Latin America

Strategi Indonesia hadapi MEA 2015: Defensif

Uni Lubis
Strategi Indonesia hadapi MEA 2015: Defensif
Menteri Perindustrian Saleh Husin menjawab pertanyaan soal kesiapan Indonesia memasuki pasar bersatu ASEAN. Industri mana yang siap? Yang terpukul?

 

JAKARTA, Indonesia – Hari ini dimulai berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).  Kesepakatan ini menjadikan wilayah ASEAN dengan 10 negara anggotanya sebagai pasar bersatu dan basis produksi bersama.  MEA, adalah juga pasar bagi 630 juta penduduk, atau pasar keempat terbesar di dunia.  Ada lima hal penting yang perlu diketahui tentang MEA dan konsekuensinya

Siapkah Indonesia?

Rappler menanyakan soal ini kepada Menteri Perindustrian Saleh Husin pada Rabu (30/12).  Berikut jawaban tertulisnya atas  pertanyaan yang kami ajukan:

1.Bagaimana pemerintah menyiapkan industrinya dalam menyongsong MEA?

Kementerian Perindustrian telah menyiapkan langkah-langkah dalam menghadapi MEA, yang secara umum dapat dibagi kedalam 2 (dua) bidang yaitu: (1) bidang Trade in Goods (Perdagangan Barang), dan (2) bidang Trade in Services (Perdagangan Jasa).  Kementerian Perindustrian telah melakukan langkah-langkah peningkatan daya saing industri dan mendorong investasi di sektor industri. Peningkatan daya saing industri dilakukan melalui penguatan struktur industri dengan melengkapi struktur industri yang masih kosong dan menyiapkan strategi ofensif dan defensif dalam akses pasar.

2. Sudah siapkah Industri lokal menghadapi MEA? 

Secara umum siap tidak siap, industri harus sudah siap dengan diberlakukannya MEA pada akhir bulan Desember 2015 ini. Secara garis besar industri telah mempersiapkannya dalam bersaing dengan serbuan produk maupun jasa dari luar. Ada beberapa catatan:

Industri apa yang belum siap?
Beberapa industri yang belum siap dalam persaingan MEA, antara lain: industri komponen elektronik, industri Information Technology (IT)  dan peralatan elektronik rumah tangga, industri bahan baku (basic manufacture) dan industri lainnya.

Industri apa yang paling siap?
Industri yang paling siap dalam menghadapi persaingan MEA ada  9 (sembilan) sektor yaitu: (1) Industri berbasis agro (CPO, kakao, dan karet), (2) ikan dan produk olahannya, (3) tekstil dan  produk tekstil, (4) alas kaki (sport shoes) dan produk kulit, (5) furnitur, (6) makanan dan minuman, (7) pupuk dan petrokimia, (8) mesin dan peralatannya, serta (9) logam dasar besi dan baja.

Apa industri andalan Indonesia?
Beberapa industri andalan Indonesia, antara lain: industri Tekstil & Produk Tekstil, Industri Furniture dan Industri berbasis Agro.

3.  Berlakunya MEA akan paling mempengaruhi industri apa saja? Apa yang paling terancam?

Pada dasarnya dengan diberlakukannya MEA seluruh sektor industri akan terpengaruh, namun yang paling terancam yaitu industri industri komponen elektronik, industri IT dan peralatan elektronik rumah tangga, industri bahan baku (basic manufacture) dan industri lainnya.

4. Adakah alat regulasi untuk  melindungi Industri lokal dari serangan industri asing?

Untuk melindungi industri lokal dari serangan industri asing dilakukan melalui strategi defensif yaitu dengan cara penyusunan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk produk-produk manufaktur.

5. Menurut prediksi Kemenperin, negara dan jenis industri apa saja yang bernafsu mengincar pasar Indonesia?

Negara yang kemungkinan besar akan menyerang pasar indonesia antara lain yaitu Malaysia, Thailand dan Singapore dengan jenis industri komponen elektronik, industri IT dan peralatan elektronik rumah tangga, industri bahan baku (basic manufacture) dan industri lainnya.

Kementerian Perindustrian telah melakukan langkah-langkah peningkatan daya saing industri dan mendorong investasi di sektor industri. Foto istimewa

6. Bagaimana peluang kita di dalam MEA?  Bisakah kita mendominasi? Atau kita akan di dominasi?

Peluang industri untuk memenangkan persaingan dalam menghadapi MEA cukup terbuka. Kementerian Perindustrian telah melakukan berbagai upaya dan strategi dalam menghadapi pasar persaingan bebas di ASEAN. Selain di bidang perdagangan barang melalui peningkatan daya saing industri dan mendorong investasi di sektor industri, pada bidang jasa melalui peningkatan SDM Industri.

Saat ini telah tersusun 50 surat keputusan SNI sektor industri serta 25 Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP)  dan Tempat Uji Kompetensi (TUK). Secara progresif diupayakan penambahan 15 SKKNI dan 10 LSP sektor industri setiap tahunnya, diutamakan bidang industri prioritas.

Apabila semua strategi dapat berjalan dengan baik maka bukan tidak mungkin kita akan dapat mendominasi pasar MEA. Ini  semua dikembalikan kembali ke pasar ASEAN karena pada akhirnya pasar yang akan menentukan siapa yang mampu mendominasi persaingan di ASEAN.   ̶   Rappler.com

BACA JUGA  

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.