Manchester United 3-1 Liverpool: Selamat datang Anthony Martial

Agung Putu Iskandar
Manchester United 3-1 Liverpool: Selamat datang Anthony Martial
Pelan-pelan Manchester United kembali ke jalur yang benar. Mereka kini mulai konsisten di jalur juara.

(UPDATED) Manchester United tak sekadar meraih kemenangan dalam laga klasik Liga Inggris melawan Liverpool yang berkesudahan 3-1, Sabtu malam, 12 September. United juga telah menemukan sosok idola baru di lini depan selain Wayne Rooney: Anthony Martial.

Pemain 19 tahun itu ikut menciptakan gol terakhir United di menit ke-86. Sebelumnya, United sudah unggul lebih dulu melalui Daley Blind di menit ke-49 dan tendangan penalti Ander Herrera (70’). Gol balasan Liverpool melalui Christian Benteke di menit ke-84 tak banyak membantu. 

Mencetak gol di laga debut adalah impian semua pemain. Tak terkecuali bagi Martial. Tak tanggung-tanggung, gol itu dia cetak ke gawang Liverpool, klub yang selama ini menjadi musuh abadi Setan Merah—julukan United.  

Karena itu, tak perlu waktu lama bagi pemain berpaspor Perancis itu untuk menjadi idola baru di Old Trafford, kandang United. Dia pun banjir pujian. Manajer United Louis van Gaal menyebut bahwa gol itu adalah pesan dari Martial bahwa dia siap untuk terjun ke Premier League.  

“Secara fisik, dia bisa bermain di liga ini dan dia bisa menggiring bola seperti yang kamu lihat,” kata Van Gaal seperti dikutip situs resmi klub.

Dengan usia masih 19 tahun, Van Gaal yakin prospek Martial bakal sangat besar. Apalagi, di United dia akan terus mendapat ruang bermain yang luas. Sebab, striker utama mereka, Wayne Rooney, juga sedang menurun performanya. 

Kehadiran Martial juga akan memberi kompetisi bagi Rooney. 

Dengan kemampuan dribble yang baik, Martial bisa menjadi ujung tombak berbahaya bagi United. “Seorang pemain berusia 19 tahun sebenarnya sangat sulit beradaptasi dengan budaya sepak bola Inggris. Tapi, dia punya bakat besar dan bisa berkembang pesat,” katanya. 

Liverpool tak banyak perlawanan

Dalam pertandingan tersebut, Liverpool memang tak banyak memberi perlawanan bagi United. The Reds—julukan Liverpool—justru bermain negatif. Manajer Brendan Rodgers lebih banyak menumpuk pemain di belakang dan hanya mengandalkan serangan balik.  

Beberapa kali skema serangan balik juga tak berjalan karena sudah kandas bahkan sebelum masuk ke separuh lapangan United. Benteke, Danny Ings, dan Roberto Firmino tak bisa menciptakan banyak peluang di depan gawang. 

Karena itu, United sangat dominan dalam pertandingan. Di babak pertama saja mereka menguasai bola hingga 69 persen. 

Meski lebih dominan di babak pertama, United tak banyak membuat kreasi serangan. Van Gaal memasang Marouane Fellaini sebagai ujung tombak dengan Memphis Depay sebagai sayap kiri. 

Namun, Fellaini, Depay, dan Juan Mata tidak padu di depan. Beberapa kali Depay harus melakuan penetrasi sendirian tanpa dukungan pemain lain. Jarak dia dengan Fellaini terlalu jauh. Begitu juga Mata yang di babak pertama belum terlalu berkembang. 

Van Gaal mengakui itu. “Memphis tahu bahwa umpan terakhir yang dia terima belum cukup. Begitu juga Mata. Dia tak banyak membuat umpan kunci. Karena itu saya ganti mereka di babak kedua,” katanya. 

United lebih tajam di babak kedua. Justru setelah Depay diganti Ashley Young. Bek kiri Luke Shaw, Young, dan Fellaini tampil lebih padu. Apalagi setelah Fellaini kembali bermain lebih ke dalam karena Anthony Martial masuk sebagai ujung tombak. 

Setelah gawang Simon Mignolet dibobol dua kali oleh Blind dan Herrera, Liverpool mulai berani menyerang. Hasilnya, Benteke mencetak gol spektakuler melalui bicycle kick di menit ke-84. 

Gol tersebut cukup keramat bagi Benteke. Sebab, dia selalu mencetak gol setiap kali melawan United, baik bersama Liverpool maupun dengan Aston Villa, klub lamanya.  

Namun, momen kebangkitan Liverpool pupus. Itu setelah Martial mengakhiri pertandingan dengan golnya di menit ke-86. Dia membawa bola dari sayap kiri, melewati tiga pemain, kemudian one on one dengan Mignolet.  

Statistik dari ESPN menyebutkan, United menciptakan 9 tembakan dengan 3 tembakan mengarah ke gawang (on goal). Sementara itu, Liverpool menciptakan 8 tembakan dengan 4 tembakan ke gawang (on goal). 

“Setiap pertandingan melawan Liverpool selalu lebih mudah daripada melawan Swansea City. Kami mengendalikan pertandingan tapi setelah kami mencetak gol, Liverpool mulai bereaksi,” kata Van Gaal. —Rappler.com

BACA JUGA:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.