Mengisi kemerdekaan dengan memalukan | #RI70

Dodi Ibnu Rusydi
Mengisi kemerdekaan dengan memalukan | #RI70
Belajar dari peristiwa memalukan di seputar HUT RI ke-70.

Beberapa peristiwa seputar HUT RI ke-70 tahun bisa bikin jidat mengernyit. Mereka memalukan. Tapi tentu kita harus mau belajar dari kejadian-kejadian itu, agar malunya tidak sia-sia.

Sebelum membahas sejumlah peristiwa itu, kita harus ingat bahwa semua bermula dari 17 Agustus 1945. Jumat itu, sejumlah bapak-ibu bangsa kompak nekat mengklaim Indonesia sudah merdeka.

Kenekatan mereka itu penting. Telat sedikit, status kemerdekaan kita bisa dilihat sebagai hadiah dari Jepang yang harus balik kandang karena kalah perang. Bapak-ibu bangsa telah menyelamatkan kita dari hal yang memalukan. Selanjutnya adalah kisah panjang upaya mempertahankan kemerdekaan, hingga upaya jatuh-bangun kita memajukan bangsa.

Hampir 70 tahun dari proklamasi, Elanto Wijoyono berdiri gagah di tengah persimpangan jalan di Yogyakarta. Dengan sepedanya, ia menghadang rombongan motor gede yang diiringi patroli pengawalan polisi. Dia melawan arogansi yang dilindungi aparat.

Yang terjadi kemudian adalah unjuk opini pendukung dan penolak aksi itu, terutama di media sosial. Mungkin kita salah satu dari mereka. Meski kalah gagah, karena lantangnya di Twitter atau Facebook saja, tapi kita tak sememalukan tim media sosial Polri yang sigap menjawab dengan pasal-pasal yang justru jadi bumerang, karena penjelasan pasal itu dianggap tak mencakup rombongan konvoi tujuh belasan.

Andai pengawalan-pengawalan seperti itu dibayari oleh pemohon, mungkin akan lebih memalukan lagi karena hubungannya menjadi transaksi ekonomi. Semoga saja tidak begitu adanya.

Peristiwa lainnya adalah ketika kita melihat seorang mantan presiden, setelah 10 tahun absen, akhirnya muncul di upacara kenegaraan peringatan kemerdekaan. Selama satu dekade, Megawati tak pernah menghadiri undangan Presiden Yudhoyono untuk duduk di barisan terdepan sebagai sesama pemimpin bangsa. Mungkin bagian dari puasa 10 tahun yang pernah beliau ucapkan.

Tahun ini gantian Yudhoyono yang tak hadir. Beliau mengaku kangen Pacitan setelah 10 tahun jadi inspektur upacara. Skor sementara ketidakhadiran: 10-1 untuk keunggulan Megawati. Semoga tahun depan bisa duduk bareng.

Peristiwa lainnya masih seputar upacara juga. Di media sosial, beredar kecaman karena Wakil Presiden Jusuf Kalla tak memberi penghormatan ketika Presiden Jokowi menghormat. Memanfaatkan kebebasan berpendapat anonim, tak sedikit juga yang memaki. Ini jadi memalukan karena sebenarnya yang demikian sudah sesuai protokol. Hikmahnya, kita jadi belajar lagi soal protokol itu. Lain kali, kita tahu harus bersikap seperti apa ketika Indonesia Raya berkumandang.

Beberapa peristiwa memalukan ini, pertama-tama, mengingatkan lagi bahwa masih banyak yang perlu kita lakukan di platform bernama kemerdekaan ini. Kita tak perlu lama-lama menghayati perasaan memalukan dari sebuah peristiwa, tapi justru segera mengevaluasinya.

Kita lihat perilaku pemimpin bangsa agar belajar dari kekurangan mereka. Kita perlu belajar beropini yang baik agar tak asal bunyi. Kita mungkin perlu belajar berani seperti Elanto dalam melihat hal-hal yang sudah kita anggap biasa, padahal timpang.

Bagi Anda yang ingin aktif berbagi informasi mengenai hal-hal yang bisa kita jadikan pelajaran bersama di lingkungan kita, Anda bisa mengontak tim Rappler Indonesia di akun Facebook.com/rapplerid, Twitter @rapplerid, atau mengontak kami di email redaksi[at]rappler.com. —Rappler.com

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.