Trilogi Mourinho vs Guardiola: Medan perang baru di Kota Manchester

Agung Putu Iskandar
Trilogi Mourinho vs Guardiola: Medan perang baru di Kota Manchester
Dengan Jose Mourinho hampir pasti berlabuh di Manchester United, suhu di kota metropolitan itu bakal lebih panas. Sudah ada lawan bebuyutan menantinya di sudut lain kota: Pep Guardiola

Suasana di Hotel Sheraton Madrid Mirasierra pada 7 Mei 2013 itu tiba-tiba memanas. Hotel mewah tempat Jose Mourinho menggelar pertemuan dengan para pemain Real Madrid itu terasa tidak nyaman.

Kamar luks, kolam renang, dan segala fasilitas kelas satu seperti membisu. Mereka hening mendengarkan Mourinho yang berteriak-teriak kepada seseorang di ponsel. Satu waktu dia sangat kalut, satu momen yang lain dia terdiam.

Pada akhirnya dia hanya terdiam dengan mata berkaca-kaca. Ada kemarahan yang begitu besar sampai tak satu pun kata keluar dari mulutnya.

“Jose ingin kesepakatan itu dibatalkan. Dia tidak percaya semua ini akan terjadi. Dia benar-benar shock,” kata salah seorang pegawai agen sepak bola Gestifute kepada Diego Torres, penulis buku The Special One: The Secret World of Jose Mourinho.

“Padahal, tentu saja itu tidak mungkin,” katanya lagi.

Hari itu, salah satu kemalangan terbesar dalam hidup kembali dia alami. Namanya tidak disebut Sir Alex Ferguson sebagai penggantinya di imperium sepak bola modern bernama Manchester United. Fergie lebih memilih rekan senegaranya, David Moyes.

Selama ini dia merasa sangat dekat dengannya. Mereka kerap minum wine bersama setiap kali United menghadapi Chelsea. Dalam berbagai kesempatan, legenda asal Skotlandia itu juga memuji kejeniusannya dalam taktik, membaca permainan, dan merancang strategi.

Mourinho juga menunjukkan ketertarikannya untuk suatu saat di masa depan bisa menggantikan Fergie. Tapi harapan itu menguap justru saat dia sangat mengharapkannya.

“Dia bahkan tidak meneleponku saat menunjuk Moyes,” kata Mourinho seperti ditirukan sumber Torres lainnya. Mourinho merasa dikhianati. Justru oleh orang yang dia merasa sangat dekat. Dan dia merasa dikalahkan—untuk kali kedua—di tangan sosok yang tidak punya prestasi apa-apa di sepak bola.

Tim meeting di Sheraton itu berjalan lancar. Tapi, beberapa pemain Real Madrid melihat ada yang berbeda dari bosnya. Mourinho seperti kehilangan semangat. Tak ada yang tahu penyebabnya. Meskipun begitu, di laga melawan Malaga esoknya, Iker Casillas dan kawan-kawan tetap menang. Enam gol disarangkan ke klub asal Andalusia tersebut.

Di La Liga musim itu, Real hanya finish kedua di belakang Barcelona. Musim itu juga pelatih kelahiran Setubal, Portugal, itu hengkang dari Santiago Bernabeu. Mourinho tetap kembali ke Inggris. Bukan ke Manchester. Tapi berbelok ke London.

Dia menyetujui tawaran kembali ke klub lamanya, Chelsea, yang sudah dia tinggalkan hampir sembilan tahun lalu. Dia juga menampik anggapan bahwa dia sebenarnya ingin ke United.

“Saya sudah sejak dulu ingin kembali ke Chelsea. Saya tidak pernah menyesali apapun. Saya pergi ke tempat yang saya inginkan. Saya adalah the happy one,” katanya seperti dikutip Guardian.

Dendam kesumat melawan Guardiola

Bukan kali itu saja Mourinho mengalami kenyataan pahit dalam hidupnya. Sebelumnya, dia sudah pernah dikecewakan Barcelona. Klub tempat dia pernah bekerja sebagai penerjemah hingga asisten pelatih.

Saat itu, era entrenador Frank Rijkaard di Barcelona sudah berakhir. Wakil Presiden Barca Ferran Soriano memerintahkan Direktur Teknik Txiki Begiristain mencari pengganti. Beberapa nama masuk. Nama Mourinho menjadi kandidat bersama Josep “Pep” Guardiola yang saat itu hanya pelatih Barcelona B — tim muda Barca yang berlaga di divisi lebih rendah dibanding Barcelona.

Dalam pertemuan dengan Begiristain, Mourinho memaparkan strategi pengembangan untuk Barca. Presentasinya detil dan sangat meyakinkan. Tapi, ada yang mengganjal dalam benak direktur yang kemudian pindah ke Manchester City tersebut.

“Mourinho selalu menekankan, saya, saya, saya. Dia tidak pernah berbicara sebagai kesatuan kolektif klub. Tapi dirinya sendiri,” kata Begiristain kepada Yusuf Arifin, jurnalis Indonesia yang pernah bekerja di Manchester City bersama pensiunan pesepakbola Spanyol tersebut.

