Piala Presiden 2015: Ajang pamer gengsi kepada Tim Transisi

Mahmud Alexander
Piala Presiden 2015: Ajang pamer gengsi kepada Tim Transisi
Piala Presiden resmi memulai kick off pada Minggu, 30 Agustus sore. Dari 16 kontestan, siapa yang punya kans besar juara?

JAKARTA, Indonesia – Dahaga publik sepak bola Indonesia untuk menyaksikan kompetisi sedikit terobati. Mulai Minggu, 30 Agustus, Piala Presiden telah digelar. Kick off pembukaan turnamen digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali. 

Publik sepak bola mau tidak mau bakal membandingkan turnamen ini dengan turnamen perdana Tim Transisi, Piala Kemerdekaan. Baik dari segi kualitas pertandingan maupun penyelenggaraannya. Sebab, Piala Presiden tidak bisa diklaim sebagai turnamen yang digelar Tim Transisi. Apalagi, Piala Kemerdekaan juga sedang berlangsung.

Piala Presiden adalah turnamen independen yang digelar Mahaka Sports and Entertainment. Turnamen ini mendapat dukungan dari kedua “kubu”. Baik dari pemerintah (Presiden Joko “Jokowi” Widodo dan Badan Olahraga Profesional Indonesia) maupun Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI). 

Jika penyelenggaraan Piala Presiden lebih baik dibanding Piala Kemerdekaan, Tim Transisi tentu bakal menjadi sasaran kritikan. Terutama dari kubu PSSI.  

Dari 16 peserta Piala Presiden, 13 di antaranya adalah klub-klub ISL. Tiga tim lainnya adalah tim undangan yang biasa berlaga di kasta kedua, Divisi Utama. Mereka adalah Persita Tangerang, Martapura FC, dan PSGC Ciamis.

Sayang, klub-klub tradisional ISL seperti Persipura Jayapura, Semen Padang, dan Barito Putra tidak ikut. “Kami yakin turnamen tak akan berkurang kualitasnya. Selama masih ada Persib Bandung, Persija Jakarta, dan Arema Cronus,” kata CEO Mahaka Sports and Entertainment Hasani Abdul Gani.

16 peserta terbagi dalam empat grup. Hanya juara grup dan runner up yang lolos ke babak selanjutnya. Babak pertama akan menggunakan sistem home tournament dengan empat klub sebagai tuan rumah, yakni Persib Bandung, Arema Cronus, Bali United, dan PSM Makassar. 

Setelah itu, babak 8 besar akan dimainkan dengan sistem pertandingan home away alias kandang dan tandang. 

Mahaka Sport and Entertainment membuat aturan khusus di fase grup, yakni harus ada pemenang di tiap pertandingan. Jika laga berlangsung seri selama 90 menit, pertandingan langsung dilanjutkan ke adu penalti. Tidak seperti pertandingan sepak bola umumnya yang harus dimainkan 2 x 15 menit sebelum masuk ke adu penalti. 

Jika menang via waktu normal lazimnya mendapat 3 poin, kemenangan via adu penalti hanya akan diganjar 2 angka. “Pemenang via adu penalti dapat dua poin. Tim yang kalah karena penalti dapat satu poin,” kata Hasani.

Klub besar tetap mendominasi

Klub-klub besar tampaknya akan masih mendominasi.  

Di grup A misalnya, Persib Bandung dan Persebaya United, diprediksi akan lolos ke babak delapan besar. Persiba Balikpapan dan Martapura FC diyakini belum bisa bersaing melihat materi yang dimiliki masih di bawah dua tim tersebut.

Di grup B, Arema Cronus dan Sriwijaya FC menjadi favorit lolos. Tapi, melihat rekam jejak Persela Lamongan dan pemain asing yang mereka rekrut sekarang, kans mereka menjadi tim kuda hitam cukup besar.

Sementara itu, PSGC Ciamis yang meski berstatus tim Divisi Utama, diyakini juga bakal merepotkan. Terutama setelah mereka sukses menggulung Persib Bandung 1-0 di uji coba pekan lalu.

Untuk grup C, Bali United Pusam sebagai tuan rumah diprediksi bakal mendampingi Persija Jakarta lolos ke babak kedua. Itu mengingat Mitra Kukar dan Persita Tangerang tak terlalu ngoyo tampil di turnamen ini.

Dua tim itu disebut hanya mengejar match fee atau uang subsidi untuk peserta turnamen.

Di grup D, PSM Makassar yang menjadi tuan rumah dan Pusamania Borneo jadi kandidat juara dan runner up. Persegres Gresik United dan Persipasi Bandung Raya (PBR) hanya akan jadi tim penggembira.

“Siapa favorit juara, Persib mengejar target itu. Tapi kami punya saingan, ada Arema Cronus, ada PSM, ada juga Bali United. Mereka masuklah kandidat saingan terberat, kami harus bekerja keras,” kata pelatih Persib Djadjang Nurat ditanya peluang timnya, Minggu, 30 Agustus.

Persebaya United jalan terus

Tim Persebaya yang tidak didukung oleh mayoritas Bonek (sebutan suporter Persebaya), ternyata diberi jalan lapang oleh operator turnamen. Meski sempat ramai dan diminta ganti nama, tetap saja embel-embel Persebaya menempel. Namanya berganti Persebaya United.

Gerakan Bonek yang menolak Persebaya, juga tak digubris oleh Mahaka. Mereka jalan terus dan membela Persebaya dengan hanya menambahkan nama United. 

Menurut Hasani, pihaknya harus tetap menggunakan nama Persebaya karena permintaan sponsor. Berdasarkan informasi dari internal Mahaka, nama Persebaya tetap harus masuk dalam turnamen karena tekanan salah seorang pengurus PSSI. Maklum, Persebaya yang ini mendapat dukungan PSSI dalam konflik dualisme klub asal Surabaya itu. 

Padahal, Persebaya terus dituding Bonek sebagai Persebaya palsu. Persebaya yang asli menurut Bonek adalah Persebaya 1927.  “Sponsor gitu mintanya. PSSI juga menekan sih, jadi mau nggak mau harus tetap ada Persebaya-nya,” kata sumber di lingkungan Mahaka. —Rappler.com

BACA JUGA:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.