Devaluasi yuan, waspada serbuan barang impor dari Tiongkok

Haryo Wisanggeni
Devaluasi yuan, waspada serbuan barang impor dari Tiongkok
Nilai tukar yuan yang terdepresiasi pasca devaluasi PBOC akan membuat harga barang impor dari negeri tirai bambu menjadi semakin kompetitif

JAKARTA, Indonesia — Devaluasi yang dilakukan People’s Bank of China (POBC) terhadap yuan rupanya tak hanya hanya menimbulkan dampak makro berupa tertekannya nilai tukar rupiah. Dari perspektif mikro, pelaku usaha di tanah air harus mewaspadai potensi membanjirnya barang impor dari Tiongkok di pasar Indonesia.

“Ekspor Tiongkok akan menjadi semakin kompetitif,” kata ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Berly Martawardaya, Rabu 12 Agustus 2015.

Menurut Berly, pemerintah dan pelaku usaha di dalam negeri harus mengantisipasi hal ini dengan mempersiapkan dua jenis strategi: Menjajaki peluang sinergi dan kolaborasi dalam jangka pendek dan memperkuat daya saing dalam jangka menengah-panjang. 

“Untuk jangka pendek ya kita ikut dulu, jangan bersaing frontal. Kalau bisa kita jadi supplier-nya mereka (Tiongkok), jadi riding the wave,” ujar Berly. 

“Nanti kemudian profit-nya kita gunakan untuk memperkuat dan memperdalam struktur industri. Tujuannya agar competitiveness meningkat,” katanya lagi.

Di Tiongkok, PBOC dalam pengumuman resminya pada Senin 10 Agustus 2015 menyatakan bahwa per 11 Agustus keesokan harinya, mereka akan menetapkan metode baru dalam penetapan nilai tukar dasar yuan terhadap dolar Amerika Serikat (USD). PBOC akan mematok nilai tukar yuan/USD pada angka tertentu sebelum diperdagangkan di pasar dengan deviasi maksimal sebesar plus-minus 2% – lewat dari batas 2%, PBOC akan melakukan intervensi pasar.

Besaran nilai tukar dasar ini ditetapkan oleh PBOC pada umumnya dengan mengikuti pergerakan USD. Kini, mekanisme pasar yang menjadi pertimbangan utamanya. Dengan melihat permintaan dan penawaran di pasar pada hari sebelumnya, PBOC akan menetapkan nilai tukar dasar yuan terhadap USD secara harian. 

Mulai beradaptasi dengan mekanisme pasar, Yuan terus terdepresiasi terhadap USD hingga melemah sebesar 3,5% dan mencapai level terendah sejak Agustus 2011. 


source: tradingeconomics.com

Sebenarnya, mengapa Tiongkok mengambil kebijakan ini?

Tumbuh sebagai kekuatan baru perekonomian dunia dalam satu dekade terakhir, perekonomian Tiongkok belakangan mulai melambat. Salah satu indikasi pentingnya, per Juli 2015, nilai ekspor mereka turun sebesar 8,3% atau yang terendah dalam empat bulan belakangan sejak April lalu.

Pada April sendiri, nilai ekspor Tiongkok sudah dilaporkan menyusut sebesar 15% bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Devaluasi yuan dinilai dapat menjadi jalan keluar karena akan memangkas harga barang impor dari Tiongkok dan membuatnya menjadi semakin kompetitif di pasar luar negeri. 

Sementara itu di Indonesia, devaluasi yuan menyebabkan nilai tukar rupiah terhadap USD ikut tertekan. Pelaku pasar memandang bahwa apa yang terjadi di Tiongkok merupakan sinyal negatif dari kondisi perekonomian negeri tirai bambu. — Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.