Padahal, Barca adalah klub yang berbeda. Més que un club, lebih dari sekadar klub. Mereka tidak hanya mengharapkan kemenangan seperti klub-klub kaya baru yang ingin kesuksesan instan.

Sebagai klub berusia 116 tahun dan mewakili komunitas “suku” Catalonia, Barca diikat oleh tradisi dan filosofi nilai yang sangat kuat. Para pemain diikat banyak aturan. Mereka bahkan tidak boleh memakai mobil terlalu mewah saat datang ke latihan. Mereka juga dilarang terlalu menonjolkan dirinya daripada pemain lain.

Semuanya itu untuk membuat mereka tetap membumi. Tidak ada siapapun yang lebih besar dari klub.

Orang-orang Catalonia menyebut kebijaksanaan itu sebagai semacam sistem tata krama bernama seny.

“Kami orang Catalonia memegang teguh seny. Luis Enrique (pelatih Barca saat ini yang pernah bergabung ke rival klasik Barca, Real Madrid, saat masih aktif bermain) mungkin tidak memahaminya karena dia berasal dari Gijon,” kata Xavi Hernandez, ikon Barca di era Guardiola, seperti dikutip majalah FourFourTwo.

Karakter Mourinho seperti itu jelas membuatnya langsung tercoret dari daftar kandidat. Pertimbangannya juga bukan hanya karena soal ego special one—julukan Mourinho—yang terlalu jumbo. Tapi juga karena Johan Cruyff, pelatih yang membangun dasar-dasar sepak bola Barca hingga seperti sekarang, menggelengkan kepala untuknya.

Barca akhirnya memilih figur dari kalangannya sendiri: Pep Guardiola. Mantan pemain Barca itu mewakili semua nilai-nilai Catalonia. Masalah dia saat itu hanya tidak punya prestasi apapun.

Tapi, Pep merupakan figur yang tak segan menimba ilmu. Setelah ditunjuk sebagai pelatih, dia berusaha merevitalisasi filosofi penguasaan bola dan sepak bola menyerang khas Barca.

Pep mendengarkan betul petuah Cruyff. Sudah tak terhitung berapa kali keduanya terlibat diskusi pelik soal permainan. Dia juga rela terbang ke Argentina demi menemui Marcelo Bielsa, pelatih yang mengembangkan gaya permainan penguasaan bola di negeri Tango tersebut.

Semuanya dilakukan demi mencapai level sempurna permainan khas Barca yang disempurnakan Pep dengan sebutan kondang tiki taka tersebut.

Namun, penunjukkan Pep oleh Barca juga menandai kekecewaan terbesar sang nemesis Guardiola, Mourinho. Itulah kali pertama dia mengalami kemalangan terbesar dalam karir sepak bolanya. Portofolio mentereng berupa dua piala Primeira Liga, satu gelar Liga Champions (keduanya diraih bersama FC Porto), dan dua gelar Liga Primer (Chelsea) tak dipertimbangkan Blaugrana —julukan Barcelona.

Dia justru kalah oleh pelatih pendiam yang bahkan tak pernah meraih gelar besar di pentas utama sepak bola. Kekecewaan itu pada akhirnya menjadi dendam. Mourinho menjadi antitesis Barca, dan tentu saja Guardiola, dalam segala hal. Mulai dari gaya permainan, sikap, hingga dalam level membangun mental pemain.

Jika Barca selalu mendasarkan permainannya dalam kolektivitas, Mourinho membangun homogenitas dalam setiap klub yang dia tangani. Homogenitas itu bukan dalam sosok pemain, tapi dirinya sendiri.

Pemain mengabdi kepada dirinya. Dan segala prestasi adalah prestasinya. Ketaatan pemain adalah kepada dirinya, bukan kepada klub. Karena itulah, saat Chelsea bermain buruk di masa kedua kepelatihannya yang berakhir beberapa bulan lalu, Mourinho selalu menyebut mereka berkhianat.

Mental pemain dari mengabdi kepada sepak bola menjadi pengabdi kemenangan. Para pemain di bawah asuhan Mourinho selalu menganggap diri mereka diserang dari berbagai sisi: wasit, suporter, hingga lawan. Siege mentality, mentalitas ala militer, dibentuk agar pemain merasa harus membela dirinya sebagai bentuk pertahanan diri segala serangan.

Di musim yang sama saat Guardiola mulai menangani Barca, Mourinho memulai musim baru bersama Inter Milan. Dan Inter menjadi satu-satunya tim yang mampu menghentikan Barca di musim 2009-2010 hingga bablas menjadi juara Liga Champions.

Medan perang ketiga di Liga Primer

Sepanjang karirnya, Pep Guardiola telah menghadapi 15 laga final. Dan hampir di setiap final, dia selalu memenanginya. Dengan kata lain, jika Guardiola mengantarkan satu tim ke final, kemungkinan besar dia akan mengantarkan mereka menjadi juara.

