10 hal penting tentang COP 21 di Paris

Pia Ranada
Kesepakatan Paris akan menentukan masa depan manusia dan kemanusiaan. Tiap inci kesepakatan menentukan keberlangsungan lingkungan dan ekosistem di dunia.

PENDUKUNG PERUBAHAN IKLIM. Paus Fransiskus menunjukkan dukungan kuat atas Kesepakatan Paris. Foto oleh Johannes Eiselle/AFP.

JAKARTA, Indonesia – Dua hari lagi, pada 30 November 2015, Presiden Joko “Jokowi” Widodo akan menyampaikan pidato pada sesi pemimpin negara anggota Conference of Parties (COP) 21, atau dikenal dengan sebutan Konperensi Perubahan Iklim.

Nama COP 21 adalah sebutan singkat dari Kerangka Kerja Perserikatan Bangsa-Bangsa Untuk Perubahan Iklim (UNFCCC). 

Indonesia pernah menjadi tuan rumah konperensi ini pada tahun 2007,  COP 13,  dan menghasilkan Bali RoadMap untuk Perubahan Iklim.

Dari Bali sampai Paris, apa yang telah dilalui?  Berikut sejumlah hal penting mengenai COP 21 di Paris

1. Apa, kapan, di mana dan siapa saja yang ikut serta?

COP 19. Sekretaris Jendral PBB Ban Ki Moon berpidato di depan delegasi delegates dalam the 19th Conference of Parties di Warsawa, Polandia tahun 2013. UN Photo/Evan Schneider

COP 21 adalah forum di mana wakil resmi dari 195 negara dan 1 blok ekonomi (Uni Eropa) bertemu mendiskusikan rencana kemanusiaan untuk memerangi perubahan iklim.  Rencana aksi itu akan diterbitkan dalam kesempakatan tertulis yang akan disebut:  Kesepakatan Paris untuk Perubahan Iklim.

Konperensi akan digelar selama dua pekan, dan secara resmi berlangsung dari 30 November sampai 31 Desember 2015, dengan tuan rumah pemerintah Perancis.  COP 21 berlokasi di kawasan Le Bourget.

Meskipun Paris masih dalam situasi mencekam akibat ancaman teroris setelah terjadinya #ParisAttacks, 147 kepala pemerintahan menyatakan akan hadir dalam pertemuan tingkat pemimpin. 

Kehadiran para kepala pemerintahan menunjukkan dukungan atas agenda penting perubahan iklim dan sikap tidak gentar atas serangan teroris.

2.  Kesepakatan Paris bertujuan untuk menghentikan  suhu pemanasan bumi agar tidak melebihi 2 derajat Celsius.

ILUSTRASI PERUBAHAN IKLIM.

Para ahli mengatakan bahwa jika suhu bumi melebihi batas 2 derajat celcius, maka perubahan iklim akan sulit dibendung dan menimbulkan bencana skala besar.  

Saat ini suhu bumi sudah mencapai sekitar 0,85 derajat Celsius. Juli 2015, tercatat sebagai waktu di mana suhu bumi paling panas dalam sejarah modern manusia.

 Untuk mencapai tujuan tersebut, negara perlu berkomitmen untuk mengurangi bahkan menghentikan emisi karbon dioksida secepat mungkin. 

 Panas matahari yang terperangkap dalam Gas Rumah Kaca di atmosfir bumi menyebabkan planet bumi terus memanas.

 Para ahli berpendapat satu-satunya cara untuk memelihara suhu bumi di bawah 2 derajat celcius adalah dengan memangkas emisi karbon dioksida setidaknya 70 persen pada tahun 2050.

 3. Di Paris, negara perlu memasukkan komitmen mengenai berapa banyak emisi karbon dioksida yang bakal dipangkas.

EMISI KARBON. Pembangkit listrik batubara adalah sumber utama emisi kabon dioksida, padahal juga sumber utama energi listrik di berbagai negara.

Negara-negara diharapkan memasukkan angka yang pasti.  Angka kontribusi penurunan emisi karbon dioksida itu disebut dengan Intended Nationally Determined Contribution (INDC). Indonesia INDC bisa dibaca di sini.

