Bandung Command Center, langkah menuju Smart City

Yuli Saputra
Jangan kaget jika ada teguran yang keluar dari pengeras suara, saat anda parkir sembarangan. Puluhan "mata" dari Bandung Command Center mengawasi seluruh penjuru Kota Bandung.

Bandung Command Center menjadi pusat kendali Kota Bandung, didukung dengan GPS Tracking dan CCTV di berbagai tempat. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

BANDUNG, Indonesia — Tidak bohong jika dikatakan masuk ke ruangan itu seperti melompat ke suasana futuristic atau seperti memasuki kabin pesawat luar angkasa yang canggih. Di ruangan yang dindingnya melengkung itu terpasang 84 layar datar. Di layar-layar itu terpampang situasi lalu lintas di sejumlah titik di Kota Bandung.

Selain melengkung, dindingnya pun bertekstur unik, berbentuk kepingan segi 6, mirip motif yang tercetak pada sarang tawon. Layaknya pesawat canggih, terdapat panel dengan tiga layar monitor. Kursi-kursinya pun bergaya modern a la film Star Trek. Tak ketinggalan seragam para pekerjanya pun meniru kostum tokoh dalam film science fiction yang popular hingga kini itu. 

Ruangan canggih itu bernama Bandung Command Center (BCC) yang berlokasi di area Balaikota Bandung, Jalan Wastu Kencana. Di sinilah pusat kendali Kota Bandung yang didukung dengan berbagai fasilitas seperti Global Positioning System (GPS) Tracking dan Closed Circuit Television (CCTV) yang dipasang di daerah rawan pelanggaran lalu lintas, kriminalitas dan bencana.

Butuh 4.000 CCTV yang analitik. Kalau ada yang angkat tangan, lompat-lompat, atau gerakan yang dianggap membahayakan langsung terekam. Ini yang mahal. Bandung baru punya 100 dari empat ribu CCTV yang dibutuhkan,” kata Walikota Bandung Ridwan Kamil, Selasa, 21 April 2015 lalu.

Selain CCTV, ada 50 GPS Tracking yang dipasang di mobil pemadam kebakaran, ambulans, bus sekolah, Trans Metro Bandung, dan mobil pengangkut sampah.

Ide desain BCC datang dari Ridwan Kamil yang memang berprofesi sebagai arsitek. Ruangan oval itu terdiri dari dua lantai. Lantai atas merupakan ruang rapat para pengambil keputusan di Kota Bandung.

Sambil memantau kondisi di lapangan melalui layar monitor, pimpinan Kota Bandung juga bisa mengakses data di BCC yang juga difungsikan sebagai bank data Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kota Bandung.

“Saya, pak wakil (walikota), sekda sering rapatnya di sini karena butuh mengonsumsi informasi. Aya naon sih (Ada apa sih), masalahna kumaha (masalahnya bagaimana) dan sebagainya. Setelah informasi didapat kita proses, lalu kita ambil keputusan. Jadi ini kayak pusat data untuk mengambil keputusan,” ujar Emil, sapaan akrab walikota.

Menurut Emil, BCC ini berstandar internasional yang mengadopsi command center di Jepang dan Korea Selatan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pelayanan publik.

“Kita memulai cara baru untuk memberikan pelayanan publik yang lebih baik. Nah, dengan adanya command center ini, kita menggunakan teknologi untuk  mengetahui permasalahan dan informasi dengan lebih cepat, kemudian mengambil keputusan lebih cepat sehingga warga bisa terlayani dengan baik,” jelasnya.

Kecanggihan Bandung Command Center

Bandung Command Center. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

Pemantauan puluhan CCTV canggih di BCC didukung oleh sistem yang disebut Intelligent Operations Center (IOC), yang memudahkan operator dalam mengawasi kondisi kota.

“IOC ini sebuah system yang secara otomatis akan melihat notifikasi secara otomatis apabila terjadi pelanggaran. Misalnya ada PKL (pedagang kaki lima) di daerah terlarang bisa ternotifikasi secara otomatis, hingga bisa diketahui oleh operator tanpa melototi terus CCTV.  Jadi  di layar ada tulisan berwarna merah ‘Ada PKL’.  Jadi ada alertisasi sendiri yang bisa kita rancang sedemikian rupa,” kata Kepala Bidang Telematika Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bandung Sri Dhiandini.

Setelah muncul notifikasi, kata Dhini, SKPD terkait akan menindaklanjuti untuk menyelesaikan masalah yang terjadi.  Sistem itu juga didukung dengan GPS Tracking yang dipasang di mobil-mobil operasional Pemerintah Kota Bandung.

“Jadi bisa terlihat di sini, apakah mereka sudah bergerak ke lokasi, kapan mereka bergerak, apakah dari laporan itu terlalu lama atau tidak. Nanti bisa dilihat track record mereka untuk menangani (masalah) seperti apa. Sehingga dampak ke masyarakat dari adanya command center ini penindakannya bisa lebih cepat,” papar Dhini.

Lebih lanjut Dhini menjelaskan, software GPS Tracking sudah dirancang sedemikian rupa sehingga bisa diakses oleh anak sekolah dan masyarakat. Dengan software itu, masyarakat bisa mengetahui pergerakan bus dari halte ke halte. 

“Jadi bisa diketahui bus akan tiba berapa menit lagi sehingga masyarakat bisa memutuskan apakah ditunggu atau ganti kendaraan lain,” katanya.

