GMF AeroAsia bersaing di industri perawatan pesawat

Uni Lubis
GMF AeroAsia bersaing di industri perawatan pesawat
Industri perawatan dan pemeliharaan pesawat mendapat angin segar setelah paket kebijakan ekonomi ke-8. Tapi, masih banyak porsi yang dikerjakan di liuar negeri


JAKARTA, Indonesia – Memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), ada sejumlah industri yang terus digenjot agar mampu bersaing di kawasan ini. Salah satunya adalah industri maintenance, repair and overhaul (MRO), atau perawatan dan perbaikan pesawat.  

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengatakan pemerintah, melalui paket kebijakan ekonomi ke-8, telah membebaskan bea masuk 21 pos tarif komponen pesawat udara, menyusul empat pos tarif komponen pesawat udara yang diusulkan Kementerian Perindustrian telah dibebaskan pada 2013.

“Industri penerbangan menjadi lebih efisien dan memiliki daya saing, sehingga dalam menghadapi persaingan usaha industri dalam negeri mempunyai daya saing, utamanya dalam menghadapi MEA,” kata Saleh saat mengunjungi fasilitas operasi MRO milik Garuda Maintenance Facility (GMF) AeroAsia di kawasan Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, akhir pekan lalu.

Dalam rapat terbatas pada 29 Februari, Presiden Joko “Jokowi” Widodo mengingatkan agar badan usaha milik negara (BUMN) tidak hanya berpikir soal keuntungan ekonomi, tetapi juga memastikan daya saing di kawasan dan perannya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.  

GMF AeroAsia adalah salah satu anak usaha Garuda Indonesia, perusahaan plat merah di bidang penerbangan.

Menurut Saleh, saat ini sebanyak 70 persen penerbangan yang beroperasi di Indonesia masih melakukan perbaikan serta perawatan di perusahaan MRO luar negeri.  

“Sebagian besar overhaul-nya di luar negeri. Dengan insentif dan rangsangan dari pemerintah, industri MRO kita terus bergairah untuk menarik peluang itu kembali ke Indonesia. Pesawat yang terbangnya Indonesia ya idealnya servisnya di Indonesia,” kata Saleh.

Merujuk catatan Kemenperin, pada 2014 jasa penerbangan dengan rute nasional mengalami peningkatan  sebesar 18 persen dibandingkan pada 2013, kemudian pada rute internasional mengalami kenaikan sebesar 32 persen.

Sedangkan untuk angkutan barang nasional mengalami kenaikan sebesar 91 persen dan 71 persen untuk rute internasional.

Diperkirakan, pada saat ini terdapat  63 maskapai penerbangan nasional, dengan populasi 657 pesawat, yang didominasi oleh pesawat jenis Boeing 737 Series sebanyak 231 buah.

Selain itu masih terdapat 182 buah pesawat lainnya yang dimiliki oleh sekolah penerbangan dan perusahaan perkebunan dan pertambangan.

Pemerintah juga telah menerbitkan PP No. 69 tahun 2015 tentang Impor dan Penyerahan Alat Angkutan Tertentu dan Penyerahan Jasa Kena Pajak terkait Alat Angkutan Tertentu yang Tidak Dipungut Pajak Pertambahan Nilai (PPN), yang pada intinya, PP tersebut memberikan insentif yaitu tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai untuk beberapa jenis alat transportasi, salah satunya adalah pesawat udara.

Kemenperin juga telah memfasilitasi tumbuhnya industri komponen pesawat udara dalam rangka mewujudkan Kemandirian Industri Kedirgantaraan Nasional (Industri Pesawat Udara, Industri Komponen pesawat Udara dan Industri Jasa Perawatan Pesawat Udara) yang ingin dicapai pada 2025.

“Beberapa industri komponen pesawat udara telah tumbuh dan berkembang dan tergabung dalam Indonesia Aircraft Component Manufacturer Association (INACOM),” kata Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin, I Gusti Putu Suryawirawan, kepada Rappler, Minggu malam, 6 Maret.

Beberapa produk komponen telah diproduksi antara lain windshield, interior, rotator sayap, landing gear, avionics, radome, dan lain-lain untuk memenuhi kebutuhan PT Dirgantara Indonesia dalam membangun pesawat udara N-219.

Saleh mengatakan pemerintah mengharapkan GMF AeroAsia memanfaatkan produk komponen dan bekerjasama dengan industri komponen dalam negeri untuk mendukung kegiatan jasa perawatan udara, sehingga industri komponen dalam negeri berkembang dan terjadi efisiensi serta penghematan devisa negara.

Fasilitas terluas di dunia

Menurut Komisaris Utama GMF yang sekaligus Direktur of Maintenance & Information Technology PT Garuda Indonesia Tbk Iwan Joeniarto, pihaknya mengapresiasi dukungan pemerintah yang berdampak positif pada pengembangan industri ini.

Daya saing yang kuat membuat industri nasional percaya diri dan mampu berkompetisi dengan operator asing. GMF juga optimistis untuk ekspansi lebih lanjut melihat peluang yang terus terbuka. Saat ini ada 2.500-an karyawan bekerja di GMF AeroAsia yang awalnya adalah divisi teknologi Garuda Indonesia.

Fasilitas perawatan pesawat dilakukan di area berikat GMF seluas 972.123 meter persegi di Cengkareng ini. “Kami memiliki empat hangar dengan hangar yang keempat merupakan hangar terbesar di dunia seluas 66.940 meter persegi,” ujar Iwan. 

Di salah satu fasilitas operasi, kata Iwan, pihaknya juga tengah menggarap pengecatan lebih dari 30 pesawat milik Virgin Atlantic.

Hingga kini, GMF telah mendapat kepercayaan dari ratusan pelanggan yang tersebar di 60 negara. Di Indonesia sendiri, pelanggan utama adalah Garuda Indonesia, Citilink, dan Sriwijaya Air. Sedangkan beberapa maskapai dari luar negeri seperti KLM (Belanda), Saudi Arabian Airlines (Arab Saudi), Virgin Australia (Australia), Jet Airways (India), dan Air Asia Group.

Saat ini, GMF AeroAsia dapat melakukan perawatan pesawat yang mencangkup 8 tipe pesawat, antara lain Boeing 737 Classic, Boeing 737 New Generation, Boeing 747, Boeing 777, Airbus A320, Airbus A330, ATR dan Bombardier CRJ-1000.

Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Mariani Soemarno mengatakan, instruksi Jokowi ditindaklanjuti.  

“BUMN dan anak perusahaannya juga harus lebih efisien, agar mampu bersaing dalam memberikan layanan kepada pelanggan dan publik,” kata Rini, kepada Rappler, usai ratas soal BUMN pekan lalu. – Rappler.com

BACA JUGA:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.