung paham yang dianut oleh kelompok ekstrimis Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Warga pun terkejut mendengar pernyataan Ibnu itu lantaran dia dibesarkan di lingkungan keluarga TNI.

“Dia bilang tidak takut terhadap hukum negara. Dia hanya percata kepada hukum Tuhan,” katanya.

Penyerangan ke kantor Mapolres Banyumas menjadi aksi teror lainnya yang kini tengah dialamatkan oleh kelompok ekstrimis. Kini, mereka menyasar personel kepolisian yang gencar memberantas pergerakan kelompok radikal.

Terbaru, pada akhir pekan kemarin, anggota satlantas Tuban sempat diserang oleh enam orang terduga teroris ketika tengah mengatur lalu lintas. – Rappler.com