672 pengungsi Bangladesh dan Rohingya kembali ditemukan nelayan Aceh

Nurdin Hasan
100 pengungsi diduga ditembak mati oleh kapten kapal yang menyelundupkan mereka, karena meminta makan.

Salah satu pengungsi anak-anak Bangladesh-Myanmar menangis karena kelaparan di Kuala Langsa, Aceh, 15 Mei 2015. Foto oleh EPA

KUALA LANGSA, Indonesia — Enam ratus tujuh puluh dua manusia perahu asal Bangladesh dan Myanmar kembali ditemukan terombang-ambing oleh nelayan di tengah laut, tepatnya 20 mil dari Pantai Kuala Langsa, Kota Langsa Aceh.

Menurut Kepala Polisi Resor Kota Langsa AKBP Sunarya, mereka terdiri dari 422 warga Bangladesh dan 250 warga Myanmar etnis Rohingya. Di antara mereka, terdapat 58 perempuan dan 51 anak-anak.  

Saat itu, nelayan Langsa sedang memancing dan mendapati para pengungsi ini berenang di lautan.

“Mereka ditemukan ketika berada di dalam laut, bukan di dalam kapal,” kata Sunarya pada Rappler, Jumat, 15 Mei.

Nelayan yang sedang memancing pun segera memanggil kawanannya, 6 perahu langsung merapat. Perahu-perahu nelayan ini pun langsung mengevakuasi para pengungsi ke Pantai Kuala Langsa.

Dicegat Angkatan Laut Indonesia dan Malaysia

Lalu bagaimana mereka bisa terombang-ambing dalam laut? Menurut salah satu pengungsi Rohingya, Sahidul Islam, 17 tahun, awalnya mereka ikut kapal perahu yang dinahkodai oleh kapten asal Thailand.

Setelah mendekati daratan yang mereka percaya sebagai wilayah Malaysia, kapten tiba-tiba pamit menggunakan speed boat.

“Kapten kapal itu bilang bahwa sebentar lagi kami akan tiba di Malaysia,” kata Sahidul.

Ia sumringah karena dapat melihat bayang-bayang pohon dari jauh.

Setelah kapten pergi, sebuah kapal milik angkatan laut Indonesia datang menghampiri mereka. Awak kapal kemudian memberikan makanan dan minuman. “Kemudian kami disuruh pergi,” katanya.

“Kami pun tidak bisa melihat lagi pohon-pohon itu lagi,” katanya.

Sahidul dan rombongan pengungsi makin resah ketika tiba-tiba mesin kapal mati. Mereka terapung-apung selama dua hari di laut tanpa kejelasan.

Tiga hari kemudian, sebuah kapal milik angkatan laut Malaysia tiba-tiba mendekat. Sama seperti kapal milik angkatan laut Indonesia sebelumnya, awak kapal milik pemerintah Malaysia ini juga memberikan bantuan makanan dan minuman.

Lalu perahu mereka ditarik ke tengah laut oleh angkatan laut Malaysia. “Kami dilepas di tengah laut, dekat perairan Indonesia,” kata Sahidul.  

Berkelahi di tengah laut

Pengungsi Rohingya asal Myanmar saat terombang-ambing di Pulau Andaman, Malaysia, 14 Mei 2015. Foto oleh EPA.

Ketika berada di tengah laut, pengungsi perempuan dan anak-anak mulai menangis karena mesin kapal mati, dan air mulai masuk ke perahu.

Di tengah kepanikan itu, pengungsi asal Bangladesh ingin mengambil makanan warga Rohingya. Mereka lapar karena sudah dua bulan terombang-ambing di laut dan stok makanan menipis.

Warga Rohingya menolak dan terjadilah perkelahian. Warga Bangladesh mulai memukuli warga Rohingya menggunakan kayu, parang, pisau, bahkan besi yang ada di kapal.

Karena jumlah warga Bangladesh lebih banyak, maka warga Rohingya memilih lompat ke laut untuk menyelamatkan nyawa mereka. Beberapa perempuan dan anak-anak juga lompat ke laut karena dipukul.

“Beberapa dari kami juga dilempar ke laut oleh warga Bangladesh,” katanya. Sahidul sendiri terombang-ambing di laut selama 6 jam.

100 orang lebih diduga ditembak mati penyelundup  

Sahidul juga mengungkap, selain ada yang mati kelaparan, juga ada yang ditembak mati kapten dan anak buahnya. Meski jumlah ini belum terkonfirmasi, tapi Sahidul menuturkan kejadian tersebut pada Rappler.

Mengapa mereka ditembak? “Karena meminta makanan,” katanya. Kapten dan awaknya tak pandang bulu. Siapa saja di antara mereka yang meminta makanan, baik itu pengungsi dari Bangladesh maupun Myanmar, langsung saja ditembak.

Berdasar pantauan Rappler di lapangan, beberapa pengungsi memang sedang mencari anggota keluarganya. Sejumlah orang tak ketemu atau hilang, mereka diduga meninggal dalam perjalanan atau ditembak mati sang kapten.

Ditempatkan di gedung terpisah

Seorang ibu dan anaknya di kamp pengungsi Bangladesh-Myanmar di Kuala Langsa, Aceh. Foto oleh EPA.

Setelah insiden perkelahian di laut, pengungsi dari dua negara yang berbeda ditempatkan di gudang yang terpisah di Pelabuhan Kuala Langsa.

Sementara itu 20 orang pengungsi lainnya dirawat, sebagian ada yang diinfus, ada juga yang luka-luka. —Rappler.com