Selamat datang lagi di Jakarta!

Arman Dhani
Selamat datang lagi di Jakarta!
Senin pagi di Jakarta pasca libur lebaran. Apakah masa kebahagiaan sudah usai?

Barangkali kita perlu memulai hari ini dengan kejujuran. Separuh pikiran kita masih tertinggal di kampung halaman, berharap kita masih bisa tetap di sana dan tidak harus kembali ke Jakarta. Ya, Jakarta, kota dengan segala kelindan macet, kriminalitas, dan makian di jalanan. 

Masing-masing dari Anda, yang beberapa waktu lalu memutuskan mudik, barangkali tak ingin kembali. Kalian masih ingin tinggal di rumah kelahiran, tempat segala hal masih asri, udara masih sejuk, jalanan lengang, dan kemanusiaan masih bisa ditemukan di tiap-tiap sudut jalan.

Tapi kita tahu, itu semu dan sementara, sementara Senin pagi di Jakarta adalah kenyataan. (BACA: Pernahkah kamu jatuh cinta pada Jakarta?)

Saya, seperti juga Anda, berharap demikian. Memiliki penghasilan dan pekerjaan dengan standar Jakarta, namun tinggal dan hidup di kampung halaman. Gaji besar, sementara biaya hidup tidak terlalu mahal. 

Tapi apa daya, pemerataan pembangunan yang gagal hanya menyisakan remah-remah di rumah kelahiran kita. Jika ingin kaya dengan gaya hidup mentereng, mungkin, mau tidak mau kita harus ke Jakarta. Bekerja menjadi apapun yang bisa kita dapatkan, karena gaya hidup masih mahal dan gengsi tidak murah.

Senin pagi di Jakarta selepas lebaran. Jalan-jalan akan macet dan keajaiban-keajaiban muncul di tiap lampu merah. Pengendara motor berubah serupa benda cair yang mengisi ruang-ruang kosong di antara mobil, menggesek mobil yang cicilannya belum Anda lunasi, sambil sesekali awas melihat kiri-kanan untuk mencari kesempatan mengakali lampu merah dan melesat melanggar aturan. Tapi siapa sih yang tak pernah sama sekali dalam hidupnya melanggar aturan lalu lintas di Jakarta?

Ini bukan pembenaran. Sekedar pengingat, bahwa kota ini tidak hanya melahirkan manusia-manusia yang luhur budi, namun juga kadang pelanggar lalu lintas yang kerap mencuri kesempatan memberontak. Pemberontakan adalah kemewahan kecil di Jakarta, karena di kota ini Anda diajarkan untuk tunduk seperti bidak-bidak catur. 

Pemberontakan, di Jakarta, membuat manusia-manusia menjadi individu yang terbebaskan dari belenggu bernama rutinitas.

Tentu saja, tidak semua orang terlahir menjadi pemberontak. Hari ini barangkali akan Anda mulai dengan keluhan, dengan sambat, dengan omelan, dan segala hal yang menyertainya. Namun beberapa orang di Jakarta merayakan Senin hari ini dengan kebahagiaan. 

Mereka yang selama dua minggu terakhir mesti mencuci pakaian sendiri, mereka yang mesti mengurus anak mereka sendiri, dan mereka yang mesti mengurus orang tua mereka sendiri. Para juragan, tuan dan nona yang memiliki uang berlebih untuk membayar orang lain melaksanakan tanggung jawab kemanusiaan.

Mungkin tidak semua melakukan itu, hanya mereka yang memiliki uang dan kesempatan. Barangkali ini pula yang membuat Jakarta seperti cahaya, ia menarik ngengat. Ribuan orang datang selepas lebaran, orang-orang yang berharap bisa jadi sukses di Jakarta, mencari sisa-sisa remah dari kue raksasa yang disediakan Jakarta. Ia representasi harapan, karena di kampung, pekerjaan makin susah ditemukan dan kehidupan sudah tidak tertanggungkan.

Kemacetan Jakarta yang terekam kamera pada 11 Juni 2015. Foto oleh Mast Irham/EPA

Pagi ini di Jakarta, mungkin kita akan bertemu wajah-wajah baru yang tak pernah kita temui sebelumnya. Ia adalah saudara dari kerabat kawanmu. Ia baru saja lulus kuliah dengan IPK cemerlang, berharap menjadi karyawan di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Karena di kota kelahirannya, orang seperti kerabat kawanmu tak bisa menemukan pekerjaan yang cocok. 