BCC ini dikelola oleh 15 operator yang dipilih melalui seleksi. Pegawai di SKPD terkait juga ikut memantau kondisi kota seperti anggota kepolisian, petugas pemadam kebakaran dan dinas perhubungan.

Salah satu operator,  Dini Chrismulyani menjelaskan tugasnya sebagai operator adalah memantau situasi dan kondisi di  Kota Bandung, tidak hanya melalui CCTV tapi juga social media. Apalagi di era smartphone ini, masyarakat sudah terbiasa melaporkan setiap kejadian yang dialami atau ditemui setiap harinya.

“Tanpa mention twitter BCC, kita bisa tahu apa saja kejadian dan keluhan yang dialami warga. Kita juga bisa melihat keluhan apa yang paling banyak di setiap kecamatan,” kata perempuan berusia 23 tahun itu.

Dini, lulusan perguruan tinggi jurusan informatika, menerangkan BCC sudah didukung sistem yang canggih.  Ada sistem intelligent video analitic yang otomatis merekam kejadian pelanggaran atau bencana. Ini membantu tugasnya yang setiap hari menerima puluhan ribu kejadian.

Di BCC juga sudah terpasang panic button, yang nantinya bisa digunakan masyarakat jika mengalami kejadian darurat seperti tindak kriminal atau kecelakaan.

“Ke depannya, masyarakat bisa mengaktifkan software panic button ini, namanya Xigentsos, namun software itu baru untuk android  dan iphone saja,” katanya.

Untuk mengaktifkan software tersebut, kata Dini, masyarakat harus install dan melakukan registrasi dengan mencantumkan data diri termasuk nomor telepon darurat yang bisa dihubungi.

“Jadi kalau mengalami kejadian darurat, masyarakat  bisa menekan layar HP-nya dengan jumlah tertentu, nanti langsung tersambung ke sini (BCC) dan juga nomor darurat yang tercantum. Ini akan otomatis menyalakan alarm di BCC. Handphone yang terdaftar sebagai nomor darurat juga akan berbunyi. Makanya jangan dimainin, hanya untuk darurat,” pesan Dini yang baru bekerja selama dua bulan ini.

Menuju Smart City

Walikota Bandung Ridwan Kamil. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

Bandung Command Center adalah langkah Ridwan Kamil untuk mewujudkan smart city di kotanya. Fasilitas ini baru pertama kali ada di Indonesia. Di Bandung, lulusan ITB ini menargetkan command center ada di setiap kecamatan pada tahun ini.

“Tahun ini ada command center di kecamatan. Nah, itu inovasinya. Tapi ruangannya kecil saja.  Camat-camat bisa memantau di layar minimal 4-6 unit, kemudian mengkoneksinya ke CCTV yang ada di wilayahnya sehingga  membuat keputusan jadi cepat. Inilah konsep desentralisasi dalam smart city,” ujar Emil.

Bandung Command Center ini merupakan tahap pertama menuju smart city. Masih ada dua tahap lainnya yang akan dilakukan Walikota Bandung. 

“Kami menargetkan ada tiga tahap. Tahap satu itu yang dasar dulu, masalah lalu lintas dan yang dulu. Tahap dua, SKPD harus punya sistem smart city juga yang canggih. sampai nanti tahap tiga yang final. Harapannya di akhir 2016,  di Bandung sudah sempurna secara teknologi,” katanya. 

Emil membayangkan nantinya masyarakat bisa mengakses layanan publik cukup melalui telepon selular tidak perlu datang ke tempat pengaduan masyarakat. Pihaknya menargetkan ada 150 aplikasi yang dibuat di tahun ini.

“Kita targetkan tahun ini ada 150 aplikasi. Setengahnya untuk manajemen internal kita, setengahnya untuk masyarakat. Jadi masyarakat bisa mengaksesnya. Kalau mau  ngelapor, pakai sistem lapor itu cukup nge-tweet, nanti  ada mesin pembacanya,” papar Emil.

Menurut Emil, teknologi memegang peranan penting dalam mewujudkan kota cerdas.

“Saya percaya bahwa teknologi dapat membantu kita semua untuk membangun  pemerintahan yang lebih baik. Teknologi dapat membantu pemerintah untuk berinteraksi dengan masyarakatnya tanpa batas. Teknologi juga dapat membantu pemerintah untuk mengontrol jalannya birokrasi,” kata Emil.

Negara-negara berkembang, lanjut Emil,  melakukan investasi besar-besaran pada bidang research and development sehingga Bandung mulai melakukan investasi serius pada bidang pengembangan teknologi.

Ia mengatakan, Bandung menerima investasi sebesar 100 juta USD untuk pengembangan teknologi karena dinilai memiliki world class engineer, biaya hidup yang rendah, dan cuaca yang nyaman. Bandung juga memiliki industri strategis dan kebudayaan yang  berkembang.  

“Dengan mengkombinasikan seluruh aspek tersebut, Bandung siap menjadi smart city,” ujar Emil. 

Saat digelar Asia Africa Smart City Summit pada 22-23 April 2015 lalu, Walikota mempromosikan Bandung Command Center sebagai langkah menuju kota cerdas di hadapan 446 peserta, 25 walikota dari 2 benua dan partisipan yang datang dari 69 kota dari 36 negara di Asia Afrika. Walikota Bogor, Bima Arya yang hadir saat acara mengapresiasi keberadaan Bandung Command Center.

Saya terinspirasi dengan adanya Bandung Command Center. Semoga menjadi inspirasi yang terus menular sehingga bisa meningkatkan kualitas pelayanan public,” katanya. — Rappler.com