Indonesia

Kisah prajurit memadamkan api, mulai dari dikejar gajah hingga sulit cari air

Denni Risman
Mereka juga dihadapkan dengan minimnya peralatan memadamkan api di lapangan. Ada juga yang terperosok ke dalam kanal sedalam 9 meter

Prajurit TNI dan anggota Kepolisian memadamkan api di lahan gambut di Desa Parit Indah, Kampar, Riau, pada 9 September 2015. Foto oleh EPA

PEKANBARU, Indonesia — Meski sekitar seribuan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) sudah ditarik kembali ke satuannya dari tugas memadamkan api di Pekanbaru, Riau, pekan lalu, ada banyak cerita yang diungkapkan oleh para prajurit Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) itu kepada Rappler.

Serka M. Toni dari Yonzipur 9 Divisi Infanteri 1 Kostrad, misalnya, mungkin tidak pernah membayangkan kejadian apa yang menantinya saat ia dikirim oleh Markas Besar TNI Angkatan Darat ke Riau.

Toni bersama puluhan prajurit lainnya mendapatkan tugas pemadaman di Bukit Apolo Taman Nasional Teso Nilo, Kabupaten Pelalawan. Untuk menuju lokasi api, mereka harus berjalan kaki cukup jauh karena akses jalan untuk kendaraan tidak memungkinkan.

“Karena lokasi titik api yang jauh, kami tidak bisa membawa peralatan pemadaman yang memadai seperti mobil pemadam dan mesin pompa air dari listrik,” kata Toni.

Tiba di Bukit Apolo, mereka melihat api sudah membakar lahan, tapi mereka tidak melihat ada sumber air di dekat itu. Dengan peralatan seadanya, Toni bersama satuannya akhirnya memadamkan api menggunakan daun-daun basah untuk memutuskan aliran api. 

Di tengah upaya pemadaman api di lahan itu, mereka dikejutkan dengan kawanan gajah liar yang keluar dari dalam hutan yang terbakar. Kawanan gajah itu ada sekitar tiga hingga lima ekor.

“Kami sempat dikejar,” ujar Toni. 

“Ya, kami lari pontang-panting juga menyelamatkan diri melihat kawanan gajah itu datang ke arah kami,” ucapnya sambil tertawa mengenang kejadian dikejar gajah.

Puluhan anggota Yonzipur ini beruntung bisa selamat dari amukan gajah, karena jarak mereka dengan gajah yang datang itu cukup jauh. Setelah kawanan gajah itu pergi, mereka kembali memadamkan api di lokasi itu.

Lain lagi cerita Kopral Dua TNI Bastian Maita, dari kesatuan Yonkes 1 Kostrad Bogor. Dia ditempatkan bersama prajurit lainnya di Tembilahan Indragiri Hilir. Kota Tembilahan dikenal dengan julukan Kota Seribu Kanal, karena begitu banyaknya kanal di kota itu.

“Pernah kejadian, saat menuju lokasi titik api, saya sempat jatuh dan terpersok ke dalam kanal. Kanalnya rupanya dalam juga,” tutur Bastian. Menurut Bastian, kedalaman kanal tempat dia terperosok ada sekitar 9 meter.

Sementara itu, Sertu Roni Pusla dari Yonzipur Kostrad menceritakan pengalaman dia dan rombongan menangkap pembalakan liar. Dia dan timnya waktu itu sedang patrol di kawasan hutan Pangkalan Kuras, Kabupaten Pelalawan.

“Saat patroli itu kami menemukan ada orang sedang merambah hutan. Dia kemudian ditangkap. Saat ditanya, pelaku mengaku disuruh oleh Kepala Desa disana. Dia dibayar oleh Kepala Desa itu untuk menebang pohon,” ujar Roni.

Pelaku kemudian dibawa ke Posko dan diserahkan ke Komandan Satgas Karhutla di Pekanbaru.

Masing-masing prajurit yang terjun ke lokasi yang jauh dari pemukiman dan dunia peradaban itu, punya pengalaman sendiri saat memadamkan api. Pengalaman itu mereka bawa pulang kembali ke kesatuan dan ke rumah untuk diceritakan kepada keluarganya.

Soal batuk dan iritasi mata, bukan lagi cerita asing bagi prajurit yang bertempur di medan kebakaran hutan dan lahan. Setiap hari berada di titik api, mulai dari memadamkan hingga mendirikan posko di sekitar lokasi yang jauh itu, membuat mereka terpapar kabut asap.

Beruntung, gangguan kesehatan mereka dengan mudah teratasi. —Rappler.com