JAKARTA, Indonesia – Sejak Premier League musim 2008-2009, tidak ada lagi klub Liga Inggris yang bisa mempertahankan gelar. Semuanya selalu kandas di musim selanjutnya.
Praktis, pelatih terakhir yang bisa melakukannya hanya Sir Alex Ferguson saat membawa Manchester United berturut-turut meraihnya dalam tiga musim: 2006-2007, 2007-2008, dan 2008-2009.
Musim ini, “tradisi” kegagalan sang juara bertahan itu semakin dekat pada kenyataan. Chelsea memulai kompetisi dengan tidak meyakinkan. Dari empat laga pertama, mereka hanya mengoleksi 4 angka dari sekali seri, sekali menang, dan sisanya kalah.
Chelsea have conceded 9 Premier League goals this season, only Sunderland (10) have more. pic.twitter.com/dyGTtlSUPo
— Squawka Football (@Squawka) August 29, 2015
Terakhir, Chelsea dibekuk Crystal Palace 1-2, pada Sabtu, 29 Agustus. Padahal, saat itu mereka sedang memperingati 100 laga kandang Chelsea bersama Mourinho. Tak tanggung-tanggung, kekalahan memalukan itu terjadi tepat di depan batang hidung para pendukungnya di Stamford Bridge, kandang mereka.
Gol semata wayang The Blues — julukan Chelsea — dicetak striker Radamel Falcao di menit ke-79. Palace unggul dulu via Bakary Sako di menit ke-65 kemudian gol kemenangan dicetak Joel Ward sembilan menit sebelum laga bubar.
#CFC 1-2 #CPFC Impressive Palace hand Jose Mourinho just his 2nd #BPL loss at home. Report: http://t.co/90ReJZqnbB pic.twitter.com/MVA34c8GQS
— Premier League (@premierleague) August 29, 2015
Hasil tersebut membuat Chelsea menjadi tim dengan kinerja pertahanan terburuk. Mereka adalah tim yang paling banyak kebobolan (9 gol) setelah Sunderland (10 gol). Kondisi itu sangat bertolak belakang dengan prinsip dasar manajer Chelsea Jose Mourinho dalam menangani sebuah tim: pertahanan yang kuat.
Padahal, saat menjuarai liga musim lalu, Chelsea adalah tim dengan pertahanan terbaik. Mereka hanya kebobolan 32 gol. Bandingkan dengan runner-up Manchester City yang kebobolan hingga 38 kali.
Kali ini, situasi justru berbalik. Duo Manchester, City dan United, kompak sama-sama cleansheet alias nol kebobolan. City justru sempurna mengawali liga. Klub asuhan Manuel Pellegrini itu memenangi semua laga dan mengoleksi 12 angka dengan tingkat produktivitas gol yang cukup tinggi, 10 gol dalam 4 pertandingan.
Pada hari yang sama saat Chelsea kalah, City mengalahkan Watford 2-0 di kandang mereka, Etihad Stadium.
Namun, Pellegrini enggan berpikir terlalu jauh soal perburuan gelar. Menurut dia, start buruk belum bisa menggambarkan hasil akhir musim. Dia menyontohkan timnya musim lalu yang seperti roller coaster di awal kompetisi.
City terjerembab di peringkat ke-6 saat liga baru berjalan 5 pertandingan. Tapi, pada Januari, Vincent Kompany dkk memiliki koleksi poin yang sama dengan Chelsea. Karena itu, Pellegrini tak mau terlalu memikirkan nasib Chelsea.
“Menciptakan jarak dengan tim favorit memang penting, tapi ini baru awal musim. Kami hanya ingin berpikir dari satu laga ke laga lainnya dan tak mau memikirkan lawan,” kata Pellegrini.
Akibat tak bergairah di bursa transfer
Mengapa sejak musim 2008-2009 tak ada klub Premier League yang bisa mempertahankan gelar? Kolumnis ESPN Miguel Delaney menyebut banyak faktor yang mempengaruhinya, yakni faktor klub dan faktor pelatih atau manajer.
Sejak era Premier League, praktis hanya tiga tim yang bisa mempertahankan juara. Mereka adalah United, City, dan Chelsea. Tim-tim lain baru bisa meraih juara kembali setelah jeda semusim seperti Arsenal yang juara pada 2001-2002 dan baru bisa mengulanginya pada 2003-2004.
Jika “statistik” itu diturunkan pada level manajer, hanya dua orang yang bisa melakukannya: Sir Alex Ferguson dan Jose Mourinho. Delaney menyebut, saking kerasnya persaingan di Premier League, mempertahankan gelar juara hanya bisa dilakukan oleh klub-klub tertentu dengan pelatih tertentu.
Tapi, yang tak disebutkan Delaney adalah upaya untuk membangun tim. Setiap kali musim berganti, klub-klub juara justru kehilangan pemain kunci. Kalaupun tidak kehilangan, mereka tidak membangun timnya lebih solid.
Di era sepak bola modern, yang dimaksud membangun tim lebih solid tentu (dengan cara yang cepat) agresif di bursa transfer.
Saat gagal mempertahankan gelarnya pada musim 2003-2004, United kehilangan David Beckham yang hijrah ke Real Madrid. Situasi yang sama berlangsung pada musim 2009-2010 saat Chelsea merebut gelar dari United. Klub berjuluk Setan Merah itu kehilangan Cristiano Ronaldo yang pergi ke klub yang sama.
Memasuki musim ini, Chelsea tak banyak menambah pemain baru. Pembelian terbaik mereka hanya Pedro yang dibeli dari Barcelona sebesar EUR 30 juta (Rp 473 miliar). Pemain baru lainnya seperti bek Baba Rahman, kiper Asmir Begovic, dan striker Radamel Falcao hanya sebagai pelapis tim utama. Artinya, Chelsea sudah terlalu pede dengan tim utama yang mereka miliki.
Bandingkan dengan penantang juara Manchester City. Musim ini mereka doyan belanja pemain. Setelah mendatangkan winger Raheem Sterling, mereka membeli gelandang serang Kevin De Bruyne dari Wolfsburg. Baik Sterling maupun De Bruyne adalah pemain dengan level tim utama.
Terbukti, Sterling langsung dijamin tempat reguler di sayap kiri City menggeser Sergio Aguero yang dipasang di sentral serangan. Sementara De Bruyne bakal memberi kompetisi untuk David Silva.
Transfer musim panas baru berakhir 2 September mendatang. Chelsea masih punya waktu jika ingin belanja pemain. Apalagi, Mourinho masih ingin membeli satu bek tengah. Buruan Chelsea, John Stones, tampaknya tak akan dilepas klubnya, Everton.
Usai laga melawan Palace, Mourinho ditanya wartawan. Apakah dia akan mengucurkan dana besar agar transfer Stones dan Paul Pogba (pemain Juventus yang juga buruan Chelsea) berhasil? Dia menampiknya.
“Saya harap tidak. Saya tidak suka melakukan cara-cara seperti itu,” kata Mourinho. —Rappler.com
BACA JUGA:
Preview Liga Inggris 2015-2016: Ramai-ramai keroyok Chelsea
Arsenal 1-0 Chelsea: Kemenangan tanpa jabat tangan
Manchester City vs Chelsea: Tim tamu sedang cari aman
There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.