Indonesia berkomitmen menurunkan emisi karbon sebesar 29 persen (dengan catatan business as usual), pada 2030.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar menjelaskan bahwa INDC Indonesia berorientasi pada pembangunan masa depan rendah karbon. Fokusnya, sektor pangan, energi, dan sumber daya air, serta memerhatikan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan.

INDC Indonesia memiliki kekhasan dengan menjadikan masyarakat adat sebagai faktor penting dalam upaya mengatasi perubahan iklim. “Kita sudah menyepakati temanya, ketahanan iklim,” kata Siti.

Karena angka penurunan emisi karbon dibuat oleh masing-masing negara, maka mereka harus memiliki hitungan bagaimana mencapai dan melalui rencana aksi apa saja.

Bagian pertama dari INDC setiap negara adalah target mitigasi.  Mitigasi adalah upaya yang dilakukan untuk mengurangi emisi karbon.

Setiap negara dapat melakukan mitigasi dengan mengelola sektor transportasi, energi, pertanian, kehutanan dan perumahan, sehingga mereka bisa mengurangi emisi karbon dioksida.

Indonesia misalnya mengambil langkah signifikan dalam skema  Land Use, Land-Use Change and Forestry (LULUCF). Langkahnya konkretnya dengan moratorium lahan hutan primer dan melarang konversi lahan gambut dalam periode 2010 – 2016. 

Kebakaran lahan gambut secara masif membuat Presiden Jokowi secara tegas meminta tidak ada izin pembukaan lahan gambut.

Di bidang energi, Indonesia menerbitkan aturan pencampuran energi dalam bahan bakar bagi transportasi, dengan 23 persen porsi energi terbarukan pada 2030.

4. Negara-negara perlu memastikan bahwa dunia siap untuk menghadapi efek perubahan iklim.

Para ahli mengatakan seberapa pun besarnya dunia mengurangi emisi karbon, perubahan iklim akan berlanjut. Ini berarti, dunia harus siap sedia. 

Bagian kedua dari INDC setiap negara adalah adaptasi, yaitu bagaimana menyiapkan penduduk dunia untuk menghadapi dampak perubahan iklim.

Dampaknya berupa: kenaikan permukaan laut, lebih banyak kejadian akibat cuaca ekstrim, kekeringan parah dan berkepanjangan, serta suhu bumi yang terus memanas. Semua fenomena itu membahayakan sektor pertanian, mengancam ketahanan pangan, ketahanan air, kesehatan dan banyak lagi.

Melalui INDC setiap negara berjanji membuat program untuk memastikan semua sektor yang rentan terkena dampak perubahan iklim lebih siap dan tahan.

5. Delegasi mewakili negara akan berunding untuk menyetujui Kesepakatan Paris

DELEGASI. Para wakil negara mengikuti sidang pleno COP 20 di Lima, Peru, Desember 2014.Photo by Paolo Aguilar/EPA

Setiap negara atau “party” dari UNFCCC akan diwakili delegasi untuk berunding dan menegosiasikan posisi pemerintahnya di Paris. 

Jumlah delegasi biasanya bervariasi dari 20 sampai 100-an, yang biasanya kombinasi antara pejabat di lingkungan pemerintah yang terkait dengan kerja perubahan iklim dan para ahli.

Delegasi Indonesia ke pertemuan pemimpin COP 21 akan dipimpin langsung oleh Presiden Jokowi.  Delegasi dalam perundingan Kesepakatan Paris akan dipimpin oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya Bakar, yang akan didampingi Direktur Jendral Perubahan Iklim Nur Masripatin. 

Delegasi Indonesia diperkuat oleh utusan khusus Presiden Urusan Perubahan Iklim, Rachmat Witoelar dan Ketua Panitia Pengarah Nasional untuk Perubahan Iklim, Sarwono Kusumaatmadja. 

Rachmat dan Sarwono pernah menjabat menteri lingkungan hidup yang dalam kabinet pemerintahan sebelumnya menjadi penanggung jawab sektor perubahan iklim.

