Anak-anak saya terpaksa menghirup asap di Riau

Aristofani Fahmi
Anak-anak saya terpaksa menghirup asap di Riau

EPA

Kepada Bapak Jokowi, dari hati yang paling terdalam, tiga bulan di sini kehidupan kami lumpuh Pak. Kami harap kehadiran Pak Jokowi bukan sekedar untuk mengantisipasi asap, ada harapan dari kami pemerintah pusat benar-benar masih memperhatikan daerah, seperti Riau.

Saya adalah bapak dari dua anak berumur 4 dan 1,5 tahun yang tinggal di Pekanbaru. Ketika menulis artikel ini, saya didiagnosa Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA) oleh dokter di posko kesehatan korban bencana asap di areal Purna MTQ Pekanbaru.  

Posko itu didirikan oleh grup PT April, salah satu perusahaan perkebunan swasta besar di Riau. 

Saya diberi vitamin dan obat demam oleh dokter.  

Saya menduga terpapar asap ketika harus memasang spanduk usaha pendidikan Bahasa Inggris saya pada saat kondisi asap sangat pekat. Saya terpaksa melepas masker karena sesak saat harus memanjat. Ya, terpaksa, sebab deadline pekerjaan.  

Saat itu, 7 Oktober, jarak pandang berkisar 100 meter. Di hari yang sama, Pemerintah Riau mengatakan sudah seminggu ini Riau di nol titik api. Ketika diberitakan  Riau di nol titik api, warga Pekanbaru mulai tidak menggunakan masker. Tapi yang terjadi malah asap makin tebal. Sempat berwarna kuning selama 3 hari.

Asap di Riau adalah kiriman dari Sumatera Selatan dan Jambi.

Diberitakan juga korban meninggal sudah dua balita sejak bencana asap dua bulan ini, karena gagal bernafas.

Saya mulai ngeri melihat anak bungsu, Aluna, pilek dengan mata berair. Aluna pilek sejak 4 hari lalu. Aluna juga bersin-bersin. Saya membawanya ke dokter, dan Aluna mendapat vitamin. Menurut dokter, Aluna masih dalam kondisi baik-baik saja.

Saya khawatir dengan Aluna, karena dua minggu lalu asap sempat masuk hingga ke dalam kamar tidur. Aktivitas saat bangun pagi adalah mengendus asap ketika buka pintu kamar, menelusuri bau hingga menengok secara visual  ke jendela mengecek kondisi asap di luar rumah.

Setelah itu menunggu SMS dari pihak sekolah, apakah masih libur ataukah sudah boleh masuk sekolah. Terhitung anak saya, Adim, yang sekolah di Taman Kanak-Kanak sudah dua bulan diliburkan oleh Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru.

Saya tidak khawatir dengan kondisi kesehatan Adim, seperti kekhawatiran saya pada Aluna, tapi saya mulai khawatir dengan kondisi psikologi Adim karena ia mulai menyebut dan memanggil nama teman-teman sekelasnya. Mungkin Adim rindu bermain di halaman sekolah, berlari-berlari bersama temannya.

Saya akhirnya terpaksa membawa Adim ke luar bersama saya ke tempat kerja untuk mengobati kebosanannya dan karena di rumah tak ada yang menjaga. Walaupun saya tahu, Adim berisiko terkena ISPA karena harus menghirup asap. Tapi saya tak punya pilihan.

Selain Adim dan Aluna, saya juga kerap memikirkan istri saya yang tak mau memakai masker. Padahal ia punya riwayat asma. Ia biasanya menggunakan jilbabnya untuk masker.

Istri hampir tak memikirkan dirinya sendiri melainkan anak kami. Sebaliknya, istri saya mengeluhkan, mengapa tidak ada masker untuk anak-anak? Hampir semua masker ukuran dewasa.

Saat ini, kami pastikan, di Riau tidak ada persediaan oksigen yang cukup ataupun bantuan oksigen dari pemerintah. Kami tidak tahu bagaimana melewati hari-hari berikutnya tanpa oksigen yang cukup.

Saya pribadi berharap pemerintah mengantisipasi kebakaran ini jangka panjang. Kepada Bapak Jokowi, dari hati yang paling terdalam, tiga bulan di sini kehidupan kami lumpuh Pak. Kami harap kehadiran Pak Jokowi bukan sekedar untuk mengantisipasi asap, ada harapan dari kami pemerintah pusat benar-benar masih memperhatikan daerah, seperti Riau.

Kami warga Riau juga berharap ada bantuan lebih untuk masker dan tabung oksigen, untuk kami mengambung nafas di esok hari. —Rappler.com

BACA JUGA:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.