Kronologi anggota TNI tembak 2 warga sipil di Timika

TNI mengaku melakukan tembakan peringatan terlebih dulu sebelum menembak, tapi dibantah oleh warga.
Mahasiswa asal Papua di Surabaya menggelar protes meminta kemerdekaan Papua Barat, Desember 2013. Foto oleh EPA.

JAYAPURA, Indonesia — Anggota Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) menembak mati masyarakat sipil di Timika, Papua, Jumat dini hari tadi, 28 Agustus. Selain dua warga tertembak, tiga lainnya luka-luka. 

“Betul, ada kejadian itu,” ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen Wuryanto, Jumat. 

Pada Senin, 24 Agustus, menurut Wuryanto, anggota TNI yang kemudian diketahui bernama Serka Makher sedang mabuk. Ia lalu dikeroyok oleh masyarakat di Koperapoka.

Sementara itu rekannya, Sertu A dan Praka G, mencari keberadaan Makher ke rumah warga dan kantor polisi. Tapi polisi mengaku tak tahu di mana keberadaan Makher. 

Setelah mengumpulkan informasi, akhirnya Sertu A dan Praka G memutuskan untuk mencari Makher ke Pertigaan Titi Teguh. Pencarian Makher menemui titik terang dengan menemukan motor Kawasaki KLX miliknya. 

Sertu A, yang kemudian dikenal dengan Anshar, lalu segera menghubungi ponsel Makher dan ternyata tersambung. Sertu Anshar kemudian meminta Makher untuk merapat ke pertigaan. 

“Saat A mau kembali ke motornya menjemput rekannya, warga sudah mengepungnya, lalu juga mengeroyok Sertu A juga sampai bersimbah darah,” ujar Wuryanto.

Pengeroyokan disaksikan oleh Praka G. 

Ketika dikeroyok, Sertu Anshar langsung mengisi senjatanya dan menembak ke arah atas dua kali. Sebagian massa sempat ada yang mundur. Tapi menurut versi TNI, ada warga yang mendekat dan mencoba merebut senjata. 

Saat senjata akan direbut itulah, berdasarkan penuturan Wuryanto, Sertu Anshar membela diri dengan menendang pelaku. Ia kemudian menembak ke arah massa dengan sasaran kaki. 

Penembakan terhadap warga oleh Sertu Anshar terjadi di Koperapoka, sekitar 50 meter dari Gorong-Gorong Tiimika Terminal Bus menuju Freeport.

Setelah menembak, Sertu Anshar langsung berdiri dan melarikan diri ke arah perempatan PIN Cellular. Sertu Anshar sempat melihat ada masyarakat yang diseret tubuhnya seperti korban tembakan. 

Sertu Anshar selanjutnya melarikan diri ke kantor Subdenpom untuk meminta bantuan. Ia pun diamankan. 

Dua warga meninggal, 4 luka-luka

Dari kejadian tersebut, dua warga meninggal diduga terkena tembakan dari senjata Sertu Anshar.

Mereka adalah Imanuel Mairimau, 23 tahun, dari Suku Kamoro, Nawaripi. Imanuel tewas seketika dengan luka tembak di leher tembus ke belakang. 

Korban kedua adalah Yulianus Okoare, 23 tahun, dari Suku Kamoro. Ia meninggal dunia dengan luka tembak di perut tembus belakang. Ia sempat sadar tapi kemudian meninggal dunia di Rumah Sakit Daerah Mimika. 

Selanjutnya Martinus Apokapo, 24 tahun, dari Suku Kamoro, Nawaripi, kritis dengan luka tembak pinggang kiri. Kemudian Martinus Imaputa, 17 tahun, laki-laki, dari Suku Kamoro, dengan luka tembak dada kiri tembus paru-paru. Dan

Thomas Apoka, 20 tahun, Suku Kamoro, dengan luka tembak kaki kiri bawah. 

Serta Moses Imipu, 23 tahun, Suku Kamoro, dengan luka tembak di paha kanan dalam.

Kerugian materiil yang diderita akibat insiden ini adalah dua unit kendaraan dinas milik TNI dan Polri yang rusak berat. Dua kendaraan itu saat ini diamakan oleh Direktorat Satuan Lalu Lintas Polisi Resor Mimika. 

TNI minta maaf

Jajaran TNI langsung meminta maaf pada warga terkait kejadian ini.

“Sekali lagi kami sangat menyesal atas insiden yang tidak perlu itu. Yang jelas penanganan anggota dilakukan di Detasemen POM TNI di Timika,” kata Wuryanto.

Sementara itu Panglima Kodam setempat langsung memerintahkan Danrem 174/Anim Ti Waninggap, Brigjen TNI Supartodi ke lokasi kejadian untuk melakukan koordinasi bersama Kapolres dan Dandim melibatkan kepala suku, tokoh agama, untuk menenangkan keluarga korban dan menyelesaikan masalah. 

“Kodam Cenderawasih juga meminta maaf kepada keluarga korban dan akan memberikan santunan kepada korban. Dan akan tetap memproses prajurit yang melakukan tindakan ini dan juga mengobati masyarakat yang terkena tembakan,” kata Supartodi. 

Kesaksian warga

Berbeda dengan keterangan TNI, salah satu warga Mimika bernama Petrus mengatakan, peristiwa terjadi saat warga setempat sedang menggelar syukuran dan warga menutup Jalan Koperapoka.

Lantas tiba-tiba ada dua anggota TNI yang menerobos palang jalan itu.

“Warga pun menegur kedua anggota TNI dan meminta menghentikan motor yang mereka kendarai,” tutur Petrus. 

Tapi, menurut kesaksian Petrus, salah seorang anggota TNI lalu menghentikan motornya dan langsung membentak dan mengeluarkan kata-kata kasar kepada warga. Kontan warga langsung mengurung keduanya. 

“Lalu selang waktu tak lama, muncul lagi tiga anggota TNI mengunakan motor warna hitam dengan membawa senjata dan langsung menembaki masyarakat di situ, hingga ada korban jiwa,” kata Petrus. —Rappler.com