Kabut asap melanda Sumatera, jadwal penerbangan terganggu

Rappler.com
Kabut asap melanda Sumatera, jadwal penerbangan terganggu
Kabut asap terindikasi bersumber pada kebakaran hutan

JAKARTA, Indonesia — Kabut asap yang melanda Kota Jambi, Provinsi Jambi, membuat aktivitas penerbangan dari dan ke sana lumpuh.

Diberitakan oleh Tribun Jambi, Kamis petang, 3 September, jarak pandang di Bandara Sultan Thaha terus menurun hingga mencapai hanya sejauh 600 meter. 

“Karena tidak berani mengambil resiko dan penerbangan terpaksa dibatalkan. Ini merupakan jarak pandang terendah dibandingkan sebelumnya,” kata Kepala Operasional Bandara Parolan Simanjuntak.

Salah satu penyebab kian pekatnya kabut asap di Jambi adalah jumlah titik panas yang terus meningkat di wilayah Provinsi Jambi. Titik panas merupakan salah satu indikasi adanya kebakaran hutan yang pada akhirnya menjadi sumber asap. 

Berdasarkan keterangan prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Jambi Bahar Abdullah, per 2 September 2015 terdapat 304 titik, atau meningkat dari hanya 216 titik sehari sebelumnya. 

Situai serupa juga terjadi di Provinsi Riau. 

“Kami telah mendata dan mendapatkan keterangan dari alat deteksi bahwa saat ini asap masuk level berbahaya sehingga masyarakat diminta untuk memakai masker,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, Suhardi, sebagaimana dikutip oleh media

Seperti di Sultan Thaha, aktivitas penerbangan di Bandara Syarif Kasim II di Pekanbaru, Riau, juga terganggu akibat adanya kabut asap.

“Mulai pukul 06:00 WIB hingga pukul 13:00 WIB siang ini kondisi jarak pandang di Bandara SSK II hanya mencapai 500 meter, sehingga tidak memungkinkan untuk aktivitas penerbangan,” kata Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Perhubungan J.A. Barata, Kamis, dalam keterangan tertulisnya kepada media

Provinsi Jambi dan Riau memang akrab dengan kebakaran hutan. 

Berdasarkan data Global Forest Watch yang dikembangkan oleh World Resource Institute (WRI), kedua wilayah tersebut telah kehilangan wilayah hutannya dalam jumlah yang relatif signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut peneliti WRI Indonesia, Andhyta Firselly Utami, hilangnya wilayah hutan merupakan salah satu akibat dari terjadinya kebakaran hutan.

Terkait penyebabnya, secara saintifik menurut Andhyta, sebagian besar kebakaran hutan di Indonesia tak tercipta secara alami, atau dengan kata lain merupakan ciptaan manusia.

“Ini merupakan cara land clearing yang tidak sustainable. Harusnya land clearing dilakukan dengan peralatan mekanik, bukan pembakaran. Tapi memang ada insentif ekononomi untuk melakukan pembakaran, karena biayanya lebih murah,ujar Andhyta.

— Rappler.com

Baca juga: 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.