7 rahasia dapur Go-Jek Indonesia

Haryo Wisanggeni
7 rahasia dapur Go-Jek Indonesia
Untuk kamu yang ingin mendirikan startup-mu sendiri, ini beberapa rahasia di balik kesuksesan Go-Jek Indonesia

JAKARTA, Indonesia — Sulit untuk diperdebatkan bahwa Go-Jek Indonesia merupakan salah satu startup dengan pertumbuhan paling luar biasa di tanah air selama era ponsel pintar.  

Menurut sang CEO dan salah satu pendirinya, Nadiem Makarim, hingga hari ini Go-Jek telah membuka lapangan kerja baru untuk sekitar 150.000 orang. Di kota-kota besar di tanah air, keberadaan Go-Jek juga telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakatnya. 

Kamu sudah tahu? Tapi tahukah kamu bagaimana mereka melakukannya? Berbicara dalam Social Good Summit Jakarta, Senin 28 September 2015, Nadiem menyingkap rahasia “dapur” Go-Jek dari prinsip-prinsip dasar perusahaan hingga bagaimana mereka mengelola sumber daya manusia. Berikut ini rangkumannya:

1. Berpikir di luar kotak

Menurut Nadiem, salah satu rahasia sukses Go-Jek adalah kemampuan timnya untuk berpikir di luar kotak dengan menjungkirbalikkan berbagai filosofi yang umum diterapkan di berbagai perusahaan dan institusi lain. 

“Misalnya ada anggapan bahwa semakin besar sebuah perusahaan akan semakin sulit dikontrol sehingga mekanisme kontrol di dalamnya juga akan tumbuh. Itu salah karena artinya kita berasumsi bahwa manusia itu bodoh sehingga tidak bisa mengatur dirinya sendiri,” kata Nadiem.

2. 100% transparansi dalam performa untuk tingkatkan efisiensi kerja

“Saya sering melihat karyawan yang sebagian besar waktunya dihabiskan untuk membuat laporan kemajuan dan mengumpulkan angka untuk dibawa ke atasan. Di Go-Jek, tidak ada seperti itu,” kata Nadiem.

“Setiap pagi, email berisi data performa perusahaan dikirim ke semua anggota manajemen dari sistem kita. Kita terapkan 100% transparansi. Yang malu ya malu, yang bangga ya bangga.”

Dengan menerapkan kebijakan ini menurutnya karyawan bisa memiliki lebih banyak waktu untuk mengeksekusi pekerjaannya dengan cepat. 

3. Berani mengambil keputusan dan membuat kesalahan

Nadiem juga menggarisbawahi pentingnya keberanian untuk mengambil keputusan dan membuat kesalahan.

“Di Go-Jek orang tidak akan disalahkan karena mengambil keputusan. Orang akan disalahkan kalau tidak mengambil keputusan. Kalau tidak berani mengambil keputusan dan risiko serta tidak berani melakukan kesalahan, orang seperti itu tidak akan survive di Go-Jek,” katanya.

4. Hapuskan ego

“Prinsip kita adalah zero ego. Di Go-Jek karyawan paling bawah bisa mengritik karyawan paling atas dan karyawan paling atas bisa mengritik karyawan paling bawah,” ujar Nadiem.

5. Terobsesi pada pelanggan

Prinsip yang satu ini didasarkan pengakuan Nadiem yang ia dan timnya ‘curi’ dari Amazon. Menurut Nadiem agar sebuah bisnis bisa sukses, manajemennya harus menjadi terobsesi dengan pengalaman pelanggan saat menggunakan produk mereka.

“Apa yang pelanggan rasakan kita juga harus merasakan.” 

Nadiem sendiri mengungkapkan bahwa dalam satu hari, ia bisa menggunakan jasa Go-Jek hingga tujuh kali. Inilah caranya menerapkan prinsip yang satu ini. 

6. Karyawan dievaluasi berdasarkan penerapan prinsip perusahaan, bukan pencapaian target

Di perusahaan lain, umumnya performa seorang karyawan umumnya diukur berdasarkan pencapaian target yang dibebankan pada mereka. Namun tak demikian di Go-Jek. 

“Kita ada target, tapi karyawan tidak dinilai berdasarkan itu melainkan berdasarkan perilakunya,” ujar Nadiem.

Perilaku yang ia maksud adalah bagaimana karyawan yang bersangkutan menerapkan nilai-nilai dasar perusahaan Gojek: Be fearless, customer obsession, zero ego, data driven, inspire others.

“Kalau semua nilai ini checked, maka pasti pencapaian targetnya itu sudah optimal,” ujarnya lagi. 

7. Bekerja berdasarkan data

Menurut Nadiem, setiap langkah dan kebijakan Go-Jek dirumuskan berdasarkan data atau dalam istilahnya, data driven.

Ini merupakan salah satu faktor yang memberikan keunggulan kompetitif bagi Go-Jek. Pasalnya menurut Nadiem, ia melihat bagaimana di banyak perusahaan lain pendekatan ini belum banyak diterapkan.

“Sering saya lihat di Indonesia, perusahaan memutuskan sesuatu tidak ada datanya.” — Rappler.com

Baca juga: 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.