Jokowi: Hapus persepsi Islam adalah musuh bagi Amerika Serikat

Rappler.com
Presiden Jokowi juga mengajak umat Islam di seluruh dunia untuk bersatu agar bisa berhasil memberantas terorisme.

BERTEMU RAJA SALMAN. Presiden Joko "Jokowi" disambut Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz ketika tiba di Conference Hall King Abdulaziz Convention Center pada Minggu, 21 Mei. Foto diambil dari akun @setkabgoid

JAKARTA, Indonesia – Presiden Joko “Jokowi” Widodo pada Minggu malam, 21 Mei mengajak puluhan pemimpin negara dan masyarakat untuk berhenti melihat Islam sebagai musuh, khususnya dalam konteks pemberantasan tindak terorisme. Sebab, ancaman radikalisme dan terorisme bisa terjadi di mana-mana, bahkan di negara yang penduduknya mayoritas Islam seperti di Indonesia.

“Indonesia adalah salah satu korban aksi terorisme seperti serangan di Bali yang terjadi pada tahun 2002 dan 2005. Lalu, ada juga serangan di Jakarta yang terjadi pada Januari 2016,” ujar Jokowi di forum KTT Negara Arab-Amerika Serikat di Riyadh pada Minggu, 21 Mei.

Justru umat Islam sendiri, kata Jokowi, menjadi korban terbanyak akibat konflik, radikalisme dan terorisme. Pernyataan mantan Gubernur DKI itu seolah menyindir Presiden Amerika Serikat, Donald J. Trump yang ikut hadir dan mendengarkan penjelasannya. Selama kampanye dan saat dilantik, Trump kerap mengaitkan aksi terorisme dengan Islam.

Bahkan, pemerintahan yang dipimpin Trump sempat mengeluarkan larangan bagi warga dari tujuh negara yang mayoritas penduduknya Muslim untuk ke Negeri Paman Sam. Padahal, cara tersebut justru semakin menyuburkan paham radikal di dalam benak publik.

Dalam pengalaman Indonesia, pemerintah menggunakan dua pendekatan yaitu dengan cara keras dan lembut. Tetapi, Indonesia memilih mengutamakan pendekatan soft-power (lembut) melalui pendekatan agama dan budaya.

Metode lembut diwujudkan dengan program deradikalisasi. Contohnya, otoritas Indonesia melibatkan masyarakat, keluarga, organisasi masyarakat dan keluarga mantan terpidana terorisme yang sudah sadar. Sementara, untuk pendekatan agama, Indonesia menggandeng dua organisasi Islam terbesar yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) untuk menyebarkan pesan Islam yang damai dan toleran.

Empat saran

Di bagian akhir pidatonya, Jokowi menyampaikan empat saran kepada sekitar 49 pemimpin negara lainnya agar bisa mengatasi tindak terorisme. Pertama, umat Islam di seluruh dunia harus bersatu untuk meningkatkan ukuwah Islamiyah.

“Persatuan umat Islam merupakan kunci untuk keberhasilan memberantas terorisme. Jangan habiskan energi kita untuk saling bermusuhan,” kata dia.

Kedua, kerja sama pemberantasan radikalisme dan terorisme harus ditingkatkan termasuk, pertukaran informasi intelijen, pertukaran penanganan para pejuang asing (Foreign Terrorist Fighters) dan peningkatan kapasitas. Ketiga, untuk menyelesaikan permasalahan terorisme harus dicari ke akarnya. Salah satu caranya bisa dengan memberdayakan ekonomi secara inklusif.

Terakhir, Indonesia mengajak semua negara untuk menjadi bagian dari solusi dan bukan permasalahan.

“Setiap dari kita harus dapat menjadi bagian upaya penciptaan perdamaian dunia,” kata Jokowi. – Rappler.com