Manajer Manchester City musim depan itu hanya dua kali kalah di ajang puncak. Pertama, kalah dari Jose Mourinho saat menghadapi Real Madrid di final Copa del Rey 2010-2011. Kedua, kalah dari Jurgen Klopp saat menghadapi Borussia Dortmund di Piala Super Jerman 2013.

Kebetulan, para penakluk final Guardiola itu “hampir” semuanya ada di Liga Primer. Jika Klopp sudah bersama Liverpool, kini dia sedang menunggu kepastian Mourinho bersama United.

Sejumlah media Inggris sudah memastikannya melalui sejumlah sumber. Bahkan, menurut Daily Mail, kesepakatan sudah terjalin antara Mourinho dan United. Mourinho mengatakan bahwa dirinya bakal menggantikan Louis van Gaal kepada salah seorang teman dekatnya.

Ini berarti babak baru bentrok antara Mourinho dan Guardiola bakal memasuki episode ketiga. Sebelumnya, episode pertama bentrok mereka hanya terjadi pada lintas negara. Arenanya adalah Liga Champions dengan kendaraan perang berupa Barca dan Inter Milan. Di episode kedua, tensi semakin panas karena medan perang keduanya semakin mepet, dalam satu negara. Mourinho bersama Real Madrid sedangkan Guardiola tetap bersama Barca.  

Kini, suratan takdir membuat medan perang mereka semakin sempit. Tidak hanya dalam satu negara. Tapi dalam satu kota. Tensi bakal jauh lebih panas dibanding bentrok mereka di episode sebelumnya. “Perang kota” antara Manchester City dan Manchester United bakal sangat panas dengan sekian banyak muatan dendam antara dua komandan dari kedua tim.

Derby Manchester bakal tak lagi sama.

Sejauh ini, kedua sosok brilian tersebut telah bentrok sepanjang 15 pertandingan. Catatan head-to-head pertandingan memang lebih superior Guardiola. Manajer 45 tahun itu memenangi tujuh laga, sedangkan Mourinho hanya tiga kemenangan. Sisanya berakhir imbang.

Meskipun begitu, Mourinho masih unggul dalam jumlah gelar. Lulusan sport science di Technical University of Lisbon itu mengoleksi 17 piala. Guardiola hanya 14 gelar.

Mourinho jelas pilihan tepat bagi United. Terutama untuk menjinakkan “tetangga berisik” yang mulai menjelma menjadi raksasa. Namun, sosok Mourinho jelas bukan figur ideal yang bisa mewakili citra dan tradisi Setan Merah yang menganut sepak bola menyerang dalam semua kondisi.

Apalagi, legenda United Sir Bobby Charlton tidak pernah suka dengan gaya provokatif Mourinho. Salah satu alasan mengapa mereka lebih memilih Moyes yang ketika itu menukangi Everton ketimbang dirinya. 

Jika era Fergie ditandai dengan semangat pantang menyerah dan membombardir lawan terus menerus, era Mourinho bakal lebih terkendali. Rasio kemenangan bakal meningkat tapi dengan skor yang lebih “moderat”. Lebih pragmatis, pertahanan lebih solid, dan lebih banyak menang.

Etos kerja para pemain bakal digenjot hingga titik paling maksimal. Dan Mourinho bakal memberi garis tegas. Loyal kepada dirinya atau menjadi musuhnya. Tidak ada nilai abu-abu.

Kapten Wayne Rooney sangat mungkin akan tetap dipertahankan. Tapi hanya sebagai ikon klub dan pemimpin rekan-rekannya. Porsi bermain tak bisa lebih banyak lagi. Sama seperti ketika dia “memanfaatkan” Marco Materazzi di Inter dan John Terry di Chelsea. Sebab, Mourinho jelas membutuhkan striker dengan “jaminan” gol yang lebih pasti dibanding pemain 30 tahun itu.

Meskipun begitu, United tetap harus waspada pada kutukan tahun ketiga Mourinho. Dia memang mampu memberi kesuksesan instan. Tapi sejarah mencatat, musim ketiganya selalu porak poranda. Yang paling anyar, bencana yang menimpa Chelsea musim ini belum juga berakhir hingga 10 pekan setelah dia angkat kaki.

Dan pada situasi yang tidak menguntungkan tersebut, Mourinho kerap menuding pihak lain sebagai kambing hitam.

Jika situasi itu kembali terjadi, United sudah harus bisa mengantisipasinya. Sebab, internal bakal memanas. Wasit, staf pelatih, para pemain, bahkan fisioterapis bisa jadi pihak yang disalahkan Mourinho. Klub dengan 20 gelar Liga Primer itu harus bersiap menghadapi masa-masa penuh ketegangan. 

Dan jika kondisi itu terjadi, apakah Ryan Giggs sudah siap mengambil kesempatan?—Rappler.com

BACA JUGA:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.