Banjir Kabupaten Bandung tewaskan 2 orang, terparah dalam 10 tahun

Rappler.com
Banjir Kabupaten Bandung tewaskan 2 orang, terparah dalam 10 tahun
Sungai Citarum alami sedimentasi dan penyempitan, sehingga mudah meluap

BANDUNG, Indonesia — Banjir di Kabupaten Bandung setidaknya telah menewaskan dua orang.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, kedua korban tersebut adalah Risa, seorang remaja 13 tahun, dan Ela, seorang ibu rumah tangga berusia 40 tahun.

Risa meninggal akibat tersengat listrik saat banjir, sementara Ela terseret arus.

Tiga orang lainnya juga dinyatakan hilang.

“Tiga orang yang hilang adalah suami Ibu Ela dan kedua anak perempuan dari Ibu Ela. Saat banjir mengungsi ke bangunan di tepi sungai yang kemudian roboh,” kata Sutopo, pada Minggu, 13 Maret.

Sekitar 35.000 rumah terendam banjir di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, akibat meluapnya Sungai Citarum.

Musibah ini merupakan banjir terparah di daerah tersebut selama 10 tahun terakhir.

“Banjir kali ini bisa dikatakan paling parah selama 10 tahun terakhir,” kata Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Kabupaten Bandung, Dadang Wahidin, pada Minggu.

“Ada beberapa ketinggian lokasi yang ketinggian airnya mencapai 3,3 meter,” katanya,

Banjir melanda tiga kecamatan di Kabupaten Bandung, yakni Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang, sejak Sabtu, 12 Maret. Hujan deras diketahui sudah mulai mengguyur Kabupaten Bandung sejak Selasa, 8 Maret.

Menurut Dadang, beberapa lokasi di Kecamatan Dayeuhkolot yang sebelumnya tidak terkena banjir, sekarang dilanda air bah seperti kantor kecamatan.

“Selama 20 tahun terakhir, kantor Kecamatan Dayeuhkolot tidak pernah kena banjir, tapi sekarang ketinggian air di sana mencapai 35 cm,” ujar Dadang.

Saat ini warga yang rumahnya terendam banjir sudah mengungsi ke tempat yang lebih aman seperti masjid dan rumah susun.

Menurut Sutopo, daerah di sekitar hulu Sungai Citarum yang saat ini terendam banjir adalah daerah rawan banjir. 

“Kondisi topografinya merupakan cekungan seperti mangkok, namun wilayah ini telah berkembang menjadi permukiman dan kawasan industri yang padat penduduknya,” ujarnya.

Sungai Citarum, kata Sutopo, juga mengalami sedimentasi dan penyempitan sehingga mudah meluap, serta diperparah dengan rusaknya daerah aliran sungai di bagian hulu sehingga banjir tahunan selalu berulang. 

“Berbagai upaya pengendalian banjir telah dilakukan, baik upaya struktural dan non-struktural. Namun upaya ini kalah cepat dibandingkan dengan faktor-faktor penyebab banjir sehingga banjir belum dapat dituntaskan,” ujarnya. —Laporan Antara/Rappler.com 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.