6. Sudah ada konsep Kesepakatan Paris.

LOGO COP 21.

Rancangan konsep Kesepakatan Paris disebut teks negosiasi Jenewa. Panjangnya sekitar 90 halaman. Rancangan ini yang dipelototi, dipelajari, dinegosiasikan berbulan-bulan, dan bakal berlanjut di Paris.

Para perunding berdebat soal penggunaan kata, istilah, bahkan singkatan.  Detil-detil bisa memakan waktu berjam-jam untuk disepakati.  Bahkan dalam COP 20 di Lima, Peru, yang menjadi ajang perundingan “Road to Paris”, perundingan melewati waktu berjam-jam dari batas akhir yang dijadwalkan panitia. 

Setiap kalimat akan menentukan efektivitas Teks Jenewa yang akan diadopsi menjadi Kesepakatan Paris.

Para anggota delegasi bisa dibagi ke grup-grup kecil yang secara spesifik membahas isu tertentu.  Semua delegasi akan berkumpul di ruang pleno saat ada pengumuman penting dan sebuah kesepakatan penting dicapai.

7.  Prospek Kesepakatan Paris menjanjikan

Pendukung Perubahan Iklim. Paus Fransiskus menunjukkan dukungan kuat atas Kesepakatan Paris. Photo by Johannes Eiselle/AFP

Para pembuat kebijakan, pemimpin dunia, ahli perubahan iklim, optimistis COP 21 akan menjadi tonggak penting bagi kesepakatan dunia dalam memerangi perubahan iklim.

Dua negara produsen emisi karbon terbesar di dunia, Amerika Serikat dan Tiongkok sepakat mendukung lahirnya Kesepakatan Paris

Kesepakatan dikukuhkan dalam kunjungan Presiden Tiongkok Xi Jinping ke Gedung Putih bertemu dengan Presiden Barack Obama, November 2015.

Ada kecenderungan negara-negara beralih dari penggunaan batubara  yang dianggap sebagai penghasil emisi karbon yang bear. 

Pemerintahan Presiden Xi Jinping menerbitkan aturan dalam tiga tahun mendatang, seluruh pembangkit listrik di Tiongkok harus memenuhi “near zero emission“.  Inovasi di bidang pengolahan batubara sebagai bahan baku produksi energi terus dilakukan.

Di pelbagai belahan dunia, energi terbarukan makin murah dan kian diandalkan.  Sosok pemimpin berpengaruh seperti Paus Frasiskus, pemimpin umat Katolik, mendorong tercapainya Kesepakatan Paris. 

“Terus perbaiki atau rusak lingkungan,” kata Paus Fransiskus saat kunjungan ke Kenya, Kamis pekan ini. 

Dia mengatakan para pemimpin dunia yang hadir di Paris harus berkomitmen mencapai target ambisius pengurangan emisi karbon untuk mencegah pemanasan bumi melewati 2 derajat Celsius.

Menurut Paus Fransiskus, pemimpin dunia harus mendengar tangis kemanusiaan dan bumi akibat perubahan iklim

8. Apa saja ketidakpastian yang membayangi kualitas Kesepakatan Paris?

KONVERSI ENERGI. Apakah Kesepakatan Paris akan membantu negara berkembang dan negara miskin untuk konversi ke penggunaan energi yang lebih bersih? Foto oleh Michael Josh Villanueva

Sejumlah pertanyakan menggantung, dan perlu dijawab: Apakah INDC yang disampaikan negara-negara cukup untuk menjaga perubahan suhu bumi di bawah 2 derajat Celsius?  Bagaimana memastikan komitmen dalam INDC dilaksanakan? 

Bagaimana memastikan negara-negara miskin mau beralih ke sumber energi yang lebih bersih (di Indonesia kita mengalami proses yang berat dalam konversi penggunaan minyak tanah bagi rumah tangga ke gas elpiji). 

Soal pembiayaan bagi konversi penggunaan energi yang lebih bersih juga dipertanyakan, dari mana sumbernya?  Bagaimana negara-negara miskin mengantisiasi dan bersiaga atas dampak kerusakan akibat perubahan iklim?

