Kekerasan terhadap perempuan bukan jawaban

Nova Riyanti Yusuf
Tak ada seorang perempuan yang layak jadi korban kekerasan. Jika seorang laki-laki tidak cocok dengan seorang perempuan, kekerasan bukan jawabannya

KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN. Walau dilindungi undang-undang, perempuan Indonesia masih sering mengalami kekerasan

Dalam sebuah diskusi buku Politics and Prose, Paula Hawkins, penulis buku The Girl on The Train, didaulat sebagai pakar “dysfunctional women” oleh salah satu peserta diskusi. 

Bagaimana tidak, ketiga karakter sentral di dalam bukunya dibangun atas fondasi masalah yang tidak pernah terselesaikan sehingga mereka terfiksasi di dalam fase kehidupan lampau. Ketiga karakter melanjutkan hidup dalam kubangan masalah yang semakin lama telah terinternalisasikan sebagai bagian dari dirinya. Ketiga perempuan yang rentan tersebut akhirnya menjadi korban seorang laki-laki. 

Sering kali, perempuan tidak menyadari bahwa dirinya menjadi korban kekerasan karena pemahaman yang tidak utuh tentang bentuk kekerasan itu sendiri. Jika wajah tidak bengap seperti seorang tenaga ahli DPR RI yang baru-baru ini menjadi pesohor karena menerima bogem mentah dari terduga seorang anggota DPR RI, maka dianggap bukan masuk dalam kategori kekerasan. 

Justru harus dipahami bahwa kekerasan tidak selalu dalam wujud kekerasan fisik. Kekerasan juga bisa hadir dalam wujud abuse secara emosional, psikologis, dan seksual.

Cara-cara kekerasan semacam ini cenderung lebih infiltratif karena terjadi internalisasi yang mengintegrasikan diri dengan perilaku, nilai-nilai, standar, dan opini orang lain tentang identitas dirinya.

Akibatnya, banyak perempuan yang sudah terlanjur terlemahkan sehingga ia sudah tidak mampu lagi keluar dari masalah tersebut. 

Peran kognisi

Kognisi, atau cara pandang seseorang tentang dirinya dan perannya di dalam hidup ini, dapat menjadi faktor protektif atau sebaliknya pemicu terjadinya kekerasan. Beberapa contoh peran kognisi muncul dalam narasi yang menarik dan riil di dalam novel The Girl on the Train

Narasi pertama:

“I feel isolated in my misery, I became lonely, so I drank a bit, and then a bit more, and then I became lonelier, because no one likes being around a drunk. I lost and I drank and I lost. I liked my job, but I didn’t have a glittering career, and even if I had, let’s be honest: women are still only really valued for two things — their looks and their role as mothers. I’m not beautiful and I can’t have kids, so what does that make me? Worthless.” 

—Rachel Watson

Rachel mempersepsikan bahwa peran perempuan terbagi dalam dua kutub ekstrim, yaitu peran superfisial sebagai perempuan yang cantik secara fisik (trophy wife) atau mempunyai peran sebagai ibu (yang anehnya berkesan tidak ada korelasi dengan kecantikan). 

Rachel mempunyai problem tidak bisa mempunyai anak sehingga ia merasa rendah diri dan mengalami adiksi minuman beralkohol. Ia bersifat self-destructive dan berujung pada perceraian. Perilaku Rachel disebabkan oleh cara Rachel memandang dirinya dan perannya di dunia ini. 

Narasi kedua:

“There are many women who are frightened of their husbands, I’m afraid, Megan.” I tried to say something, but he held up his hand to silence me. “The behaviour you’re describing — reading your e-mails, going through your Internet browser history — you describe all this as though it is compatible, as though it is normal. It isn’t, Megan. It isn’t normal to invade someone’s privacy to that degree. It’s what is often seen as a form of emotional abuse.”

I laughed then, because it sounded so melodramatic. “It isn’t abuse,” I told him. “Not if you don’t mind. And I don’t. I don’t mind.” 

Megan Hipwell & Kamal Abdic

Megan kehilangan saudara kandung, kemudian kehilangan anak yang sesungguhnya akibat sebuah kecelakaan tetapi terinternalisasi sebagai kecerobohannya dan ia menganggap dirinya sebagai pendosa. Ia pun menjadi permisif ketika diperlakukan secara emotional abuse oleh suaminya dan sulit menerima arahan dari terapis yang menanganinya. 

Internalisasi bahwa ia adalah bukan orang baik berpadu dengan keinginan memberontak dari emotional abuse yang dilakukan suami telah mengarahkan Megan sehingga mencari kompensasi di luar dengan berselingkuh termasuk dengan terapisnya. 

Narasi ketiga: 

The truth is, I never felt bad for Rachel, even before I found out about her drinking and how difficult she was, how she was making his life a misery. She just wasn’t real to me, and anyway, I was enjoying myself too much. Being the other woman is a huge turn–on, there’s no point denying it: you’re the one he can’t help but betray his wife for, even though he loves her. That’s just how irresistible you are.

Anna Watson 

Anna dengan sisi gelapnya berpikir bahwa ia mampu menyakiti perempuan lain (Rachel) dengan merebut suaminya dan akan terus bertahan dalam perasaan superioritas yang semu. Jika laki-laki itu mampu menyakiti Rachel yang sedang dalam kesusahan karena fungsi kognitifnya yang salah, maka tidak menutup kemungkinan bahwa laki-laki tersebut pada waktunya nanti juga akan menyakiti Anna.  

Banyak sekali narasi yang melatarbelakangi persepsi perempuan tentang dirinya. Namun apa pun itu, tidak ada seorang perempuan yang layak menjadi korban kekerasan. Jika seorang laki-laki merasa tidak cocok dengan seorang perempuan, perlu ditegaskan bahwa kekerasan bukan jawabannya.  

Ada beberapa kartu yang dimainkan oleh seorang abuser untuk mengendalikan dan menguasai pasangannya, di antaranya: 

  1. Menggunakan economic abuse
  2. Membujuk dan mengancam
  3. Melakukan intimidasi
  4. Menggunakan emotional abuse
  5. Menggunakan isolasi
  6. Meremehkan masalah, menyangkal, dan menyalahkan
  7. Memanfaatkan keistimewaan sebagai laki-laki
  8. Memanfaatkan anak-anak

Mayoritas perempuan sekarang bekerja baik untuk memenuhi kebutuhan ekonomi maupun aktualisasi diri. Economic abuse dapat terjadi dengan membuntungkan keberdayaan perempuan tersebut, misalnya mencegahnya bekerja, membuatnya meminta uang, memberinya “uang jajan”, tidak memberitahukan jumlah pendapatan resmi pasangan, apalagi memiliki akses terhadap uang tersebut, dan yang terparah adalah mengambil uang milik perempuan. 

Pada zaman kesetaraan gender, para abuser sangatlah terbelakang dengan memperlakukan istri seperti pesuruh, membuat keputusan penting sendiri, menempatkan diri sebagai “raja dari istana”, bahkan mendefinisikan peran perempuan dan laki-laki.

Yang juga termasuk keterbelakangan abuser di era informasi, adalah mengisolasi istri dengan mengendalikan apa yang boleh ia lakukan dan siapa yang bisa ia temui. 

Cemburu menjadi alat untuk menjustifikasi perilakunya yang justru sebenarnya tidak baik. Memeriksa telepon, membaca e-mail tanpa izin, bahkan yang terparah adalah berkomunikasi memakai akun istri dengan laki-laki lain untuk menjebak istri tersebut seolah-olah selingkuh.

Emotional abuse bisa berupa penggunaan kalimat-kalimat yang merendahkannya dan membuat dirinya merasa bersalah, juga dengan tega memberikan label istri “gangguan jiwa”,  serta melakukan mind games yang melelahkan.

Narasi laki-laki

Tidak semua kekerasan terjadi dari laki-laki terhadap perempuan. Bisa sebaliknya. Tetapi mayoritas korban adalah perempuan. Dan mengenali seorang abuser bukanlah hal yang mudah. Hampir tidak bisa dikatakan ada ciri khas seorang laki-laki yang berperilaku sebagai abuser.  

Abuse adalah cara yang digunakan dalam sebuah hubungan untuk menguasai dan mengendalikan pasangannya. Dengan demikian, ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan. 

Yang sering mematahkan semangat perempuan pada saat mengatakan pasangan saya seorang abuser adalah reaksi teman-temannya yang mengatakan bahwa mereka tidak menyangka atau mereka berusaha menyadarkan si perempuan bahwa laki-laki itu justru sangat mencintainya. 

Penghayatan pribadi harus dibedakan dari kesan yang hanya menangkap dari kejauhan atau karena termakan cakap manis pelaku abuser. Karena sikap seperti ini justru makin menyakitkan bagi perempuan yang mengalami abuse dan masyarakat berkesan tidak empatik atau berpihak kepada abuser.

Hal ini memperparah kondisi para perempuan yang menjadi korban. Sedangkan perlu diketahui bahwa abuse adalah sebuah agenda tersembunyi yang dieksekusi di ruang privat, di balik pintu yang tertutup rapat. 

Dalam tulisan saya sebelum ini (Kriminalitas, psikopat, dan Undang-Undang Kesehatan Jiwa), telah disinggung tentang smooth operators atau psikopat sukses. Juga selang kontinuum gangguan kepribadian narsisistik dengan perilaku anti-sosial –> malignant narcissistic syndrome –> gangguan kepribadian anti-sosial –> psychopathy

Dari selang tersebut yang terburuk adalah psychopathy yang mana individu-individu psikopat tidak mampu membayangkan altruisme pada seseorang dan sama sekali tidak mampu terlibat dalam hubungan yang non-eksploitatif.

Untuk malignant narcissism syndrome, ditandai oleh sadisme yang ego-syntonic (dirasakan nyaman bagi dirinya) dan ciri-ciri paranoid (seperti membaca surel istri, mencurigai istri, bahkan menyadap HP istri, dll), namun pada saat bersamaan juga mempunyai kapasitas untuk setia dan menunjukkan kepedulian.

Pada gangguan kepribadian narsisistik dengan perilaku anti-sosial, mereka mampu mengeksploitasi orang lain dengan keji demi mencapai tujuannya. Ada kalanya mereka punya rasa bersalah dan mampu membuat perencanaan masa depan. Kesulitannya berkomitmen merupakan refleksi dari perilaku anti-sosial.  

Selain gangguan kepribadian, ada kemungkinan abusers mempunyai self-esteem yang rendah. Apa pun latar belakang psikologis seorang abuser, kekerasan bukanlah sebuah ketidaksengajaan atau kecelakaan belaka karena misalnya sedang banyak pikiran atau mungkin mabuk.

Abuse adalah cara yang digunakan dalam sebuah hubungan untuk menguasai dan mengendalikan pasangannya. Dengan demikian, ia akan mendapatkan apa yang ia inginkan. 

Semua strategi di atas begitu sistematis dan jika dibiarkan berlarut-larut maka perempuan tersebut akan menjadi damaged goods yang permisif terhadap kekerasan yang dialami. Ia akan sulit untuk keluar dari kendali pasangannya.

Dibutuhkan dukungan keluarga dan teman-teman yang suportif (walau biasanya hanya tersisa sedikit) agar ia bisa bangkit dan kembali berfungsi baik secara sosial dan pekerjaan. —Rappler.com

Nova Riyanti Yusuf, lebih akrab dipanggil Noriyumerupakan anggota DPR RI periode 2009-2014, menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IX tentang kesehatan dan tenaga kerja. Salah satu pekerjaan penting yang pernah dia lakukan adalah menginisiasi rancangan undang-undang (RUU) kesehatan mental.

Tulisannya di Rappler Indonesia merupakan bagian dari advokasi kesehatan mental untuk memastikan implementasi peraturan tentang kesehatan mental di Indonesia.

BACA JUGA: