Bincang Mantan: Kapan waktu yang tepat untuk ‘move on’?

Bincang Mantan: Kapan waktu yang tepat untuk ‘move on’?
Bagaimana cara kamu mendefinisikan ‘move on’? Bagaimana caranya?

Kedua penulis kolom baru Rappler, Bincang Mantan, adalah antitesa pepatah yang mengatakan kalau sepasang bekas kekasih tidak bisa menjadi teman baik. Di kolom ini, Adelia dan Bisma akan berbagi pendapat mengenai hal-hal acak, mulai dari hubungan pria-wanita hingga (mungkin) masalah serius. 

Adelia: Tak ada yang tak terganti

Move on” digunakan dengan liberal saat ini sampai kita lupa apa artinya. “Moving on” direduksi menjadi sebuah pilihan yang mudah diambil dan dilaksanakan, dan saya yakin, siapapun yang menyederhanakannya pasti 1) belum pernah merasakan lelahnya mencoba move on dari perpisahan besar, atau 2) sudah pernah dan merasa berhak sombong di atas orang lain yang menurutnya gagal.

Jadi, moving on itu apa? Apakah sebatas “forget dan forgive”? Lho, memangnya gampang? Dan apa iya, bisa benar-benar lupa? Memangnya kamu amnesia?

Lagipula, kalaupun berhasil, pertanyaan-pertanyaan “what if” tidak serta merta hilang dari kepala, apalagi jika ada embel-embel penasaran atau the one who got away. Jadi, apakah move on itu kalau kamu sudah berhenti berandai-andai?

Punya pacar baru pun belum tentu sudah move on. Masih ingat kan dengan lagu Sadis-nya Afgan? Dan sayang pada dua orang dalam waktu bersamaan itu sangat mungkin terjadi.

Lalu gimana caranya move on? Tentu saja saya bukan orang yang tepat untuk ditanyai ini. Of all the things I’m bad at, this belongs to the top three. Entah ini karena ini masalah gender atau saya saja yang terlalu sentimental. Tapi, kalaupun kamu masih mau dengar nasihat tentang move on dari saya, silakan.

Dulu saya pernah baca, katanya untuk move on, kamu butuh waktu setengah durasi hubungan tersebut. Jadi, kalau pacarannya 3 tahun, harusnya 1,5 tahun kamu sudah bisa benar-benar move on. Itu teorinya. Tapi, generalisasi masalah manusia memang tidak pernah benar, karena ada juga yang pacaran saja tidak, hanya dekat 5 bulan, tapi butuh 2 tahun untuk ikhlas melepaskan.

Ikhlas. Mungkin itu kata kuncinya.

Mungkin “move on” yang selama ini digadang-gadangkan bermuara pada keikhlasan kita, bukan sekadar lupa atau melanjutkan hidup. Ikhlas melepaskan. Ikhlas menerima kalau ternyata orang baik bertemu orang baik hasilnya belum tentu baik. Ikhlas menerima kalau ada hal-hal yang tidak bisa didiamkan begitu saja, seperti perbedaan karakter atau timing yang tidak tepat. Ikhlas menyatakan kalau ternyata di balik kesalahannya, dia tetap punya sisi baik. 

Dan pada akhirnya, ikhlas menerima kenyataan kalau kamu harus menyambut tahapan baru di hidupmu. (Dan kata ustadz saya, tidak ada orang ikhlas yang berkoar-koar tentang keikhlasannya. Jadi, kalau kamu masih sombong pamer sudah move on, nampaknya kamu hanya membohongi diri sendiri.)

Kalau dari saya, hal pertama dan utama untuk move on adalah sadar satu hal: everyone is replaceable. Iya, termasuk kamu, dan dia. Begitu kamu sadar ini, saya harap kamu bisa lebih lega, berhenti mengartikan semua hal terlalu serius, dan berhenti menyalahkan keadaan, apalagi diri sendiri.

Lalu, kamu juga harus ingat kalau move on itu lebih dari sekadar pilihan. Move on adalah sebuah proses yang tidak ada ujungnya, so take your time. Percaya saja kalau tuhan itu baik, meskipun kadang suka bercanda. Percaya saja di depan kamu ada petualangan baru, dan tentu saja, jodoh tak akan lari kemana. 

Mungkin kamu akan bertemu dengan Mas yang lebih menyenangkan di ruang kantor sebelah, atau mungkin nanti kamu akan diarahkan kembali pada orang lama namun dalam kondisi yang lebih baik. Siapa yang tahu?

In the meantime, nafas dulu, shay. Dunia belum berakhir.

Bisma: ‘Move on’ jika kamu bisa mencintai diri sendiri kembali

Setelah putus dari pasangan dan bersedih-sedih ria, biasanya ada satu kondisi yang ditunggu seseorang, bahkan mungkin diusahakan agar kondisi itu bisa datang sesegera mungkin. Ya, apa lagi kalo bukan yang namanya move on. Saking dirindukannya, bahkan ada seorang teman yang dengan sistematisnya merancang langkah-langkah untuk cepat move on, dan setiap langkahnya didasari dengan fakta ilmiah (luar biasa, ya). 

Jadi apa sih move on itu?

Ada dua pendapat yang paling populer yang terkait dengan move on.

Pendapat pertama : Move on itu kalo sudah dapat pacar baru. 

Pendapat kedua : Move on itu kalo sudah lupain mantan. 

Saya tidak setuju dengan dua pendapat diatas. Pengertian move on tidak bisa dibilang dan didefinisikan sesederhana itu. Move on itu tidak terkait dengan pacar baru maupun mantan pacar, melainkan kepada diri sendiri.

Sebagai gambaran, saya pribadi sejak lepas dari pacar saya yang terakhir yaitu sekitar 3 tahun yang lalu dan belum pernah pacaran lagi (tenang, ini pilihan kok) dan tidak lupa dengan mantan (kalau lupa, enggak mungkin nulis bareng kaya begini), tapi saya berani bilang bahwa saya udah move on, kenapa?

Kalau menurut saya, move on adalah kondisi ketika kita sudah bisa kembali lagi ke keadaan sebelum kita pacaran dengan seseorang. Jadi standar move on menurut saya belum tentu sama dengan Adelia. S

ebelum pacaran, saya itu orangnya serba sendiri. Masak, makan, cuci baju, nonton di bioskop, semua nyaman dilakuin sendiri. Nah, tapi setelah saya pacaran, apa-apa dilakuinnya selalu berdua. Enggak berdua, enggak enak. 

Habis putus, agak susah tuh untuk balik lagi ke keadaan awal, nah kalau udah bisa jadi orang yang independen lagi, baru deh saya sudah bisa dibilang move on.

Kenapa di atas saya bilang move on tidak terkait dengan mantan, melainkan diri kita sendiri adalah karena move on hanya bisa dicapai ketika seseorang sudah kembali mencintai dirinya sendiri secara sepenuhnya seperti waktu sebelum wajib membagi cintanya ke orang lain. Sudah lupain mantan maupun dapat pacar baru tidak menjamin kita udah sepenuhnya jadi “kita” lagi.

Nah, intinya supaya bisa move on kita harus mencintai diri kita sendiri lagi. Cukup mantan aja yang sudah enggak cinta lagi sama kita. Diri kita sendiri jangan ikut-ikutan sama mantan. 

Dimulai dari mencintai diri sendiri, kita akan bisa kembali ke semangat dan balik keadaan terbaik dari kita, plus tambahan pengalaman beberapa tahun pacaran.

Kalo diibaratin cari kerja, orang yang baru keluar dari kerjaannya memang biasanya merasa jenuh. Tapi kalau kita balik ke semangat dan keadaan fresh graduate waktu cari kerja, dengan tambahan pengalaman kerja beberapa tahun, kita bisa cari kerjaan di tempat yang lebih baik dengan posisi jauh lebih, bukan? 

Kalau begitu bisa dong kita dapet pacar baru yang lebih baik dari sang mantan? Mau tau jawabnya? Makanya move on! —Rappler.com

Adelia, mantan reporter Rappler, kini sedang menempuh pendidikan pascasarjana di London, sementara Bisma adalah seorang konsultan hukum di Jakarta. Keduanya bisa ditemukan dan diajak bicara di @adeliaputri dan @bismaaditya.

Baca juga lainnya di Bincang Mantan:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.