9.  Paris bukanlah konperensi perubahan iklim yang pertama, dan pastinya bukan yang terakhir.

BERSATU UNTUK PERUBAHAN IKLIM. Sejumlah aktivis berkumpul di depan area COP 20 di Lima, Peru, Desember 2014. Foto oleh Cris Bouroncle/AFP

COP 21 adalah konperensi ke-21 tentang perubahan iklim yang diselenggarakan UNFCCC.  Tahun lalu COP 20 dilakukan di Lima, Peru.  Tahun sebelumnya, 2013 di Warsawa, Polandia.  COP pertama diadakan di Berlin, Jerman, pada tahun 1995.

Setiap COP bertujuan untuk mengatasi problem yang ada, dan menyiapkan diri menghadapi perubahan iklim.

COP 21 di Paris memiliki nilai historis, karena akan melahirkan kesepakatan yang mengikat (legally binding), sesuatu yang pertama kali sejak Protokol Kyoto yang dianggap gagal, dibuat pada COP 3 di Jepang.

Tahun depan, dengan penyelenggaraan COP 22, bukan berarti COP 21 gagal.  COP berikutnya dapat melahirkan perubahan menuju perbaikan dari Kesepakatan Paris, juga dapat menjadi ajang evaluasi kemajuan setiap negara dalam program memerangi perubahan iklim.

10.  Mengapa kita harus peduli terhadap COP 21?

MASA DEPAN KEMANUSIAAN. Sebuah komunitas yang menjadi korban dahsyatnya topan Haiyan menulis pesan untuk kemanusiaan.

Dalam berbagai aspeknya, COP 21 akan menentukan nasib manusia dan kemanusiaan.  Banyak hal di masa depan akan bergantung kepada apa yang dicapai dalam Kesepakatan Paris, dan bagaimana negara melaksakan komitmennya dalam dekade ke depan.

Jika Kesepakatan Paris hasilnya lemah dan tidak dijalankan secara serius, para ahli memperkirakan kita akan melihat dunia yang menyedihkan pada 2050, atau 2100.  Ketika itu, Kebakaran hutan di hutan Amazon Brasil akan meningkat dua kali lipat luasannya. 

Begitu pula di Indonesia yang kalang-kabut menghadapi Kebakaran hutan dan lahan sejak Agustus lalu, dan hanya bisa diatasi setelah turunnya hujan.

Gagalnya Kesepakatan Paris juga akan kita lihat dalam bentuk mencairnya lapisan es, pengungsian besar-besaran atas penduduk yang terkena dampak kenaikan permukaan air laut, ratusan ribu orang terbunuh karena bencana angina topan yang dahsyat, sampai ratusan spesies hewan dan tumbuhan yang akan punah.

Generasi mendatang, anak dan cucu kita boleh jadi tak akan pernah melihat hewan yang diperkirakan akan punah karena perubahan iklim, termasuk Panda dan Orang Utan.

Suhu bumi yang terus memanas melewati ambang batas juga berarti kian sulitnya menanam tumbuhan padi dan jagung yang menjadi makanan pokok lebih dari separuh penduduk bumi saat ini.  Air bakal makin sulit didapat. 

Perkelahian antar suku bahkan antar negara dalam memperebutkan sumber-sumber pangan, energi dan air mengancam. Bayangkan, jika anak dan cucu kita hidup dalam situasi perang untuk mendapatkan air bersih.

Sebagian dari kondisi ini sudah dirasakan oleh sejumlah negara.  Banyak di antara mereka adalah negara termiskin di dunia.  COP 21 akan menentukan pula bagaimana dunia akan menolong negara-negara yang rentan terkena dampak perubahan iklim.

Pendeknya, COP 21 adalah forum penting untuk menjaga kondisi hari ini dan masa depan dari manusia dan kemanusaan.—Rappler.com

Baca Juga:

Pia Ranada

Pia Ranada is a senior reporter for Rappler covering Philippine politics and environmental issues. For tips and story suggestions, email her at pia.ranada@rappler.com.