JAKARTA, Indonesia — Pemerintah berharap pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak yang berlangsung akhir tahun ini dapat berkontribusi positif untuk menggenjot laju pertumbuhan ekonomi yang belakangan terus melambat.
“Pilkada itu bisa ada dampaknya. Kita kan belum pernah tahu pilkada serentak. Kalau pemilu kita itu bisa dampaknya 0,2 atau 0,15%, nah pilkada serentak mestinya lebih besar karena dia lebih ini ke rakyat,” kata Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution usai menghadiri rapat tim ekonomi di Istana Negara, Kamis 27 Agustus 2015.
“Saya belum pernah kalkualasi tapi saya kira sampai 0,2 atau 0,3.”
Pengamat politik Charta Politika Yunarto Wijaya menjelaskan pada Rappler relasi antara pilkada dan pertumbuhan ekonomi.
“Ketika para kandidat melihat masyarakat ini ekonominya sedang susah, justru bisa jadi effort mereka untuk menang malah semakin besar,” kata Yunarto, Kamis.
Ia juga mengaitkan penyelenggaraan pilkada serentak dengan dampaknya terhadap jumlah uang beredar dalam perekonomian.
“Ini pertama kali kita menyelenggarakan pilkada secara serentak, meskipun belum sepenuhnya. Tapi bayangkan ada 269 kepala daerah yang bertanding di hari yang sama. Masing-masing harus mengeluarkan biaya yang hitungannya pasti miliaran,” katanya.
Biaya yang besar tersebut menurut Yunarto meliputi biaya legal, biaya kampanye hingga biaya “siluman” seperti “mahar” kandidat untuk partai politik pengusung. — Rappler.com
BACA JUGA:
- Uji coba resep pemulihan ekonomi Indonesia yang terpuruk
- 3 alasan pemerintah tetap optimis hadapi situasi ekonomi
- Ekonomi melambat, jangan kambing hitamkan ekonomi global
There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.