Terdengar sombong, tapi suatu pagi beberapa bulan lalu, saya tiba-tiba terbangun dan merasa… jomblo. Ya, jomblo. Sepanjang usia dewasa saya, saya tidak pernah sendirian. Saya tumbuh bersama seorang laki-laki. Ya meski ada beberapa lelaki yang ada di antara, pada dasarnya saya bertambah usia 11 tahun bersama seorang laki-laki. Pahit manis dilalui bersama sampai, singkat cerita, saya tidak lagi bisa bertahan. Antara memilih kewarasan saya atau kebahagiaan orang lain.
Dan jadilah di suatu pagi, setelah merasa semua baik-baik saja, mulai ceria, dan doyan makan, saya merasa jomblo. Semalam sebelum pagi laknat itu saya memang ngga bisa tidur, jadilah geser-geser lemari pakaian jam 2 pagi. Dan terbangun dengan perasaan sendiri. Ngga ada yang bisa diajak ngomong. Lalu saya terduduk bingung di kasur. Apa dong, yang harus saya lakukan? Scroll kontak dan mengajak teman laki-laki saya jalan berdua? Gimana? Saya ngga pernah jomblo nih gengs (congkak dalam bentuk lain haha). Gagap romantika nih *tsaaah*.
Saya benar-benar ngga punya petunjuk bagaimana bersikap sebagai jomblo, bagaimana memulai hubungan, dan yang terpenting bagaimana menikmati kesendirian.
Saya orang yang sangat tertutup dan sangat menikmati kesendirian. Terlalu dekat, saya akan menjauh dan malah hanya membalas perhatian ala kadarnya. Tapi setelah 11 tahun tak pernah sendiri, kembali ke diri yang sejati itu semacam mengingat ulang rumus ABC di aljabar.
Ada keinginan untuk mencari sekedar teman berbincang (meski saya sangat selektif). Ada keinginan untuk sekedar merasakan kedekatan fisik, sekedar pancaran kehangatan tubuh laki-laki (antar jemput dan “kamu ngga mau mampir dulu?” maksudnya ahaha). Ada pula ketakutan untuk menghadapi kerumitan emosional yang disebabkan oleh penolakan.
Tapi ya namanya manusia. Tubuh itu lemah, saudara-saudara!
Tinder? Sudah saya install, uninstall, install ulang atas persuasi teman, dan… Not my cup of tea. Karena 2 hal. Satu, terkoneksi dengan Facebook. Duh, malas banget mengaktivasi akun sosmed yang sudah saya deaktivasi sejak 2013 itu. Masih ada atau tidak akun Fesbuk saya saja saya tidak tahu. Bikin email lagi dan membuat akun fesbuk ala ala hanya demi Tinder kog malas sekali (meski akhirnya tetap bikin). Kedua, ngga ada yang sreg. Dari foto profil ngga sreg, dari bio ngga sreg (the amount of typo and grammatical errors are too damn high), dan bingung harus diapain si Dionisius, 31 tahun, alumni ITB bekerja di Deloitte ini. Umm.. swipe right? I just did not feel it. I am not feeling it. Not feeling any of those thrills promised by Tinder (menurut Internet, sih).
Nah, dibanding Tinder, saya cenderung lebih memperlakukan Twitter sebagai taman bermain saya. Lewat Twitter saya bisa mendapatkan reply atau percakapan cerdas dan tidak terasa “bikin sesak napas”. Kalau ngga mau menanggapi ya ngga usah dibalas. Atau dibalas dengan “mmmno”. Merangkum pikiran dalam 140 karakter itu tantangan tersendiri. Dan dibanding Tinder, (rasanya) lebih bisa diverifikasi. Pun kalau akun alter juga ketahuan segera. Ingin lebih akrab dan intim, yuk cus DM dan japri.
Baik Tinder maupun Twitter, ada satu yang menjadikan keduanya menarik: DM dan japri. Baru ini yang menurut saya mendebarkan dan membedakan dari proses pedekate konvensional. Senjakala pedekate konvensional gitu deh, haha.
Daripada Tinder, saya lebih sukses di Twitter, beberapa kali pertemuan diperoleh dari sana. Ada yang jadi teman baik, ada yang jadi Bye Felipe saja. Hal yang sama berlaku pula dengan Instagram. Menurut saya Instagram berfungsi sebagai periskop bagi saya, mencoba melihat dunia dari mata orang lain, mencari tahu bagaimana orang itu memandang dunia dan memproses informasi visual. Dan cukup sukses lah membuka kontak baru dengan beberapa lawan jenis berpikiran sama. Semacam seleksi alam.
Sedangkan Tinder.. Hampir selalu berujung pada kesenangan semalam. Obrolannya maksa, laki-lakinya mencoba terlalu keras untuk terlihat cerdas atau malah malesin sekalian (dari screenshot beberapa teman sih), dan saya ingin lebih dari itu. Makanya dari dulu penyakitnya adalah jalan sama teman sendiri hahaha. Sama teman sendiri saja bak beli anjing dalam karung, apalagi Tinder.
Then it hit me.
Oh shit this is it. This is modern romance. This is modern dating. Semacam terjun ke lubang kelinci dan mendarat di Negeri Ajaib. Serba salah dan cuma mengikuti si Kelinci Putih bernama intuisi.
