Arturo Vidal hengkang ke Bayern Muenchen dengan ongkos transfer sekitar EUR 37 juta atau setara Rp 541 miliar. Kepindahan ini membuat banyak pihak menganggap Bayern semakin perkasa. Musim depan, klub berjuluk Die Roten itu bakal semakin dominan.
General Manager Borussia Dortmund Hans-Joachim Watzke mengungkapkannya. “Vidal adalah kombinasi mentalitas petarung dan talenta sepak bola yang luar biasa,” kata Watzke seperti dikutip Sports Mole.
Kepindahan pemain Chile 28 tahun itu melengkapi kepergian sejumlah pemain kunci Juve. Sebelumnya, Andrea Pirlo memutuskan merantau ke Amerika Serikat untuk memperkuat New York City FC. Kemudian, striker utama La Vecchia Signora (julukan Juve) Carlos Tevez ingin pulang kampung ke Argentina.
Hilangnya trio pemain utama Juve itu tak hanya melemahkan Juve. Tapi bakal membuat identitas permainan klub berjuluk Bianconeriitu lenyap. Selama ini, sebagian besar suplai umpan kunci berasal dari jenderal lapangan tengah Andrea Pirlo. Vidal jadi deputinya.
Statistik berikut ini menjelaskan bahwa Pirlo dan Vidal adalah suplier umpan-umpan matang. Mereka adalah penghubung dari lapangan tengah menuju barisan para penyerang.

Tak hanya sekadar pemberi umpan, Pirlo juga adalah sang metronomeJuve. Dia yang mengendalikan alur permainan klub asal Turin tersebut.
Statistik di atas juga menunjukkan bahwa meski job description Tevez adalah striker, dia kerap turun langsung mengambil bola dari lapangan tengah. Karena itu, dia bisa diduetkan dengan striker mana saja yang dimiliki Juve, mulai dari Fernando Llorente hingga Alvaro Morata. Sebab, dia adalah tipe pemberi assist meski juga garang kalau sudah mendapat peluang.
Bukti dari kegarangan Tevez adalah koleksi golnya yang tertinggi di antara para striker Juve. Jumlahnya mencapai 20 gol atau hampir 30 persen total gol Juve di Serie A.
Jadi, bisa dibayangkan jika tiga pemain yang menentukan takdir “hidup mati” Juve itu harus pergi. Tidak ada lagi penyuplai umpan, tak ada lagi pencetak gol. Lantas, siapa yang bisa diandalkan?
Klub milik konglomerat keluarga Agnelli ini sudah mendatangkan empat pemain anyar. Mereka adalah Sami Khedira, Mario Mandzukic, Paulo Dybala, dan Simone Zaza. Dari empat pemain anyar tersebut, hanya Dybala dan Zaza yang sudah berpengalaman di Italia. Khedira dan Mandzukic baru kali ini hijrah ke negeri pizza tersebut.
Kehadiran Zaza tak banyak menambah pilihan dalam daftar barisan depan Juve. Selain koleksi golnya tidak terlalu impresif di Serie A (hanya 11 gol), Zaza bertipe goal getter alias goal poacher. Dia bukan tipe pembawa bola yang bisa memberi servis umpan seperti Tevez. Tipe permainan dia sama seperti striker Juve yang lain, yakni Llorente dan Morata, yang lebih banyak menunggu di kotak penalti.
Beda halnya dengan Dybala. Kemampuannya menggiring bola bisa diadu dengan Tevez. Tapi dia masih 21 tahun.
Allenatore Juve Massimiliano Allegri harus segera membuat mereka mencapai level yang ditinggalkan para pemain lawasnya. Dan itu perlu waktu. Karena itu, tak salah jika banyak yang meragukan Juve akan bisa kembali ke final Liga Champions musim ini—dan musim-musim berikutnya.
Surplus gelandang di Bayern Muenchen
Lantas, apa yang bisa dibawa Vidal ke Bayern Muenchen?
Klub raksasa Jerman itu sudah memiliki banyak gelandang. Vidal hanya menambah sesak lapangan tengah yang sudah menjadi pos Xabi Alonso, Thiago Alcantara, Javi Martinez, Philipp Lahm, David Alaba, Gianluca Gaudino, Sebastian Rode, Pierre Hojbjerg, dan Juan Bernat.
Beberapa pemain tersebut memang kerap bertugas di lini belakang. Tapi, Josep “Pep” Guardiola kerap menempatkan mereka di lapangan tengah.
Kolumnis sepak bola Jonathan Wilson menyebut kehadiran Vidal semakin menguatkan obsesi Guardiola terhadap penguasaan bola. Apalagi, possession game yang dimainkan Bayern kurang memiliki kecepatan dalam hal umpan terobosan. Bastian Schweinsteiger, menurut Wilson, tidak bisa menjadi Xavi Hernandez-nya Bayern.
Padahal, Pep tidak hanya sekadar menginginkan penguasaan bola tapi juga umpan-umpan terobosan yang mengejutkan lawan.
Vidal memang tak bisa diharapkan bermain seperti Xavi. Tapi dia mampu menambah energi pressing Bayern. Dan Vidal tidak sulit untuk melakukannya.
Vidal adalah pemain utama Chile yang memenangi Copa America 2015. Vidal terbiasa bermain dengan tuntutan untuk melakukan pressing ketat. Sebab, pelatih
Chile, Jorge Sampaoli, adalah fans berat Marcelo Bielsa. Bielsa sendiri merupakan “guru” Guardiola.
Vidal mampu merebut kembali penguasaan bola lawan dengan rasio intersep yang sangat tinggi, 4.7 per laga di Serie A musim lalu. Sementara Schweinsteiger hanya 3,1.
“Vidal akan membuat pressing game lebih intens. Mungkin tidak banyak perubahan mencolok dari pola Guardiola. Tapi kehadiran Vidal akan menambahkan agresifitas. Itu membuat Bayern bakal lebih efisien,” kata Wilson. —Rappler.com
There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.