Luhut: Di mana salah saya?

Febriana Firdaus
Luhut: Di mana salah saya?

ANTARA FOTO

"Pak Luhut mesti diberikan jempol dia," kata salah seorang anggota MKD.

JAKARTA, Indonesia—Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan memasuki ruangan konferensi pers di aula kementerian Jumat sore, 11 Desember.

Ia mengenakan kemeja putih. Tak ada senyum yang menghias wajahnya. Ia langsung memulai konferensi pers sore itu. 

Di sebelah kanan dan kirinya sudah hadir pejabat-pejabat kementerian yang lain. Mereka ikut mendengarkan keterangan Luhut tentang dugaan keterlibatannya di pencatutan nama Presiden Joko “Jokowi” Widodo dalam negosiasi kontrak PT Freeport Indonesia. 

Ia kemudian membuka pernyataannya dengan menyebut keluarganya. “Saya melakukan konferensi pers ini terus terang adalah tanggung jawab saya kepada keluarga saya. Apa yang berkembang di masyarakat ini telah mengganggu dignity dari keluarga saya,” katanya. 

Luhut memposisikan bukan hanya sebagai pejabat, tapi juga suami, ayah, dan kakek. “Jujur saya ingin katakan, tadinya saya tidak terlalu peduli masalah ini, saya anggap itu dinamika dalam kehidupan. Begitu merasuk pada istri saya, anak saya, dan cucu-cucu saya, saya pikir sudah,” katanya. 

Keterangan pers itu juga ia tujukan pada orang-orang yang menghujatnya. “Di mana salah saya?” katanya. 

Luhut mengatakan, kasus pencatutan nama presiden ini membuat bangsa Indonesia terkoyak-koyak. 

Di akhir pernyataannya, ia siap mempertaruhkan semua. “Karena saya hanya akan mengabdi pada negara Republik Indonesia ini. Dengan umur saya seperti ini, saya hanya akan loyal pada pimpinan saya, yang kebetulan Presiden Republik Indonesia,” katanya.  

Sekawan dengan Riza Chalid dan Setya Novanto 

Dalam konferensi pers itu, Rappler menanyakan ihwal kedekatannya dengan pengusaha Muhammad Riza Chalid. Informasi yang dimiliki Rappler, Luhut pernah bertemu dengan Riza saat masih menjabat Kepala Staf Kepresidenan. 

Ternyata kabar itu tidak dibantah oleh Luhut. “Ya saya pernah ketemu Riza, itu teman lama saya. Tidak ada yang salah dari yang saya lakukan, saya punya hak berteman dengan siapa saja,” katanya. 

Selain Riza, ia juga berteman dengan Ketua DPR Setya Novanto. “Saya juga berteman dengan saudara Novanto, juga dalam posisi dia sebagai ketua DPR kami bekerjsama, sehingga dengan demikian hubungan antara parlemen dengan pemerintah bisa berjalan dengan baik,” katanya. 

Luhut mengatakan, ia sempat dilarang untuk datang ke pernikahan anak Setya Novanto. “Tapi ini perkawanan. Saya melihat, salah apa anaknya kalau saya ndak datang. Kalau perkawanan itu perkawanan,” katanya. 

Sebelumnya, dalam rekaman, Setya dan Riza menyebut nama Luhut. Ia menuturkan Luhut banyak “membantu” dalam penyelesaian “masalah”.

“Tapi kalau pengalaman kita, artinya saya dengan Pak Luhut, pengalaman-pengalaman dengan presiden, itu rata-rata 99 persen gol semua, Pak,” kata Setya kepada Maroef dalam transkrip yang beredar di media.

(BACA: Luhut bantah catut nama Jokowi dalam negosiasi Freeport)

Freeport pernah meminang Luhut 

Dalam pertemuan sore ini dengan media, Luhut juga mengungkap pernah dipinang oleh bos Freeport Jim Bob Moffett pada April 2012 lalu.

