Mari bicara bulan puasa, bir, dan keimanan

Bulan puasa sebentar lagi datang. Seperti kebanyakan umat Muslim, saya sudah tidak sabar untuk menyambut suasana Ramadhan yang tenang, acara-acara keagamaan di mana-mana, hingga ajakan berbuka bersama yang datang dari orang-orang yang sebenarnya bertemu juga hanya setahun sekali.

Tapi, ada satu hal yang selalu mengganggu saya setiap bulan puasa datang: Mereka yang sok agamis dan kerap merazia restoran yang buka di bulan puasa dengan alasan "menghormati yang berpuasa".

Lho, memangnya yang tidak berpuasa —orang non-Muslim, perempuan yang sedang haid, dan anak-anak— tidak pantas dihormati?

Namun, bagi saya ada yang lebih penting dan fundamental daripada pertanyaan tadi: Selemah itukah iman kita hingga restoran yang buka saja bisa membuat kita ingin membatalkan puasa? Selemah itukah iman kita hingga salah satu perintah utama Tuhan bisa dikalahkan oleh penampakan orang-orang yang makan siang?

Kalau iya, sepertinya ada yang salah dengan kita.

Beberapa hari yang lalu, saya menemukan sebuah post di Facebook yang menjawab pertanyaan itu.

Tentu saja, respon yang saya dapat di linimasa beragam, ada yang setuju, ada pula yang meminta saya berhati-hati karena hal ini berurusan dengan agama. Ada satu komentar yang menarik. “Ah ngapain percaya sama mbaknya. Dia aja blm bener, gak berhijab". Yakin deh, ada yang mencibir seperti itu.

Betul juga, mungkin kadar keagamaan saya belum cukup baik. Mungkin pendidikan saya selama dua belas tahun di sekolah Islam belum memadai. Tapi, bukankah bila orang seperti saya saja bisa mengajukan pertanyaan tadi, harusnya orang-orang yang mengaku sangat relijius merasa malu karena seakan-akan iman mereka sangat mudah goyah?

Saya di sini tidak akan cuap-cuap tentang iman. Saya bukan Mamah Dedeh. Saya juga tidak akan menentang peraturan pemerintah mengenai regulasi minuman keras, karena saya setuju regulasi yang lebih ketat diperlukan untuk menjaga keamanan. Lagipula, saya selalu risih jika harus ke 7-Eleven malam-malam dan harus melewati gerombolan pemuda mabuk yang nongkrong di pinggir jalan.

Yang saya tidak setujui adalah penggunaan alasan agama sebagai landasan berbuat seenaknya — merazia tanpa izin pihak berwenang, mengkafirkan orang lain yang berbeda, dan semacamnya.

Betul, "membantu" meminimalisir godaan itu penting dan berpahala, tapi bukankah juga ada ayat “Untukku agamaku dan untukmu agamamu” di Al-Qur’an?

“Semua hidup manusia itu tentang pilihan, dan semua pilihan itu ada konsekuensinya,” Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pernah berkata pada saya. Semua yang kita lakukan kembali ke pilihan masing-masing, bukan?

Aturan yang lebih ketat bukan berarti akan menghasilkan masyarakat yang lebih taat. Saya sudah cukup mengenyam pengalaman di institusi yang cukup ketat peraturannya, dan ternyata ancaman hukuman berat tidak bisa mencegah siapapun berlaku seenaknya. Yang ada mereka malah menjadi makin kreatif mencari celah. “Bukankah peraturan ada untuk dilanggar?” kata mereka.

Doktrin bukan pula jawabannya. Pendidikan agama harusnya diberikan secara personal dan penuh pengertian, bukan dengan ancaman-ancaman. Dan pada akhirnya, saya percaya kalau semua manusia mampu mengambil pilihannya masing-masing —termasuk apakah ia akan memilih teh botol atau bir ketika berada di supermarket.

Saya teringat dua tahun lalu saya diajak mengikuti kebaktian di salah satu gereja di Singapura oleh teman saya. Banyak dari jemaat bertanya pada saya: “Kenapa mau datang? Kamu tidak takut?” 

Saya hanya membalas dengan senyuman dan jawaban singkat, “Kenapa harus takut? Saya hanya ingin tahu, toh ikut kebaktian tidak akan mengganti keyakinan saya.”

Mereka puas dengan jawaban itu. Saya pun puas dengan pengalaman tersebut. Saya malah belajar banyak tentang keyakinan saya sendiri. Pengabdian anak-anak muda di gereja itu seakan-akan menampar saya yang shalat pun masih malas-malasan.

Pilihan hidup mereka telah berhasil memperkuat pilihan hidup saya. Bukankan harusnya ini juga berlaku bagi orang-orang lain?

Bukankah kita punya alasan di balik semua pilihan yang kita ambil? Bukankah pilihan yang diambil oleh orang lain bisa menjadi cerminan atas pilihan kita — entah memperkuat atau malah mempertanyakan pilihan tersebut? Bukankah manusia punya cukup akal sehat untuk menentukan apa yang baik atau buruk bagi dirinya?

Jadi, apakah kita masih perlu pemaksaan dalam mengambil pilihan? —Rappler.com