“Mosok kuliah mahal-mahal hanya jadi petani, Mas,” katanya ketika kau tanya mengapa tak kerja di kampung saja.

Sejak kecil orang seperti saya diajarkan untuk menilai bahwa pekerjaan sebagai petani, nelayan, peternak adalah strata paling pariya dari jenis pekerjaan yang ada. Sebisa mungkin jadilah pamong praja, mengabdi pada negara, mulia di mata orang tua, gagah di mata calon mertua. 

Jika gagal? Merantaulah ke Jakarta, jadi orang besar, jadi orang gedongan. Tapi apa iya masih? Itu kan dulu, ketika si Doel masih galau memilih Zaenab atau Sarah. Kini zaman sudah maju, masak semua berbondong-bondong ke Jakarta hanya untuk jadi orang gedongan? 

Ribuan orang datang selepas lebaran, orang-orang yang berharap bisa jadi sukses di Jakarta, mencari sisa-sisa remah dari kue raksasa yang disediakan Jakarta.

Siapa yang salah? Tentu tidak ada yang salah. Pemerintah kita sudah demikian keras bekerja untuk kemakmuran. Pemerintah kita berusaha untuk tidak lagi memunggungi laut, sehingga prioritas kerja yang diberikan adalah membangun jalan darat di Sumatera. 

Pemerintah kita ingin mulai memuliakan pertanian, maka dibangunlah proyek-proyek pertanian di Indonesia Timur yang entah akan diangkut dengan apa nantinya. Pokoknya pemerintah kita sedang bekerja, di mana? Di Jakarta, tentu saja.

Pagi ini di Jakarta, kita masih akan sibuk dengan tugas dan deadline, tapi bukan berarti kita abai. Kita masih menunggu penyelesaian kasus penembakan Paniai atau itu dianggap sudah selesai? 

Oh iya, lupa kan sudah ada yang terbaru, tragedi Tolikara. Kita di Jakarta bisa melihat dengan teropong berbagai masalah di Papua, menjadi pakar dengan satu-dua artikel, untuk kemudian membuat komentar saintifik yang bersertifikat kepakaran. Karena menjadi orang Jakarta, kerapkali, menuntutmu untuk tahu dan berkomentar tentang segala hal.

Ah, barangkali itu perasaan saya saja. Anda tentu tidak demikian, bukan?

Jakarta memberikan kesempatan kepada siapapun yang ingin datang. Syarat dan ketentuan berlaku tentu saja. Syaratnya Anda punya keterampilan. Tidak punya pun tak apa, yang penting punya saudara, atau koneksi. Bisa juga kemampuan untuk ngibu. Jangan bawa ijasah, karena terakhir saya ingat, ia tidak punya nilai. 

Di Jakarta segala hal bisa jadi uang asal Anda pintar mengemas suatu hal dengan genit dan berwarna. Misalnya mencuri tweet seseorang, mengunggahnya ke Instagram, lantas menjual slot iklan kepada puluhan ribu followers yang Anda dapat dari kepalsuan. Voila, anda jadi jutawan. 

Tapi, ya tidak semua orang di Jakarta begitu. Masih banyak orang baik. Orang orang yang hendak menyelamatkan kemurnian agama dari tiran, coba cek hastag #GazaInJakarta. Lihat bagaimana orang-orang itu sedemikian cinta pada agama dan ingin menegakkan kebenaran. 

Tentu orang-orang mulia, luhur budi dan cinta tanah air ini bukanlah orang yang mudah tertipu propaganda murahan. Apalagi sebagai kaum terdididik, mereka seharusnya bisa berpikir dengan baik, bukan sekedar percaya kabar burung.

Jakarta adalah gambar buram dari betapa sebenarnya kita gemar menyakiti diri sendiri. Kota ini keras, konon sekeras keinginanmu kembali bersama mantan, tapi ia juga lemah, selemah niatmu untuk bersetia. 

Ah maaf, bukan begitu, ini adalah tentang bagaimana kalian memaknai kebahagiaan. Bangun pagi di kota satelit dini hari, ketika matahari belum terbit untuk bekerja di Jakarta, lantas pulang ketika matahari sudah tenggelam untuk kemudian tidur di perjalanan. Apakah kebahagiaan semahal itu? —Rappler.com

Arman Dhani adalah seorang penulis lepas. Tulisannya bergaya satire penuh sindiran. Ia saat ini aktif menulis di blognya www.kandhani.net. Follow Twitter-nya, @Arman_Dhani.

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.