LINI MASA: 4 kasus terhangat tahun ini terkait peringatan tragedi 1965

Rappler.com
LINI MASA: 4 kasus terhangat tahun ini terkait peringatan tragedi 1965
Majalah Lentera pun dibredel karena memuat foto palu dan arit, simbol komunisme

 

JAKARTA, Indonesia — Tahun ini adalah peringatan 50 tahun tragedi pembantaian massal 1965. Untuk mengenang ratusan — bahkan ribuan — korban pembantaian, sejumlah organisasi dan lembaga swadaya masyarakat mengadakan kegiatan untuk memperingati tragedi tersebut.

Mulai dari penayangan film hingga diskusi. Namun ternyata acara tersebut tidak berjalan dengan mulus. Ada beberapa kendala yang dialami, antara lain pelarangan dari aparat setempat.  

Berikut empat kejadian terhangat pada tahun ini terkait peringatan tragedi 1965 yang Rappler rangkum:

Rabu,30 September 2015. Pelarangan pemutaran film Senyap karya Joshua Oppenheimer di Sekolah Seminar Teologi Jakarta dibatalkan pada 30 September.

Sebanyak 70 polisi meminta pemutaran film dibatalkan dengan alasan ada ancaman dari kelompok Front Pembela Islam (FPI).  

Di saat yang bersamaan, Kepala Polisi Daerah Inspektur Jenderal Tito Karnavian menonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI dengan FPI di Cawang, Jakarta Timur.

Jumat, 9 Oktober 2015. Badan Inteijen Nasional (BIN) dan polisi telah mengatakan akan mencabut izin Ubud Writer’s Fetival di Bali jika panitia tetap mereka memutar dokumenter Senyap, film kedua Oppenheimer soal pembantaian 1965 setelah Jagal. Akhirnya, panitia bersedia membatalkan pemutaran film.

Senin, 12 Oktober 2015. Tom Iljas, 77 tahun, seorang warga negara Indonesia yang tinggal di Swedia, berniat untuk berdoa di makam ayahnya yang merupakan korban pembunuhan massal saat tragedi 1965 di Pesisir Selatan, Sumatera Barat.

Namun, Tom diamankan oleh polisi dan imigrasi dengan tudingan membuat dokumentasi yang dianggap membahayakan keamanan negara.

Tom adalah salah satu mahasiswa tehnik mekanisasi pertanian tahun 1960 yang dikirim oleh Kabupaten Pesisir Selatan Sumatra Barat ke Tiongkok. Niat awal hanya untuk melanjutkan sekolah berlanjut menjadi pembuangan bertahun-tahun karena dia kemudian terhalang pulang dan akhirnya ia menjadi eksil di Swedia.

Anggota Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang Wendra Rona Putra menuturkan, Tom yang sudah bertahun-tahun tak pulang kampung, akhirnya mendapat kesempatan langka itu. Dia akhirnya bisa pulang ke Indonesia pada 11 Oktober. Dengan membawa kamera foto, Tom pergi ke makam ibunya, almarhum Siti Mawar, di pemakaman Kampung Salido, Sumatera Barat.

Baca kisah lengkapnya di sini. 

Minggu, 18 Oktober 2015. Awal Oktober ini, Lembaga Pers Mahasiswa FISKOM UKSW Salatiga menerbitkan Majalah Lentera edisi Nomor 3/2015.

Majalah Lentera mengangkat tema G30S dengan angle peristiwa di Salatiga dengan judul “Salatiga Kota Merah”.

Namun, pada Minggu,18 Oktober 2015, Polres Salatiga melakukan pemanggilan terhadap staf Lembaga Pers Mahasiswa FISKOM UKSW Salatiga, yang menerbitkan Majalah Lentera.

Polisi meminta agar Majalah Lentera yang sudah diedarkan ditarik lagi untuk diserahkan ke pihak kepolisian. 

Majalah tersebut bisa diunduh di sini. —Rappler.com

BACA JUGA:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.