Petisi tolak Sarwo Edhie jadi pahlawan kembali diluncurkan

Rappler.com
Nama Sarwo Edhie pernah dicalonkan sebagai pahlawan nasional pada 2014, namun batal

Poster yang terpampang di laman Change.org yang menolak dijadikannya Sarwo Edhie sebagai pahlawan nasional.

JAKARTA, Indonesia — Penulis Soe Tjen Marching pernah membuat petisi untuk menolak mantan Komandan Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) Sarwo Edhie Wibowo tahun lalu. Ia berhasil. Sarwo Edhie batal dinobatkan sebagai pahlawan nasional pada 2014.

Soe Tjen, yang juga merupakan anak korban tahanan politik 1965, kembali menggalang dukungan melalui petisinya di Change.org yang berjudul “Sarwo Edhie is NEVER a Hero.”

Dorongannya menginisiasi petisi kali ini didasarkan pernyataan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawans bahwa Sarwo Edhie akan dijadikan sebagai pahlawan nasional tahun ini.

“Sarwo Edhie adalah komandan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat) dari 1965-67. Beberapa laporan telah menjabarkan bahwa Sarwo Edhie telah mendalangi pembunuhan jutaan pendukung Sukarno, yang dianggap sebagai simpatisan komunis,” kata Soe Tjen dalam petisinya yang ditujukan untuk Presiden Joko “Jokowi” Widodo itu, pada Selasa, 10 November, yang bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan.

Soe Tjen melanjutkan orasi tertulisnya bahwa tahun lalu, ia meluncurkan petisi dan menuntut agar Sarwo Edhie tidak dinobatkan sebagai pahlawan telah berhasil.  

Tapi tahun ini, katanya, Khofifah menyatakan bahwa Sarwo Edhie akan segera dinobatkan sebagai Pahlawan. 

“Menobatkan Sarwo Edhie sebagai pahlawan nasional setelah dibatalkan pada tahun 2014, tidak saja menyatakan betapa tidak konsistennya pemerintah kita, namun juga akan menambah tumpukan ketidakadilan terhadap korban ’65 dan keluarga mereka, serta pengkhianatan terhadap HAM,” tulisnya.

Seorang warga Indonesia yang bernama Rini Siallagian juga sependapat. “Ini ide konyol dan bodoh,” kata Rini dalam kolom komentar di petisi ini.

Ketika Rappler meluncurkan pertanyaan di media sosial, pembaca Rappler juga menyerukan hal senada, seperti terangkum di bawah ini:

Siapa Sarwo Edhie? 

1965. Alih-alih disebut sebagai pahlawan, Oppenheimer mengatakan Sarwo Edhie adalah salah satu arsitek kejahatan pembantaian massal pada 1965. Foto dari Wikimedia

Sebagai salah satu tokoh militer teratas Indonesia saat itu, Sarwo Edhie diduga mendalangi pembunuhan ratusan ribu warga — bahkan ada yang menyebut angkanya mencapai jutaan — yang dicurigai sebagai pengikut atau simpatisan komunis.

Sejarah kelam periode 1965-1966 menyisakan jutaan orang Indonesia yang dianggap komunis atau kerabat komunis dibunuh, dipenjara, dan disiksa tanpa pengadilan.

Banyak dari mereka yang dibuang ke tempat pengasingan dan hingga kini tak diberikan beberapa hak politiknya sebagai warga negara Indonesia. Perkiraan korban yang tewas saat kejadian itu berkisar antara 500.000 dan 2 juta jiwa. Bahkan sampai hari ini, keluarga dan keturunan tahanan politik masih hidup dalam teror dan ketakutan.

Oppenheimer, yang mengangkat tema ini dari sudut pandang pelaku dan korban, pernah mengatakan, “Sarwo Edhie adalah salah satu arsitek kejahatan ini.

“Menetapkannya sebagai pahlawan nasional adalah sebuah pernyataan kepada dunia bahwa Indonesia akan terus menjadi negeri tempat bercokolnya ketakutan, korupsi, dan kekerasan.”

Sarwo Edhie merupakan suami dari Sunarti Sri Hadiyah. Mereka memiliki 6 orang anak, salah satunya adalah Kristiani Herrawati atau Ani. 

Ani kemudian menikah dengan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang menjadi presiden RI keenam. Ani selanjutnya lebih dikenal dengan nama Ani Yudhoyono. 

Anak Sarwo Edhie lainnya, Pramono Edhie Wibowo, adalah mantan Kepala Staf Angkatan Darat.

Pengangkatan Pramono sebagai KSAD sempat menuai protes dari berbagai kalangan termasuk lembaga Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) karena diduga mengandung unsur nepotisme. 

Pengumuman nama Sarwo Edhie sebagai pahlawan pun tak lepas dari andil Pramono dan SBY. Tepat pada 9 November 2013, Pramono mengatakan bahwa ia sudah mendengar dari SBY, yang saat itu menjabat sebagai presiden bahwa ayahnya akan menerima penghargaan sebagai pahlawan.  

“Tadi sore Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan Dewan Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan telah menyetujui usulan agar Pak Sarwo Edhie sebagai pahlawan nasional,” kata Pramono saat itu. —Rappler.com

BACA JUGA: