Tiongkok-Jepang bersaing proyek kereta cepat, Jokowi tunggu penilaian konsultan

ATA
Menurut Menko Perekonomian Darmin Nasution, tim konsultan independen akan menyerahkan hasil penilaian mereka dalam satu hingga dua hari
Miniatur kereta cepat buatan Tiongkok di sebuah pusat perbelanjan di Jakarta. Foto oleh Bay Ismoyo/AFP

JAKARTA, Indonesia — (UPDATED) Pemerintah akan segera menentukan siapa di antara Tiongkok dan Jepang yang akan mengerjakan proyek kereta cepat pertama di Indonesia.

Menurut Presiden Joko “Jokowi” Widodo sebagaimana disampaikan kepada penasihat Perdana Menteri Jepang Izumi Hiroto, saat ini Pemerintah Indonesia hanya menunggu hasil penilaian tim konsultan independen sebelum nantinya mengambil keputusan.

Bapak presiden menyatakan sekarang sedang dilakukan penilaian oleh konsultan independen dan tim penilai akan melapor kepada presiden. Bapak presiden akan memutuskan nanti setelah mendapatkan laporan dari tim penilai,” kata Izumi di sela kunjungannya ke Istana untuk bertemu Jokowi, Rabu 26 Agustus 2015. 

Menurut keterangan Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, dalam satu hingga dua hari ke depan tim konsultan akan memberikan laporan mereka. 

“Konsultan paling lambat lusa berikan laporan,” kata Darmin, Rabu. 

“Ya minggu depan kita akan rapat para menteri, awal barangkali. Setelah itu satu dua hari akan kita sampaikan ke presiden, konsultan bacanya begini. Setelah kita klarifikasi hasilnya begini, kemudian sampaikan ke presiden dengan rekomendasi.”

Dalam perkembangan terakhir, Sekretaris Kabinet Pramono Anung menyatakan bahwa baru pada 7 September mendatang tim teknis yang dipimpin oleh Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution akan menyampaikan rekomendasi mereka kepada presiden. Tim ini menurut Pramono masih mengkaji hasil penilaian tim konsultan.

Tim teknis masih memerlukan waktu untuk mengkaji masukan, penilaian, evaluasi dari konsultan internasional. Maka untuk penentuan diundur sampe 7 September. Memberikan kesempatan untuk dilakukan evaluasi, pendalaman sekaligus berikan kesempatan pada dua-duanya untuk bisa dinilai dengan seadil-adilnya,” katanya di Istana Negara, Rabu 2 September 2015. 

Di bawah ini adalah perbandingan penawaran dari kedua negara:

Jepang, salah satu negara dengan investasi terbesar di Indonesia awalnya seolah ditakdirkan untuk membangun kereta cepat yang rencananya akan menghubungkan Jakarta dengan Bandung, sampai Tiongkok ikut meramaikan persaingan.

Pada April 2015, aksi Jokowi saat mengunjungi Tokyo dan Beijing membuat persaingan di antara kedua negara kian memanas. Di ibu kota Jepang dan Tiongkok, Jokowi menaiki kereta cepat yang ada di sana dan kepada media memaparkan visinya untuk membangun infrastruktur sejenis.

Pemerintah Jepang dan Tiongkok segera memanfaatkan kesempatan ini. Sejak April mereka mengirimkan para diplomat mereka untuk melobi Pemerintah Indonesia. Mereka berharap, pengusaha dari negaranya yang akan dipilih melaksanakan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

“Biarkan mereka  bersaing, ini bagus bagi kita. Seperti gadis cantik yang diperebutkan banyak pria, ia bisa memilih siapa saja yang diinginkannya,” kata Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Panjaitan kepada AFP. — Dengan laporan dari AFP/Rappler.com

BACA JUGA: