Prediksi paruh kedua Liga Primer: Arsenal juara musim ini atau tunggu satu dekade lagi

Agung Putu Iskandar
Prediksi paruh kedua Liga Primer: Arsenal juara musim ini atau tunggu satu dekade lagi
Untuk melakukannya, The Gunners harus cermat menyusun skala prioritas dan wajib memperkuat skuat pada bursa transfer Januari

JAKARTA, Indonesia — Apa faktor yang absen dari Arsenal sejak kali terakhir mereka memenangi Liga Premir pada musim 2003/2004? Padahal, dengan kemampuan Arsene Wenger mengendus talenta sepak bola yang luar biasa, klub berjuluk The Gunners itu tak pernah kekurangan stok pemain hebat. 

Manajemen tangan dingin ala Wenger membuat banyak pemain muda muncul sebagai bintang baru di dunia sepak bola. Dia berhasil melahirkan pemain-pemain seperti Robin van Persie, Cesc Fabregas (keduanya sudah hengkang), Theo Walcott, hingga Olivier Giroud musim ini menjadi salah satu striker paling ditakuti di Inggris.

Masalahnya, tangan Wenger terlalu “dingin”. Gaya kepemimpinannya yang cenderung membebaskan anak asuhnya membuat para pemain tidak berada dalam tekanan harus menang.

Saat kali terakhir mereka juara, Wenger memang tidak perlu menganggap pendekatannya yang terlalu longgar itu sebagai persoalan. Sebab, line up Arsenal saat itu diisi pemain-pemain yang sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Patrick Vieira, Thierry Henry, Dennis Bergkamp dan Sol Campbell adalah pemimpin bagi dirinya sendiri, juga bagi keseluruhan skuat. Mereka bukan kumpulan pemain yang cengeng. Mereka sudah keras pada diri mereka tanpa manajer asal Prancis itu harus menjadi galak.

Kondisi itulah yang absen dari ruang ganti Arsenal dalam beberapa tahun terakhir. Skuat tim berjuluk The Gunners itu didominasi para pemain muda. Kalaupun ada yang lebih senior, mereka tidak mengambil peran kepemimpinan. Bisa jadi karena para pemain senior itu juga tidak banyak meraih gelar juara. Mentalitas mereka tidak berselisih jauh dengan sebagian besar pemain.

Per Mertesacker dan Mikel Arteta, misalnya. Mertesacker, sang wakil kapten, bahkan tidak pernah menjuarai liga domestik di semua klub yang pernah dia perkuat. 

Begitu juga sang kapten, Arteta. Delapan musim di Everton, klub dia sebelum Arsenal, tak menghasilkan gelar apa-apa. Begitu juga kapten ketiga, Santi Cazorla, yang direkrut dari klub Spanyol Malaga. Dengan prestasi yang tak jauh lebih baik daripada pemain lainnya, mengapa para talenta muda Arsenal harus mendengarkan mereka di lapangan?

Tapi, musim ini ada suasana yang berbeda di ruang ganti. Sumbernya adalah rekrutmen terbaik Arsenal di bursa transfer musim panas lalu: Petr Cech. Kiper asal Ceko itu datang ke Emirates Stadium, markas Arsenal sebagai sosok yang sangat disegani karena prestasinya: empat gelar Liga Primer dan Piala Liga plus satu piala Liga Champions.

Meski tidak berada dalam “struktur” jabatan kapten, Cech mengambil peran kepemimpinan yang jauh lebih baik dari para kapten. Dia mampu mengomando barisan bek untuk lebih tangguh menjaga pertahanannya.

Bukti paling konkret adalah jumlah kebobolan Arsenal hingga matchday ke-19. Mereka adalah tim yang paling sedikit dijebol lawan nomor empat di Liga Primer (18 gol).

Selain itu, setelah start yang buruk musim ini, Arsenal mampu konsisten di jalur juara. Jangan lupa, mereka adalah salah satu dari hanya dua tim yang mampu mengalahkan Leicester City hingga kompetisi sudah berjalan separuh.

Jika Liverpool hanya bisa menang 1-0 di Anfield, Arsenal tak tanggung-tanggung membantai tim berjuluk The Foxes itu dengan skor telak 5-2 justru di King Power Stadium, markas Leicester. 

Mentalitas petarung, sesuatu yang juga lama absen dari Arsenal mulai tumbuh kembali.

Mesut Oezil memaksa bermain melawan Manchester City pada 22 Desember. Padahal, dia baru sembuh dari sakit dan hanya menjalani satu sesi latihan. Hasilnya, gelandang Jerman itu memborong dua assist yang mengantarkan timnya menang 2-1 atas City. 

“Oezil mulai tahu apa yang seharusnya dia lakukan tanpa saya harus memintanya. Dia telah berkorban untuk tim dan hasilnya sangat bagus. Saya kemudian terpaksa menariknya di tengah pertandingan untuk menjaga kondisinya,” kata Wenger seperti dikutip situs resmi klub.

Karena itu, tak ada alasan bagi Arsenal untuk tidak memenangi Liga Primer musim ini. Bahkan, mereka terancam kehilangan momentum jika tak memenanginya sekarang. Musim depan Chelsea, Manchester City, dan Manchester United bakal gila-gilaan membeli pemain (dan manajer). Apalagi Chelsea dan United yang sejauh ini prestasinya merosot. 

“Kalau tidak sekarang, Arsenal tak akan bisa memenanginya lagi hingga sepuluh tahun kemudian,” kata Jamie Carragher, salah seorang football pundit, seperti dikutip Independent.

Peran penting bursa transfer Januari 

Selain performa yang gemilang, salah satu kunci perburuan gelar juara adalah kedalaman skuat. City sudah membuktikannya saat meraih juara Liga Primer pada musim 2011/2012 dan 2013/2014. Karena itu, wajib bagi para pemburu gelar untuk menambah skuatnya di bursa transfer Januari ini.

Dengan kemampuan finansialnya, Arsenal lebih bisa melakukannya daripada Leicester yang secara mengejutkan menjadi pesaing terberat mereka saat ini.

Klub milik konsorsium Asian Football Investment itu menggantungkan nasibnya pada beberapa pemain saja, yakni, Riyad Mahrez, Jamie Vardy, dan N’Golo Kante. Ada masalah kebugaran di antara duet Mahrez dan Vardy saja, produktivitas gol macet. Seperti saat pasukan Claudio Ranieri itu dikalahkan Liverpool 1-0 dan ditahan City 0-0.

Namun, di atas segala keunggulan Arsenal tersebut, Leicester masih punya keuntungan. Arsenal harus membagi fokus Liga Primer dengan Liga Champions dan Piala FA. Sedangkan Leicester hanya berkiprah di satu ajang di luar Liga Primer yakni Piala FA.

Jika ingin menjuarai Liga Primer untuk pertama sejak sebelas tahun silam, tampaknya Wenger harus memilih prioritas. Kecuali jika dia masih sabar menunggu sepuluh tahun lagi. — Rappler.com

BACA JUGA: 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.