JAKARTA, Indonesia — Pencipta serial Si Unyil pada tahun 1980-an, Suyadi, atau lebih dikenal sebagai Pak Raden meninggal dunia pada Jumat malam, 30 Oktober.
Pak Raden menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit Pelni Petamburan, Jakarta Barat, pada usia 82 tahun. Semasa hidupnya Pak Raden dikenal sebagai maestro dongeng Indonesia yang sangat peduli pada anak-anak.
Untuk mengenang hidupnya, berikut fakta-fakta mengenai Pak Raden yang mungkin belum kamu ketahui.
1. Lulusan Institut Teknologi Bandung
Lahir di Jember, Jawa Timur pada tahun 1932, Pak Raden sempat mengeyam pendidikan sarjana di Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung, Jawa Barat.
Dalam akun Facebooknya, dinyatakan bahwa Pak Raden lulus pada tahun 1955. Setelah lulus kuliah pada tahun 1961-1964 ia berangkat ke Paris, Prancis, untuk mengikuti sebuah program beasiswa yang di berikan oleh Pemerintah Prancis.
Di Paris, ia bekerja sebagai tenaga animator di Les Cineast Associest dan pelukis animasi Les Film Martin Boschet. Ia kemudian memilih keluar dari pekerjaannya dan memutuskan bekerja penuh sebagai seniman perupa. Persisnya, ilustrator atau senirupa aplikasi.
2. Menguasai empat bahasa asing
Selain dapat berbahasa Indonesia dengan baik, Pak Raden juga menguasai empat bahasa asing, termasuk bahasa Inggris, Belanda, Perancis, dan Italia.
Kemampuan berbahasanya ini sempat beberapa kali ditunjukan dalam serial Si Unyil. Karakter Pak Raden yang sedang marah terkadang menyisipkan bahasa Belanda dalam dialognya.
3. Sebenarnya tak berkumis
Mungkin menjadi pertanyaan banyak orang, mengapa Pak Raden sejak tahun 1980-an hingga akhir hayatnya selalu terlihat awet muda, seolah tak termakan waktu.
Rahasianya terletak pada kumis dan alis palsu yang selalu ia kenakan ketika pentas. Kumis dan alis tersebut ia pasang sendiri, lengkap dengan kain batik dan beskap khas Jawa.

4. Pecinta kucing
Bagi orang-orang disekitarnya, Pak Raden terkenal sebagai pecinta kucing.
Menurut laporan merdeka.com, Madun, pengasuh Pak Raden menjelaskan kecintaan Pak Raden terhadap kucing-kucing yang mampir kerumahnya.
“Bapak itu bela-belain naik ojek ke pasar untuk beli makan kucing. Beliau itu memberi makan kucing tidak sembarangan, tidak seperti pada umumnya diberikan sampah,” tutur Madun.
5. Mendedikasikan hidupnya untuk anak-anak
Dalam sebuah film dokumenter yang menceritakan tentang dirinya, Pak Raden mengaku bahwa ia sangat bahagia jika dapat terus melakukan sesuatu untuk anak-anak.
Seperti yang kita ketahui, tak hanya menggambar sambil mendongeng, bahkan Pak Raden juga membuat film, melukis, dan menulis untuk anak-anak.
“Saya bekerja di balik tirai untuk anak-anak,” kata Pak Raden.
Namun bagaikan Pak Geppeto dalam dongeng Pinokio, Pak Raden yang juga bisa membuat boneka tangan dari kayu juga tidak memiliki anak kandung. Meskipun begitu, hal tersebut tidak menahan dirinya untuk berkarya demi anak-anak Indonesia hingga akhir hayatnya. —Rappler.com
BACA JUGA:
- Selamat jalan, Pak Raden
- Membangun potensi kawasan seni dan budaya di Jakarta
- Yang muda, yang berdiplomasi melalui seni
There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.