US basketball

LINI MASA: Kerusuhan Aceh Singkil

Rappler.com
LINI MASA: Kerusuhan Aceh Singkil
Pantau berbagai perkembangan terkait kerusuhan di Aceh Singkil, Nangroe Aceh Darussalam di sini

JAKARTA, Indonesia —  Amuk massa pecah di  Kabupaten Aceh Singkil, Nangroe Aceh Darussalam dan berujung pada insiden pembakaran gereja, Selasa, 13 Oktober. Berikut ini berbagai perkembangan terkait kejadian ini. 

Jumat, 13 November 2015

Aliansi Sumut Bersatu: Janji pemerintah Aceh Singkil jamin rasa aman hanya janji kosong

Sebulan setelah pecahnya kerusuhan Aceh Singkil, Aliansi Sumut Bersatu (ASB) mengeluarkan pernyataan sikap yang diterima oleh Rappler pada Jumat, 13 November.

Mereka mengritik kebijakan yang diambil oleh pemerintah setempat pasca kerusuhan.

“Janji pemerintah Aceh Singkil menjamin rasa aman dan menyelesaikan persoalan ternyata hanyalah janji kosong penuh kebohongan.

Dua hari setelah masyarakat pulang, mereka terpaksa menyaksikan satu persatu rumah ibadah mereka dihancurkan dengan menggunakan alat-alat berat dan palu-palu besar yang dipakai oleh Satpol PP dengan pengawalan polisi dan militer,” tulis ASB.

Oleh karena itu, ASB mengeluarkan tiga pernyataan sikap berikut ini: 

  1. Mendesak Presiden Republik Indonesia Bapak Joko Widodo menjamin keamanan beribadah dan melaksanakan aktifitas lainnya untuk setiap pemeluk agama khususnya penganut agama minoritas (Protestan, Katolik dan Pambi) di Aceh Singkil dan di daerah-daerah konflik lainnya yang disertai dengan merevisi dan atau membatalkan setiap kebijakan yang melanggar hak warga negara atas kebebasan beragama dan berkeyakinan.
  2. Meminta Kementerian Dalam Negeri Bapak Tjahyo Kumolo dan kementerian-kementeriaan terkait untuk menegur dan memberikan sanksi keras terhadap pemerintah Aceh Singkil atas tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan yang disertai dengan instruksi untuk membangun kembali gereja-gereja yang dihancurkan dan menjamin 12 gereja dan satu rumah ibadah Pambi dapat digunakan dan dijamin keberadaanya.
  3. Menuntut Kepala Kepolisian Republik Indonesia untuk menginstruksikan jajaran dibawahnya untuk bertanggungjawab memastikan perayaan Natal dan perayaan hari-hari besar keagamaan lainnya dapat berjalan dengan damai yang dilakukan dengan mengedepankan perlindungan terhadap  korban dan dilanjutkan dengan menghukum pelaku dan pihak-pihak yang terlibat dalam penutupan, penyerangan, penghancuran dan pembakaran rumah ibadah sehingga tidak ada hambatan apapun terhadap warga negara menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinannya.

Rabu, 14 Oktober 2015

15.30 — Dua gereja yang dibakar menurut Aliansi Sumut Bersatu: Gereja HKI dan Gereja Katolik di Gunung Meriah

Menurut Aliansi Sumut Bersatu, gereja-gereka yang menjadi sasaran massa pemrotes untuk dibakar pada kerusuhan yang pecah kemarin adalah Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI) dan sebuah Gereja Katolik yang ada di Kecamatan Gunung Meriah.

Dari Gunung Meriah, massa bergerak ke Dangguren dengan tujuan ingin melakukan pembakaran Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD). Di sinilah pecah bentrokan yang akhirnya menewaskan satu orang.

Aliansi Sumut bersatu juga melaporkan bahwa saat ini jalur keluar masuk Aceh singkil diblokade. Hal menyebabkan warga yang ingin mengungsi pasca pecahnya kerusuhan, tak bisa bisa meninggalkan Aceh Singkil. 

11.30 — FOTO: Aceh Singkil pasca kerusuhan

WARGA ACEH SINGKIL. Warga Aceh Singkil yang sebagian pemuda usai bentrok pada Selasa, 13 Oktober 2015. Foto istimewa

Foto-foto lainnya bisa kamu lihat di sini

09.45 — Rusuh Aceh Singkil, ratusan keluarga mengungsi ke Sumatera Utara

Setelah kerusuhan pecah di Aceh Singkil, ratusan keluarga mengungsi hingga ke Provinsi Sumatera Utara.

“Lebih kurang 300 Kepala Keluarga mengungsi,” kata Pendeta Domeniktus Padang dari Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) yang ada di Ressort Keras pada Rappler, Rabu, 14 Oktober.

Titik pengungsian menyebar, semuanya sejauh ini ada di Sumatera Utara:

  1. Kecamatan Pagindar, Kabupaten Pakpak Bharat
  2. Desa Saragih, Kabupaten Tapanuli Tengah
  3. Kota Sibolga

Selasa, 13 Oktober 2015

23.30 — Sikapi kerusuhan Aceh Singkil, PBNU: Islam bukan agama yang ajarkan kekerasan

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengeluarkan pernyataan sikap terkait pecahnya kerusuhan di Aceh Singkil yang diwarnai insiden pembakaran gereja. Berikut pernyataan sikap PBNU: 

PBNU menyesalkan aksi pembakaran gereja di Desa Sukamakmur, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil, Aceh, yang dilakukan sejumlah oknum warga setempat, Selasa siang, 13 Oktober. Apapun alasan yang melatarbelakangi, aksi main hakim sendiri terlebih dilakukan dengan cara kekerasan tidak bisa dibenarkan oleh hukum.

Islam bukan agama yang mengajarkan kekerasan. Islam adalah agama akhlak. Islam agama yang diturunkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam. Karena itu, rasulullah Muhammad SAW meneledankan dakwah bil hikmah wal mauidzatil hasanah. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik…” (QS. An-Nahl 125).

Menyusul peristiwa pembakaran ini, PBNU menyerukan agar pihak-pihak yang bersengketa saling menahan diri. Sikap teduh untuk menjaga suasana tetap tenang dan kondusif sangat dibutuhkan di Aceh Singkil, khususnya di lokasi kejadian untuk saat-saat sekarang ini.

PBNU meminta aparat bertindak persuasif dengan sesegera mungkin membuat langkah-langkah mediasi. Pemda setempat dengan segenap unsur Muspida, ulama, tokoh masyarakat, dalam hal ini hendaknya mengedepankan prinsip-prinsip maslahah ‘ammah dan penegakan hukum yang tegas, adil, dengan tetap mengedepankan akhlakul karimah.

21.40 — Presiden Jokowi: Hentikan kekerasan di Aceh Singkil  

Melalui Anggota Tim Komunikasi Presiden Ari Dwipayana, Presiden Jokowi “Jokowi” Widodo menyampaikan bahwa dirinya telah memerintahkan Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Panjaitan dan Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti untuk segera mengambil langkah cepat dalam menghentikan kekerasan.

Perintah itu disampaikan Presiden melalui telepon pada hari hari ini pukul 18.00 WIB kepada keduanya. Presiden meminta agar peristiwa itu tidak menyebar ke kawasan lainnya dan bisa diselesaikan dengan baik serta adil.

20.50 — Konferensi pers Kapolri terkait kerusuhan Aceh Singkil

Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Badrodin Haiti memberikan keterangan pers terkait kerusuhan di Aceh Singkil, Nangroe Aceh Darussalam. Berikut ini poin-poinnya: 

1. Waktu kejadian adalah pukul 12 siang.

2. Korban: Satu orang meninggal dunia, empat luka-luka. Korban meninggal diduga terkena tembakan dari airgun.

3. Kronologi: 

  • Kemarin sudah ada kesepakatan antara Pemerintah Daerah (Pemda) setempat dan masyarakat terkait adanya 21 gereja yang dianggap bermasalah karena tak miliki izin. Atas desakan masyarakat, gereja-gereja ini rencananya akan dibongkar.
  • Kemarin malam disepakati bahwa pembongkaran akan dilakukan pada 19 Oktober.
  • Perwakilan masyarakat yang ikut menyepakati hal tersebut rupanya tak diakui oleh kelompok masyarakat yang melakukan pembakaran.
  • Pukul 8 pagi, massa berkumpul di masjid.
  • Jam 10 bergerak kemudian dihadang oleh Polri dan TNI saat mereka menuju ke gereja di Desa Sukamakmur, Kecamatan Gunung Meriah. Di setiap gereja tadi sudah ada pengamanan oleh Polri. 
  • Massa sendiri jumlahnya 500 dan menyebar. Salah satu kelompok massa kemudian berhasil mencapai gereja yang akhirnya dibakar. Setelah membakar gereja, massa bergerak ke Desa Dangguren. Di situlah terjadi bentrok antara massa pembakar dengan masyarakat yang menjaga gereja.

