JAKARTA, Indonesia – Usai memenangi laga play-off Liga Champions melawan Club Bruges 4-0, pada 27 Agustus lalu, Manchester United justru mendapat kritikan tajam dari kolumnis Guardian Jonathan Wilson.
Wilson memperingatkan Louis van Gaal, manajer United, agar tidak terlalu terobsesi dengan penguasaan bola. Sebab, obesesi tersebut bisa tak bermakna jika tidak dijalankan dengan efektif. Tim akan dominan tapi tak bisa mencetak gol. Dengan sendirinya mereka akan dijauhi kemenangan.
Hanya berjarak tiga hari dari tulisan Wilson di Guardian, kekalahan itu akhirnya datang juga. Klub berjuluk Setan Merah itu tumbang di laga keempat mereka di Premier League. United takluk 1-2 dari tim tuan rumah, Swansea City, Minggu, 30 Agustus.
.@ManUtd suffer their first defeat after a second-half @premierleague comeback. Can United recover? #UCL pic.twitter.com/Myis9OaD5j
— Champions League (@ChampionsLeague) August 30, 2015
United unggul lebih dulu di awal babak kedua melalui Juan Mata (menit ke-48). Namun, pemain Ghana Andre Ayew menyamakan kedudukan pada menit ke-61 disusul gol kemenangan Bafetimbi Gomis lima menit kemudian.
#manutd loses unbeaten #EPL record as bafetimbi #gomis sinks Red Devils. #cnnfc http://t.co/Bg3OOZSrIu pic.twitter.com/Rh04LosoAQ
— CNN International (@cnni) August 30, 2015
Padahal, mereka menguasai bola hingga 58%. Dominasi itu memang meredam agresifitas Swansea. Mereka hanya membukukan dua kali tendangan ke gawang. Tapi, dua-duanya berbuah gol. Bandingkan dengan United yang membuat tiga tembakan tapi hanya sekali masuk.
Penguasaan bola memang kerap dijadikan alibi Van Gaal. Saat mereka hanya bermain seri melawan Newcastle United, Sabtu, 22 Agustus, Van Gaal justru memuji habis-habisan anak buahnya. Meski shoot on goal alias tembakan ke gawang United minim, Van Gaal tetap memberi pujian. Alasannya, mereka sudah mampu mendominasi pertandingan.
Pelatih asal Belanda itu mengklaim bahwa penguasaan bola adalah tanda timnya bermain baik. Soal hasil, itu hanya masalah keberuntungan. “Tim telah bermain fantastis. Hasilnya mungkin tidak seperti yang diharapkan tapi mereka sangat luar biasa,” kata pelatih 64 tahun tersebut saat itu.
Obsesi terhadap penguasaan bola bukan tanpa alasan. Van Gaal adalah bagian dari “mazhab” filosofi sepak bola total football. Prinsip dasar gaya permainan yang dikembangkan di Ajax Amsterdam itu adalah penguasaan bola. Johan Cruyff, salah seorang “imam” mazhab tersebut, pernah berkata, “Jika kamu menguasai bola, lawan tidak akan bisa mencetak gol.”
Jika penguasaan bola adalah tanda kemenangan, kata Wilson, lantas mengapa dominasi tersebut tak selalu membuahkan kemenangan?
Saat ditahan seri Newcastle, United menguasai bola hingga 66%. Mereka bahkan membuat klub berjuluk The Toon Army itu tak sekalipun membuat tendangan ke arah gawang. Nyatanya, United hanya bisa bermain tanpa gol.
Begitu juga saat menang 1-0 melawan Tottenham Hotspur di laga perdana Premier League musim ini. Wayne Rooney dkk justru hanya mendominasi penguasaan bola hingga 51%. Cukup tipis untuk disebut sangat dominan.
Kata Wilson, Van Gaal memiliki kesalahan mendasar. Mantan pelatih Bayern Munich itu beranggapan bahwa untuk memenangi pertandingan bukan dengan cara mencetak gol. Tapi, memenangi penguasaan bola. Dengan kata lain, kendalikan permainan dan gol akan datang sendiri.
Pendekatan tersebut dianggap terlalu “mekanis”. Tim akan kehilangan ledakan-ledakan individu. Sebab, masing-masing pemain akan cenderung bermain aman untuk menahan bola selama mungkin.
Mereka juga jadi terlalu takut mengambil inisiatif individual. Padahal, aksi-aksi individu menjadi salah satu faktor kemenangan dalam sepak bola.
Chelsea 1-2 Palace Liverpool 0-3 West Ham Swansea 2-1 Man United Arsenal and Man City fans pic.twitter.com/xlwagy2SVa
— GeniusFootball (@GeniusFootball) August 30, 2015
Perubahan taktik Swansea bawa kemenangan
Dalam laga melawan Swansea, penguasaan bola ala Van Gaal terasa sangat membosankan. Mereka buntu dalam membuat peluang-peluang emas. Pada saat yang sama, manajer Swansea Garry Monk membuat langkah-langkah yang taktis untuk menaklukkan United.
Saat kebobolan 0-1, Monk mengubah formasi Swansea dari skema awal 4-2-3-1 menjadi 4-3-1-2. Perubahan formasi itu terjadi saat Ki Sung-yueng masuk menggantikan winger Wayne Routledge. Sung-yueng bermain lebih ke dalam dibanding Routledge yang agresif.
Dengan bermain tanpa winger di belakang striker utama Gomis, fullback United Luke Shaw memang leluasa menyerang. Namun, dia meninggalkan ruang kosong di sisi kiri United. Sisi itu pula yang dieksploitasi Gylfi Sigurdsson saat dia mengirim assist untuk Ayew.
Monk mengakui, perubahan skema itu dilakukan karena lini tengah benar-benar dipenuhi pemain United. Swansea lantas berubah ke skema 4-3-1-2 berlian untuk mengisi ruang kosong yang ditinggalkan para pemain United.
“Perubahan itu terjadi setelah 10 menit laga berjalan di babak kedua,” kata Monk seperti dikutip Guardian.
Hal senada diakui Van Gaal. “Mereka mengubah skema di babak kedua dan kami tak bisa mengatasinya,” kata Van Gaal.—Rappler.com
BACA JUGA:
- MU 0-0 Newcastle: Sinyal darurat kebutuhan striker murni
- MU 1-0 Tottenham: Performa gemilan para debutan
- Chelsea 1-2 Crystal Palace: Semakin meragukan mempertahankan gelar
There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.