LINE kembali batalkan IPO di tahun ini

Lina Noviandari
Rencananya, Line baru akan melakukan IPO setidaknya pada musim semi mendatang

Foto dari id.techinasia.com

Terkait urusan produk, aplikasi chatting LINE, bisa dibilang merupakan ahlinya.

Perusahaan asal Jepang ini berinovasi dengan merambah berbagai sektor, mulai dari layanan pembayaran, booking taksi, pengiriman makanan, dan masih banyak lagi. Namun tampaknya, keahlian tersebut tidak berlaku untuk proses IPO perusahaan ini.

Seperti yang dilansir dari WSJ, LINE kembali menunda IPO-nya untuk tahun ini.

Rencananya, Line baru akan melakukan IPO setidaknya pada musim semi mendatang, atau sekitar bulan Maret hingga Juni 2016. Ini merupakan penundaan kedua IPO LINE, setelah sebelumnya menunda IPO pada September 2014.

Pada penundaan pertama, LINE beralasan bahwa rencana IPO-nya berdekatan dengan IPO Alibaba yang memegang nilai fantastis. LINE khawatir nilai saham perusahaannya akan turun.

Meskipun demikian, pada April lalu LINE dikabarkan kembali mempersiapkan IPO yang diprediksi mencapai angka $10 miliar (sekitar Rp140,17 trilun).

Keadaan pasar global yang sedang tidak stabil dinilai menjadi salah satu alasan LINE menunda IPO mereka.

Seorang perwakilan LINE mengatakan, “Terkait prospek di masa depan, kami akan mengambil keputusan berdasarkan kondisi pasar dan performa evolusi bisnis kami.”

Selain itu, terlepas dari performa perusahaannya yang menggembirakan dalam beberapa kuartal sejak peluncurannya, untuk pertama kalinya performa LINE menurun pada Q2 2015 lalu.

Penghasilan perusahaan tersebut sedikit menurun dari yang awalnya mendapat ¥28,1 miliar (sekitar Rp 3,26 triliun) pada Q1, Line meraup ¥27,8 miliar (sekitar Rp 3,23 triliun) di kuartal kedua.

Dari segi jumlah pengguna, LINE memang berhasil menaikkan jumlah pengguna aktif bulanannya menjadi 216 juta pengguna aktif di Q2 2015, naik dari yang awalnya 205 juta di Q1.

Bagaimanapun, pencapaian tersebut tidak begitu mengesankan jika dibanding pesaingnya WhatsApp yang kini digunakan oleh sekitar 800 juta pengguna aktif di seluruh dunia.

Tulisan ini sebelumnya diterbitkan di situs berita teknologi dan startup TechinAsia. —Rappler.com