Gagap dan clueless sekali rasanya dicemplungkan oleh keadaan ke dalam dating pool Ibu Kota. Begitu banyak pilihan, begitu banyak alternatif akhir cerita. Semacam buku “Pilih Sendiri Petualanganmu”. Mau didukung dan disemangatin kayak apa pun sama teman-teman laki-laki dan perempuan saya, tetap saja ada momen ketika saya bermonolog “Trus gue harus ngapain?”.
Lalu tiba-tiba keajaiban terjadi (yang anak 90an pasti nyambung nyanyi pakai nada).
Setelah sempat mendapatkan yang saya inginkan dari sebuah kebersamaan (selain obrolan ngalor ngidul cerdas tapi mesum), entah kenapa saya malah jadi menikmati sendirian. Barangkali ini hanya dimungkinkan jika variabel dependennya juga sama-sama seperti saya pikirannya. Ada jarak dan jeda, privasi yang dihormati. Ada ketegasan batasan. Meski kadang pengen diromantisin (ditemenin makan junk food dini hari misalnya), tapi yah segini cukup lah.
Rupanya rasa nyaman yang saya dapatkan tidak serta merta diikuti perasaan (kebelummampuan saya merasa setelah bad breakup rupanya jadi berkah terselubung). Rasanya melegakan bahwa rasa nyaman yang diperoleh di malam hari tidak ditukar dengan ketergantungan tak sehat di pagi hari. Berdua bisa kembali beraktivitas seperti biasa, menyeimbangkan pekerjaan dengan bersenang-senang, jalan-jalan, makan dan belanja, bersiap menyambut tantangan yang baru di pekerjaan, dan masih punya banyak waktu sendirian yang cukup untuk setidaknya mengecat ulang rambut.
Saya memang tidak pernah benar-benar sendiri, tidak hingga malam ini di sudut kafe ini. Sendiri memberi saya waktu untuk kembali mengenali siapa diri saya sebenarnya, sebelum berubah karena kompromi. Sendiri memberi saya ruang dan keberanian untuk mengambil keputusan. Mengisolasi suara-suara yang mengganggu, kecuali suara hati. Sendiri memberi saya ruang untuk belajar hal-hal baru (oh halo branding in digital age), untuk tidak membiarkan waktu dan jadwal saya berputar dan menyesuaikan dengan waktu dan jadwal orang lain, untuk tidak membiarkan langkah melambat atau bahkan terhenti. Untuk belajar kembali menjadi dingin, cuek, dan egois (duh Gusti bahkan jadi dingin, cuek, dan egois pun perlu belajar lagi hahaha).
Tentu saja, saya masih “berburu”, lha wong seru. Mas-mas lucuk toh bertebaran di sana sini dan menyenangkan lho, menjadi flirty itu. Menyenangkan, sekaligus melelahkan dan deg-degan takut salah kamar menanggapi obrolan dari beberapa laki-laki di saat bersamaan suatu malam (tiba-tiba merasa kotor hahaha)
Don’t get me wrong, I’m not looking for anything right now, selain bersenang-senang.
Dan seiring berakhirnya tulisan ini, saya tahu apa yang membuat saya (masih) enggan menceburkan diri ke dalam kolam kencan Ibu Kota. Forced interactions. Semua jejaring sosial dan cara untuk mendapatkan pasangan itu (Ada Bumble, ada Hinge, ada setipe.com, belum lagi speed dating), membuat saya memaksakan diri untuk berinteraksi, mengembalikan pendapat, perhatian, atau bahkan nasihat tak diinginkan (ngga usahlah mencoba pamer pemikiran atau pencapaian. Perempuan tahu kog, mana yang asli cerdas dan mana yang cuma supaya tangannya bisa masuk ke celana dalam perempuan), memaksakan diri untuk membuat percakapan terus berjalan, dan seterusnya dan seterusnya. Meski katanya “Cuekin saja”. Saya tipenya all or nothing at all, jadi…
*uninstall Tinder*
Tidak ada ketergesaan untuk menjalin hubungan “serius”, rutin dan eksklusif pun tidak, meski tak bisa dipungkiri, rasa sepi sempat membuat saya ingin memiliki sesuatu yang bisa disenderin dan hangat dan bisa kentut hahaha.
Tidak ada yang salah dengan sendiri, kesendirian, dan menikmati semua itu. Senyamannya saja, semenikmatinya. Kalau ngga nyaman, ya ngga usah memaksakan diri menjalin hubungan atau ketemu orang (meski dengan alasan usia, “Bapak Ibu sudah tua”, atau “Agamanya baik” hahaha).
Omong-omong, saya sempat menangkap cuitan cukup menarik di lini masa saya. Teman saya mencuri dengar percakapan Om-Om yang bilang bahwa perempuan tidak bisa sendiri. Entah dari mana ilusi bahwa perempuan tak bisa sendiri. Sendiri toh hanyalah cara lain menikmati hidup.
Eh tapi omong-omong, siapa yang free akhir pekan ini?
BACA JUGA:
- Bicara seks: Teman (tapi) tidur
- Bicara seks: Taruhan emosi demi ‘friends with benefits’
- Bicara seks: Curi-curi cium
There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.