4. 20 orang sudah diamankan dan sedang diperiksa. Selain itu telah disita 20 motor, 6 mobil dan sejumlah senjata tajam.

5. Kapolri mengimbau masyarakat tak terpancing upaya provokasi. Polri berkomitmen untuk menyelesaikan kasus ini sesuai prosedur hukum.

19.15 — Jemaat Gampong Mandumpang mulai mengungsi; tak ada TNI dan polisi di Dangguren

Redima Gultom dari Aliansi Sumut Bersatu mengungkapkan kepada Rappler bahwa kerusuhan ini telah membuat sejumlah jemaat GKPPD Mandumpang mengungsi dari tempat tinggalnya.

“Jemaat gereja GKPPD Mandumpang sekarang bersiap-siap mengungsi karena ketakutan. Sebelum mereka, sudah ada kelompok yang mengungsi,” kata Redima kepada Rappler.

Redima juga menerima informasi bahwa sementara itu di Dangguren, tak ada Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan aparat kepolisian yang berjaga karena situasi yang tak kondusif.

18.00 — Seorang anggota TNI jadi korban luka

Seorang anggota TNI, Pratu Narto, menjadi korban luka dalam peristiwa pembakaran gereja di Aceh Singkil.

“Dia adalah sopir Komandan Kodim Aceh Sangkil. Dia juga turut menjadi korban luka,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Darat Brigjen TNI Fadhillah.

Narto awalnya datang ke lokasi bersama Dandim Aceh Sangkil demi membantu pengamanan. Namun, suasana menjadi tidak terkendali lantaran massa mulai melemparkan batu dan benda berat lainnya.

“Dandimnya sendiri aman. Sopirnya lalu saat ini sudah dirawat di rumah sakit,” kata Fadhillah.

 17.45 — Polisi minta keterangan 20 saksi

Saat ini, Polisi masih berjaga di lokasi gereja. Polisi juga sudah memeriksa sejumlah saksi terkait peristiwa itu.

“Polisi juga sudah meminta keterangan dari 20 orang yang ada di sana,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Suharsono. 

17.40 — Polisi upayakan pengamanan di lokasi

Mabes Polri membenarkan peristiwa pembakaran sebuah gereja di Desa Dangguran, Kecamatan Simpang Kanan, Aceh Singkil.

“Betul, saat ini upaya pengamanan lokasi sedang dilakukan,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Suharsono.

Pengamanan dilakukan oleh Polres dan Polda setempat, serta tambahan personel Brimob.

17.30 — Lini masa aksi protes warga

Berdasarkan keterangan Redima Gultom dari Aliansi Sumut Bersatu kepada Rappler, berikut ini lini masa aksi protes warga: 

– 6 Oktober: Pemuda Aceh Singkil Peduli Islam membaur dengan masyarakat dan merapat ke kantor bupati. Mereka menuntut pembongkaran gereja.

– 13 Oktober: Batas akhir waktu dari kelompok pemrotes bagi Bupati Aceh Singkil untuk membongkar gereja. 

Pada 13 Oktober pula, akhirnya pecah insiden pembakaran gereja.

17.15 — Kapolri belum tahu

Saat dihubungi Rappler, Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Badrodin Haiti mengungkapkan dirinya belum memperoleh informasi tentang kerusuhan ini.  

17.00 — Pendeta Domeniktus Padang: Warga protes keberadaan gereja sejak 6 Oktober

Pendeta Domeniktus Padang dari Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi (GKPPD) yang ada di Ressort Keras mengungkapkan kepada Rappler bahwa insiden pembakaran merupakan lanjutan dari aksi protes warga atas keberadaan gereja jaringan GKPPD yang telah dimulai setidaknya sejak 6 Oktober.

Berdasarkan informasi yang diterimanya dari jemaat, sejauh ini sudah tiga gereja yang terbakar. Dua gereja ada di Kecamatan Gunung Meriah sedangkan satu lagi ada di daerah Dangguren. 

16.59 — Rusuh di Aceh Singkil, satu warga tewas dan empat luka-luka

Satu warga menjadi korban amuk massa di Aceh Singkil, Nangroe Aceh Darussalam, setelah insiden pembakaran gereja, Selasa, 13 Oktober. Selain itu, 4 warga lainnya mengalami luka-luka.

Saat ini pihak kepolisian sedang melakukan upaya untuk mendamaikan kedua belah pihak. — Rappler.com

BACA JUGA: 

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.