Gajah pun protes kebakaran hutan

Denni Risman
Gajah pun protes kebakaran hutan

EPA

"Mereka mengamuk, mengeluarkan suara teriakan-teriakan yang sangat keras. Ini membuat proses pemadaman kebakaran jadi sangat rawan"

 

PEKANBARU, Indonesia — Upaya tim untuk memadamkan kebakaran hutan di Riau terhambat tidak hanya oleh kabut asap yang membatasi jarak pandang, namun juga  tiga kawanan gajah Sumatera liar yang mengamuk akibat kebakaran hutan. 

“Selama tiga hari kami memadamkan kebakaran selalu bertemu kawanan gajah liar. Mereka mengamuk, mengeluarkan suara teriakan-teriakan yang sangat keras. Ini membuat proses pemadaman kebakaran jadi sangat rawan,” kata Komandan Regu Konstrad Sersan Kepala Dian Syaifullah, Jumat, 23 Oktober. 

Personel Kostrad memadamkan kebakaran di daerah Bukit Apolo di Desa Bagan Limau, Pelalawan, sejak 20 Oktober. Area itu merupakan salah satu jalur perlintasan tiga kawanan gajah liar. 

“Awalnya kami berencana menginap di lokasi kebakaran, tapi suasana sangat mencekam dan rawan pada malam hari karena kawanan gajah kerap mengamuk, sehingga kami memutuskan mundur,” katanya.

GAJAH. Induk gajah dan anaknya berada di Bukit Tigapuluh, Jambi, ketika difoto pada Januari 2008. Konversi hutan menjadi perkebunan mengancam kehidupan gajah, harimau, dan orangutan di sana. Foto oleh EPA/WWF

Gajah yang habitatnya terganggu dengan kebakaran hutan ini menghancurkan kebun yang dibuat perambah hutan. Pada hari ketiga pemadaman, tim gabungan nyaris berpas-pasan dengan gajah yang sedang mengamuk. 

“Kami terpaksa diam sejenak menunggu kawanan gajah liar itu lewat baru bisa pulang,” katanya.

“Yang terbakar adalah lahan berupa belukar dan tanaman sawit milik perambah. Kami menduga kebakaran ini adalah karena perambahan di sana untuk membuka lahan sawit karena tanaman yang terbakar juga tidak subur.”

Dugaan pembakaran oleh perambah juga diperkuat dengan keberadaan 30 gubuk kayu yang dibangun perambah di Bukit Apolo. Ketika kebakaran terjadi, gubuk-gubuk itu terkunci dan kosong.

“Kalau mereka bukan perambah dan berniat baik, pasti mereka membantu kita padamkan api dan tidak lari,” katanya.

Helikopter tak bisa bekerja

WATER BOMBING. Dua helikopter bantuan BNPB untuk memadamkan kebakaran hutan di Riau terpaksa parkir di hangar Pangkalan Udara TNI AU Roesmin Nurjadin Pekanbaru, karena kabut asap tidak memungkinkan penerbangan. Foto oleh Denni Risman/Rappler

Jarak pandang di landasan pacu Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru kembali memburuk, membatasi jarak pandang hanya 200 meter. Aktivitas di bandara tersebut pun terhenti.

Kabut asap juga menghentikan operasi dua helikopter milik BNPB yang hendak melakukan pemadaman kebakaran hutan dengan water bombing. 

“Sangat berbahaya jika dipaksakan terbang dengan kabut asap yang pekat. Kondisi sudah masuk hari ke empat tidak ada pemadaman lewat udara,” ujar Komandan Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Riau Brigjen Nurendi. 

Lumpuhnya bandara membuat pemadaman kebakaran hanya dilakukan oleh tim darat. Tim ini adalah gabungan dari Tim Manggala Agni dari Kementerian Kehutanan dibantu oleh TNI dan Polri. 

Pada Kamis, 22 Oktober, jumlah titik api di Riau tercatat 31 titik, tersebar di Kabupaten Indragiri Hulu, Kabupaten Pelalawan, Indragiri Hilir dan Kabupaten Kepulauan Meranti. — Laporan dari Antara/Rappler

BACA JUGA:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.