Pelajaran dari teror di Manchester Arena

Uni Lubis
Usia pelaku teror makin muda, di rentang usia yang paling banyak akses internet. BNPT menggelar pelatihan duta damai, termasuk fasilitasi pembentukan situs-situs damai.

Polisi terlihat diluar Manchester Arena di utara Inggris dimana penyanyi Amerika Serikat Ariana Grande tampil di Manchester, Inggris, Senin, (22/5). ANTARA FOTO/REUTERS/Jon Super/cfo/17

JAKARTA, Indonesia — Delegasi Pemerintah Indonesia yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Wiranto, tengah berada di Moskow, Rusia, ketika serangan teror paling mematikan dalam 12 tahun terakhir, terjadi di di Inggris.  

Sebuah ledakan terjadi di ujung konser penyanyi Ariana Grande di Manchester Arena, Selasa, 23 Mei 2017. Sedikitnya 22 orang tewas, mayoritas usia remaja, penggemar Ariana Grande.

Delegasi Indonesia melibatkan lintas instansi, termasuk Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komisaris Jenderal Polisi  Suhardi Alius. Mereka melakukan pertemuan dengan Dewan Keamanan Rusia, dengan agenda utama kerjasama anti-terorisme.  

Dibahas juga kerjasama penanganan kejahatan modern lintas negara seperti narkoba, siber dan pencucian uang. “Teror di Manchester benar-benar mengagetkan, dan membuat kami siaga. Kita tidak bisa underestimate,” kata Suhardi Alius kepada Rappler, melalui pesan pendek, Rabu dini hari, 24 Mei 2017.

Menurut Alius, pemerintah secara seksama memonitor dinamika terorisme global dan regional. Termasuk perkembangan terkini di Kota Marawi, Filipina Selatan. Selasa 23 Mei 2017, ketika terjadi kontak senjata antara aparat Kepolisian Filipina dengan kelompok bersenjata yang disebut Grup Maute. Situasi mencekam.  

Presiden Rodrigo Duterte yang tengah berada di Moskow untuk kunjungan bilateral, memberlakukan hukum darurat untuk kepulauan Mindanao dan mempercepat jadwal kembali ke negerinya.

(BACA : Linimasa Serangan Teror di Penjuru Dunia)

Selasa malam waktu setempat, Polisi Manchester mengumumkan nama Salman Abedi, usia 22 tahun. Menurut data polisi, Salman adalah pelaku bom bunuh diri itu, belum lama ini melakukan perjalanan ke Libya, negeri asal kedua orang tuanya. Polisi tengah menyelidiki kaitan Salmen Abedi dengan Al-Qaeda dan Negara Islam Irak Suriah (ISIS), keduanya organisasi teroris. 

“Lagi-lagi, kita melihat usia pelaku yang makin muda. Kisaran usia yang menjadi target brain washing untuk generasi muda yang mudah dipengaruhi, labil, karena masih dalam proses mencari jati diri,” kata Alius.  Fenomena ini terjadi juga di Indonesia. Data BNPT menunjukkan bahwa usia pelaku teror semakin belia.

Serangan teror di konser Ariana Grande di Manchester Arena, adalah serangan anak muda ke anak muda pula. Dari data serangan yang terjadi di kawasan Eropa, kebanyakan terjadi di tempat hiburan yang digandrungi anak muda.

BNPT belakangan gencar mengajak warganet untuk ikut menangkal paham radikal yang beredar di media sosial dan bisa memicu tindakan teror. Pemerintah menganggap penting menangkal paham radikal yang tersebar luas di media sosial

Suhardi Alius mengutip data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia pada tahun 2016. Ada 132,7 juta pengguna, yang ini sekitar 51, 5 persen dari jumlah penduduk Indonesia yang ditaksir sebanyak 256,2 juta. 

Dari jumlah itu, pengguna terbanyak adalah generasi muda (usia 17-34 tahun) sebanyak  56,7 juta atau 42,8 persen. Pengguna usia 35-44 tahun sebanyak 29,2 peren. Paling sedikit adalah pengguna usia 55 tahun ke atas, yaitu 10 persen. Pengguna internet paling banyak mengguakan perangkat gawai (telepon seluler), sebanyak 63,1 juta atau sekitar 47,6 persen.

Besarnya persentase pengguna internet oleh kalangan muda sebenarnya berdampak positif. Generasi muda yang melek digital diharapkan lebih banyak melahirkan inovasi dan lebih kreatif.  “Masalahnya, ada bahaya mengancam karena di ramah internet pula banyak bertebaran konten negatif,” kata Alius.

Data Kementrian Komunikasi dan Informasi menyebutkan ada 814.594 situs internet yang bermuatan negatif termasuk memuat konten radikalisme telah diblokir dalam kurun waktu 2010 –  2015.  “Bahkan pada tahun 2016, menkominfo telah memblok 773 situs.  Artinya jumlah yang diblokir tahun lalu jumlahnya hampir sama dengan jumlah selama lima tahun sebelumnya,” ujar Alius.

Dua orang pelaku bom di Gereja Oikumene Samarinda masih berusia remaja, yakni berusia 16 dan 17 tahun. Peran mereka sangat penting, sebagai pembuat bom. Data narapidana kasus terorisme yang menjadi sasaran program deradikalisasi BNPT per Februari 2017 memperlihatkan bahwa lebih dari 52 persen napi terorisme yang menghuni Lembaga Pemasyarakatan adalah generasi muda (usia 17 – 34 tahun).

(BACA : Lima Alasan Menjadi Teroris)

Fakta-fakta kian belianya pelaku teror membuat BNPT membuat program khusus yang melibatkan warganet. “Kami sudah mengumpulkan  sekitar 600 warganet, termasuk blogger, pembuat desain komunikasi visual hingga ahli Teknologi Informasi,” kata Alius.  

Bulan April, BNPT melakukan pelatihan Duta Damai di Bandung, Jawa Barat. “Tidak ada ruang untuk sembunyi dari terorisme.  Jadi pillihannya adalah fight, baik melalui dunia maya maupun dunia nyata,” kata Alius.

Pelatihan di Bandung menghasilkan lima situs yang bertujuan menyebarluaskan konten yang damai dan anti radikalisme.  Kelimanya adalah www.aku.dutadamai.id, www.bhinneka.dutadamai.id, www.saung.dutadamai.id, www.hanjuang.dutadamai.id.  

Kelima situs itu akan bersinergi dengan situs-situs damai yang dikembangkan BNPT sebelumnya, termasuk Pusat Media Damai.  Tahun 2016, pelatihan digelar di empat kota. Tahun 2017, BNPT berencana menggelar di tujuh kota.

Survei yang digelar The Wahid Institute  menemukan tendensi menguatnya potensi intoleransi sosial keagamaan. Jika dibiarkan, hal ini bisa merujuk kepada aksi radikalisme dengan kekerasan atas nama agama. 

Proyeksi statistik survei memperkirakan ada 600 ribu jiwa pernah melakukan aksi radikalisme atas nama agama. Sekitar 11 juta jiwa berpotensi melakukan radikalisme atas nama agama bila ada kesempatan. Lagi-lagi, ini melibatkan anak muda. – Rappler.com.