“Saya masih pengusaha. Saya diundang dia untuk ketemuan. Dia minta saya gabung dengan Freeport, kemudian tidak jadi karena pemerintah Indonesia tidak setuju,” katanya. 

Saat itu Presiden Republik Indonesia masih dijabat oleh Susilo Bambang Yudhoyono dengan Menteri Energi Sumber Daya Mineral, Jero Wacik. 

Pada tahun itu, presiden direktur dijabat oleh Rozik B Soetjipto. Rozik duduk dalam Dewan Komisaris PT Freeport Indonesia sejak tahun 2000. Ia masih menjabat menjadi presiden direktur hingga 2013. 

Rozik lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan teknik pertambangan, serta mengantongi gelar doktor di bidang teknik metalurgi dari Katholieke Universiteit Leuven di Belgia.  

Selain itu, Rozik pernah menduduki pelbagai jabatan senior selama beberapa tahun pada Departemen Pertambangan dan Energi, termasuk sebagai Direktur Jenderal Pertambangan dari tahun 1998-1999 dan Menteri Negara Pekerjaan Umum dari tahun 1999-2000.

MKD: Luhut itu negarawan 

Dalam sidang itu, awak media juga dikejutkan dengan kehadiran anggota MKD, Kahar Muzakkir, Ridwan Bae, dan Adies Kadir. Ketiganya melempar senyum saat diperkenalkan oleh Luhut. 

Mengapa mereka hadir ke konferensi pers sore itu? “Kami datang diundang. Kami harus menghargai undangan seorang Menkopolhukam,” kata Ridwan. 

Mengapa tidak menunggu Senin besok saat Luhut dipanggil?

“Kami dari MKD hanya  ingin mendengarkan apa yang disampaikan Pak Menkopolhukam. Tentu kami MKD mencari data, informasi. Paling tidak untuk sebagai bahan kami,” katanya. 

Mengapa undangan itu tidak ditolak oleh MKD?

“Bagaimana kita tidak mendengar, MKD kan untuk mendengarkan. Jangan halangi kami untuk mendengarkan, masak kami tidak mendengarkan langsung, kan jauh lebih bagus daripada di TV dan koran,” kata Ridwan dengan nada tinggi. 

Menurut Ridwan, Luhut hanya ingin meluruskan persoalan yang membuat gaduh dunia perpolitikan di tanah air.

“Niat Pak Luhut tadi baik sebagai putra bangsa. Dia tidak bermaksud membela siapa-siapa. Tapi beliau ingin bermaksud membawa dan mengajak masyarakat untuk berpikir obyektif,” katanya. 

“Dengan tidak bermaksud membela siapa-siapa kita butuh negarawan yang seperti ini. Negara ini tujuannya untuk bagaimana negara tidak dalam kegaduhan terus-menerus tanpa dilandasi fakta-fakta riil,” katanya. 

Ia justru menuding balik Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said yang melaporkan Setya Novanto dengan bukti rekaman yang tidak utuh.

“Harusnya kalau dia tidak punya bukti, Pak Sudirman said, dia tidak boleh mengajukan ini ke MKD. Yang pada akhirnya terjadi keributan seperti ini,” katanya. 

Di akhir pernyataannya, Ridwan memuji Luhut. “Pak luhut mesti diberikan jempol dia. Oleh karena itu kita berharap ada Luhut-Luhut berikutnya yang akan tampil apa adanya tidak membela siapa siapa, bicara jujur dengan tujuan satu, negara harus tenang dengan kebenaran yang ada,” katanya. 

Luhut sendiri siap menghadapi sidang MKD Senin besok. “Jangan challenge saya, saya tentara. Sepanjang saya tidak salah saya akan hadapi siapapun dia. Tentara saya keluar. Saya baru reuni dengan tentara-tentara saya yang terjun kami 40 tahun di Laut Timor Timur. Saya menghadapi kematian di situ saya tidak takut, apalagi ini,” katanya. —Rappler.com

BACA JUGA

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.