Indonesia perlu fokus dana pencegahan kebakaran hutan

Uni Lubis
Indonesia perlu fokus dana pencegahan kebakaran hutan
Ada 3 hal yang Indonesia perlu perhatikan terkait isu pendanaan di Konferensi Perubahan Iklim COP 21

PARIS, Perancis — Para perunding dan diplomat Indonesia di forum Konferensi Perubahan Iklim, atau Conference of Parties (COP) 21, di Paris, Perancis, perlu menyelaraskan diri dengan isu aktual yang menjadi perhatian publik dunia, yaitu isu kebakaran hutan dan lahan. Hal ini harus menjadi fokus pula dalam negosiasi terkait pendanaan (financing).

“Isu carbon trading bukan lagi hal penting dalam COP kali ini,” kata Lin Che Wei, penasihat kebijakan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas, di sela-sela COP 21 di Paris, Senin, 30 November.

Kepada Rappler, Lin Che Wei mengatakan bahwa dalam 17 tahun terakhir ketika kebakaran hutan dan lahan kian sering terjadi, pemerintah tak pernah mengalokasikan dana untuk pencegahan. 

“Yang ada dana untuk memadamkan kebakaran. Padahal hitungannya, dana pencegahan akan lebih murah 25 sampai 50 kali lipat ketimbang dana pemadaman,” katanya.

Dalam wawancara dengan TV Al Jazeera menjelang keberangkatan ke COP 21 kali ini, Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengatakan bahwa pemerintah telah menghabiskan tak kurang dari 30 juta dolar AS untuk memadamkan api kebakaran hutan dan lahan yang berlangsung masif. 

“Dampak El Nino membuat kekeringan luar biasa sehingga lahan mudah terbakar,” kata Jokowi.  

Ia menggambarkan sulitnya memadamkan api di lahan gambut karena letak titik api berada jauh di dalam, sampai 4 meter di bawah permukaan lahan. Jokowi meminta bantuan dunia internasional untuk atasi kebakaran hutan dan lahan gambut.

Lin Che Wei, yang juga ahli bidang pasar modal ini, mengatakan Indonesia dapat memanfaatkan forum COP 21 untuk menggugah kepedulian dunia akan pentingnya menjaga hutan yang menjadi paru-paru dunia.

Ada tiga hal yang menurut Lin Che Wei perlu menjadi perhatian bagi negosiator Indonesia di Paris. Pertama, mengenai jumlah yang didapatkan haruslah mencerminkan Indonesia sebagai negara yang memiliki luasan hutan besar.

Agus Justianto, staf ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan bidang ekonomi dan sumber daya, mengatakan bahwa luas hutan Indonesia sekitar 130 jutaan hektar, dan ada di posisi ke-3 di dunia setelah Brasil dan Kongo.

Selain itu, Indonesia harus mampu meyakinkan bahwa Indonesia adalah negara maritim yang memiliki aset kepulauan yang penting bagi dunia. 

Dan ketiga, Indonesia harus bisa meyakinkan dunia bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan juga memiliki pulau-pulau yang rawan terkena dampak perubahan iklim berupa peningkatan permukaan air laut. —Rappler.com

BACA JUGA:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.