Ekonom: Penduduk miskin Indonesia menurun karena daya beli masyarakat membaik

Haryo Wisanggeni
Ekonom: Penduduk miskin Indonesia menurun karena daya beli masyarakat membaik
Jumlah penduduk miskin perkotaan turun 0,03 juta orang, dari 10,65 juta pada Maret 2015 jadi 10,62 juta pada September 2015

JAKARTA, Indonesia — Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan kemiskinan sepanjang periode Maret 2015 hingga September 2015.

Jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun sebanyak 0,03 juta orang, dari 10,65 juta pada Maret 2015 menjadi 10,62 juta pada September 2015.

Sementara di daerah perdesaan turun sebanyak 0,05 juta orang selama rentang waktu yang sama, dari 17,94 juta menjadi 17,89 juta orang. 

Apa penyebabnya? Menurut ekonom Universitas Indonesia, Fithra Faisal, salah satunya adalah keberhasilan pengendalian laju inflasi. 

“Inflasi 3,35 (persen) ini ada di bawah pengharapan Bank Indonesia bahkan. Inflasi merepresentasikan harga-harga barang kebutuhan, jadi purchasing power (daya beli) masyarakat juga meningkat,” kata Fithra kepada Rappler, Selasa, 5 Januari. 

“Dan ini berpengaruh terhadap penurunan tingkat kemiskinan.” (BACA: BPS: Inflasi 2015 sebesar 3,35%)

BPS juga mencatat bahwa peranan komoditas makanan terhadap garis kemiskinan jauh lebih besar dibandingkan peranan komoditas bukan makanan (perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan).

Sumbangan garis kemiskinan makanan terhadap garis kemiskinan pada September 2015 tercatat sebesar 73,07 persen. Kondisi ini tidak jauh berbeda pada Maret, yaitu sebesar 73,23 persen.

Fithra berpendapat fenomena ini adalah hal yang wajar.

“Ya, memang orang kelas pendapatan menengah ke bawah, alokasi pendapatannya untuk belanja kebutuhan pokok termasuk makanan, akan lebih besar. Sehingga volatilitas harga di situ (komoditas makanan) akan sangat mempengaruhi mereka,” ujarnya. Rappler.com

BACA JUGA: 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.