Hari kasih sayang dan ‘mangsa’ pertamanya

Akmal Sjafril
Hari kasih sayang dan ‘mangsa’ pertamanya
Valentine dimanfaatkan oleh para penguasa ekonomi untuk "memutar" uang dan menangguk keuntungan.

JAKARTA, Indonesia – Di Indonesia, hanya lima momen yang bisa mengubah ‘wajah’ semua pusat perbelanjaan di seantero negeri. Kelimanya adalah Ramadhan dan ‘Idul Fitri, Hari Kemerdekaan, Natal, Tahun Baru Imlek, dan yang terakhir adalah Hari Valentine. Tiga bernuansa agama dan satu bernuansa kebangsaan. Sedangkan, Valentine adalah kasus istimewa.

Secara tradisional, Hari Valentine (Valentine’s Day) memang berkaitan dengan agama Kristen. Pada kenyataannya, ada sejumlah Valentine (atau Valentinus) yang berbeda dalam sejarah Kristen, meski umumnya perayaan 14 Februari hanya dikaitkan dengan dua orang: pendeta Valentinus dari Roma, atau Uskup Valentinus dari Terni. Konon malah ada satu orang lagi Valentinus yang dimakamkan di Afrika.

Di beberapa tempat di dunia, Hari Valentine bahkan tidak dirayakan pada tanggal 14 Februari, melainkan pada dua hari di bulan Juli. Sebagian orang juga berspekulasi bahwa hari ini berkaitan dengan Lupercalia – perayaan Pagan dari jaman Romawi dahulu – yang dirayakan pada tanggal 13-15 Februari. Ada yang bilang Hari Valentine sengaja didesain untuk menggantikan perayaan Lupercalia tersebut, namun ada juga yang bilang bahwa ia hanya hasil sinkretisasi saja dari perayaan Lupercalia.

Praktis dalam setiap detilnya, kita akan menemukan berbagai variasi tentang Hari Valentine. Tapi toh kini orang tak peduli lagi dengan jalan ceritanya, apalagi memperdebatkan mana yang asli dan mana yang isapan jempol.

Dalam soal merayakan ‘Hari Kasih Sayang’, Barat selalu jadi yang terdepan. Merayakan cinta, konon demikian.

Beberapa dekade lampau, AS dan Inggris pernah dilanda luasnya pengaruh kaum hippie yang menyerukan perdamaian dengan slogan “make love, not war”. Meski demikian, kaum hippie juga membawa penyakit sosial yang tidak kalah membahayakannya ketimbang perang, yaitu kebiasaan mabuk, menggunakan obat-obatan terlarang, dan seks bebas. Yang terakhir ini nampaknya masih terus memakan korban, sebab ia satu-satunya masalah yang tidak dianggap masalah oleh masyarakat Barat. Hal itu terungkap jelas dalam ungkapannya yang penuh ambiguitas: “make love”.

Cinta menjadi begitu rumit di Barat lantaran mereka menyandingkannya dengan sebuah kata kerja. Kita semua tahu bahwa “make love” hanya memiliki satu makna, yaitu hubungan seks.

Muncullah kesan bahwa cinta bisa diwujudkan dengan seks. Maka, setiap langkah menuju seks dianggap sebagai bagian dari banyak langkah menuju cinta.

Seseorang di Youtube pernah mengunggah sebuah video tutorial untuk mencium bibir wanita yang baru dikenal dalam waktu 20 menit. Bagi para pemuja ‘cinta’, semua ini sah-sah saja. Sebab, dari dulu orang sudah bilang: all’s fair in love and war!

Berhubung semuanya sah-sah saja demi mengejar cinta, maka segala manipulasi dapat dilakukan. Sesuai kelazimannya, laki-laki bergerak aktif, sedangkan perempuan cenderung lebih suka pasif.

Maka dirumuskanlah beberapa cara untuk mengaduk-aduk perasaan perempuan, mulai dari bunga (perempuan mana yang tak suka?), cokelat, dan tentu saja senjata paling ampuh tiap lelaki, yaitu kata-kata indah gubahan sendiri. Umumnya ini dianggap win-win solution.

Perempuan mendapatkan romantisme yang diidamkannya, dan lelaki mendapatkan cinta yang dikejar-kejarnya. Oh ya, masih ingat ‘kan bahwa jalan menuju cinta adalah seks? Ya, setidaknya begitulah pandangan sebagian orang.

Malangnya, kesalahan telah terjadi sejak awal, yaitu ketika menggantikan “love” dengan “make love”. Pada kenyataannya, seks tidak serta-merta memproduksi cinta.

Dalam banyak kasus, seks malah membuat orang kehilangan orientasi. Itulah sebabnya di Barat kini banyak orang sudah bertahun-tahun hidup bersama, bahkan sudah beranak-pinak, tapi belum juga bernyali membina rumah tangga.

Bagi kaum Hawa pada umumnya, hidup bersama sekian lama dengan lelaki yang tak juga berani mengikat diri amatlah menyakitkan. Runyamnya, perpisahan pun tidak kalah menyakitkannya. Maka, perempuan pun menjadi korban.

Ketika Barat merayakan ‘Hari Kasih Sayang’, mereka merayakan cinta dengan seluruh kerancuan konsep di dalam kepalanya. Janganlah terlalu heran jika yang sebenarnya ada di kepala orang bukanlah cinta yang sejati, melainkan sekedar seks. Keduanya memang terlanjur dianggap ekivalen.

Bagi sebagian orang yang masih mempertahankan akal sehatnya, seks adalah bagian hidup yang benar-benar normal. Akan tetapi, ia masih membutuhkan sebuah bingkai untuk menjaganya. Itulah pernikahan; sesuatu yang mengikat lelaki dan perempuan dengan tanggung jawab.

Dengan pernikahan, cinta bukan hanya untuk mewujudkan ‘live happily ever after’ – karena bahagia selamanya itu utopia belaka – namun juga untuk memastikan kedua insan berkomitmen menempuh susah dan pahitnya hidup bersama, saling berkorban untuk pasangannya, dan mencegah orang agar tidak gampang lari meninggalkan pasangan ketika terjadi konflik. Tapi, sebagaimana cinta, pernikahan sudah tak ada lagi kaitannya dengan Hari Valentine, versi mana pun kisah yang Anda pergunakan.

Hari Valentine adalah momen ketika roda industri berputar kencang. Berbagai ucapan romantis dilayangkan melalui pesan singkat, e-mail, atau juga dengan cara tradisional seperti melalui kartu ucapan. Berbagai jenis cokelat dinikmati di hari yang sama, dan juga bunga berwarna-warni yang indah.

Maka kita pun menyaksikan betapa ‘Hari Kasih Sayang’ dirayakan secara gegap-gempita, mulai dari pusat-pusat perbelanjaan terkemuka hingga ke minimarket yang menyediakan diskon menarik untuk cokelat dan kondom sekaligus. Belakangan ini, kita tidak bisa melupakan peranan penting restoran yang menyediakan makan malam romantis khusus di tanggal 14 Februari, dan juga kamar-kamar hotel yang menjanjikan rate istimewa, meski hanya semalam. Jangan khawatir, hotel-hotel itu kemungkinan besar takkan mempertanyakan status pernikahan tamu-tamunya, sebab hal yang demikian sudah tak relevan lagi.

Dari kelima momen spesial yang telah disebutkan, Hari Valentine memang lain daripada yang lain. Ramadhan dan ‘Idul Fitri dirayakan di rumah-rumah dan Masjid, Hari Kemerdekaan dirayakan di setiap RT dan RW, Natal dirayakan di Gereja, dan Tahun Baru Imlek dirayakan dalam berbagai festival.

Adapun Hari Valentine, ia hanya dirayakan di pusat-pusat perbelanjaan atau tempat-tempat ‘memutar uang’ lainnya. Di antara mereka yang merayakannya ada yang benar-benar mencari cinta, ada pula yang sekedar mencari seks. Tapi bagi para penguasa ekonomi, ini cuma masalah bisnis, dan tidak lebih dari itu.

Benar sekali, ‘Hari Kasih Sayang’ telah melahap banyak mangsa. Mangsa pertamanya bukanlah perempuan atau pernikahan, melainkan cinta itu sendiri. Makin hari, makin sedikit yang benar-benar memahaminya. – Rappler.com

BACA JUGA: 

 

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.