Ormas di Bandung bubarkan paksa pementasan monolog Tan Malaka

Yuli Saputra
Ormas di Bandung bubarkan paksa pementasan monolog Tan Malaka
Sosok Tan Malaka yang mempelopori gerakan kiri dianggap mencerminkan paham komunis sehingga membahayakan bagi situasi di Bandung yang kondusif.

BANDUNG, Indonesia – Puluhan orang yang tergabung dalam Forum Masyarakat Anti Komunis Bandung membubarkan paksa acara Monolog Tan Malaka berjudul “Saya Rusa Berbulu Merah” di Institut Francaise D’Indonesie (IFI) Bandung, Jalan Purnawarman Bandung, pada Rabu 23 Maret. Pihak penyelenggara Mainteater dan IFI Bandung sebetulnya telah membatalkan pementasan tersebut pada Rabu petang.

Namun, lokasi acara tetap didatangi para seniman dan pengunjung yang berniat menonton acara tersebut. Karena pementasan teater dibatalkan, akhirnya pengunjung menggelar diskusi secara spontan membahas sosok Tan Malaka.

Hal itulah yang memancing kemarahan massa Forum Masyarakat Anti Komunis Bandung. Mereka membubarkan acara diskusi yang berlangsung di pelataran bagian dalam IFI Bandung. Kericuhan pun tidak dapat dielakkan.

Massa dari forum yang mengatasnamakan ormas Islam itu meneriakkan kata-kata “Ganyang PKI”.

“Bubar semua. Kosongkan (tempat ini). Ngapain kumpul lagi di sini? Kan sudah diumumkan kalau acara batal. Jadi bubar. Saya tunggu kalian bubar,” kata seseorang yang berada di barisan depan massa ormas.

“Saya tidak melarang acara ente. Tapi melarang acara yang berbau komunis. Kami juga tahu sejarah, tahu siapa Tan Malaka itu,” timpal yang lain.

“Kami seniman, kami bukan komunis,” terdengar balasan dari peserta diskusi.

Suasana berlangsung chaos. Adu mulut antara kedua kubu terdengar hiruk pikuk.

Mirisnya, terdengar suara tangis anak kecil yang terjebak di antara kerumunan massa. Untungnya bisa segera diamankan.

Acara tak berizin?

Kericuhan itu akhirnya dilerai oleh Kapolsek Sumur Bandung, Kompol Wadi Sa’bani. Ia meminta kedua belah pihak untuk membubarkan diri.

Kepada pihak penyelenggara, Wadi mengkritik acara yang dinilainya tidak berizin.

“IFI beberapa kali menggelar acara tanpa izin. Kami sudah beberapa kali menegur. Dampaknya seperti ini. Dengan melihat kondisi seperti ini, lebih baik acara tidak dilaksanakan,” kata Wadi.

Permintaan polisi akhirnya diikuti pihak penyelenggara namun mereka meminta jaminan keamanan.

“Karena terus terang saja Pak, kami dari tadi merasa diteror dengan berseliwerannya mereka,” kata Wawan Sofwan, Sutradara Monolog Tan Malaka “Saya Rusa Berbulu Merah.”

Memenuhi permintaan polisi, Direktur IFI Bandung, Melanie Martini mengatakan akan segera menutup dan menghentikan aktivitas di gedung tersebut.

“Untuk keamanan semua, malam ini kita pulang semua. Jangan ikut permainan mereka. Kita ikuti cara yang pintar saja,” kata dia.

Sedih dibatalkan

Menanggapi situasi tersebut, Wawan Sofwan mengaku sedih.

Kelompok Main Teater bersama staff IFI Bandung memberikan penjelasan terkait pembatalan pementasan Monolog Teater Tan Malaka "Rusa Berbulu Merah" di IFI Bandung, Jawa Barat, Rabu, 23 Maret. Foto oleh Agus Bebeng/ANTARA

“Sangat menyedihkan. Kita sudah tidak punya lagi rasa aman untuk mengekpresikan kesenian. Saya merasa kita tidak ada negara. Ketika kami membutuhkan aparat negara yang menjamin ini bisa berlangsung, ternyata mereka tidak di sini. Bagi saya inui sangat menyedihkan,” ujar Wawan.

Dia juga menegaskan pementasan karyanya pada Kamis esok, 24 Maret 2016 turut dibatalkan.

“Batal. (Pementasan) besok juga tidak mungkin bisa main dengan tenang,” katanya.

Batalnya pementasan monolog yang bercerita tentang sosok Tan Malaka itu mengecewakan banyak pihak. Padahal, penyelenggara telah berhasil menjual sebanyak 150 tiket. Masing-masing tiket dijual dengan harga Rp30 ribu.

Salah seorang calon penonton, Selly Martini mengaku kecewa dengan pembatalan tersebut.

“Sebagai publik sudah jarang dapat karya berkualitas yang menyampaikan nilai-nilai baik. Udah mah jarang, dilarang pula. Pelarangannya juga enggak masuk akal. Bilang komunis, dulu yang memperjuangkan negara siapa. Tan Malaka kan pahlawan nasional. Mereka itu (massa ormas) seperti yang memiliki negara. Kasus seperti ini terus berulang. Kemarin Belok Kiri Fest, terus film Pulau Buru, sekarang karya Kang Wawan, next mungkin kita,” papar Selly.

Sementara itu, Ketua Forum Masyarakat Anti Komunis Bandung Raya, Dedi Subuh mengatakan pihaknya tidak menolak seni teater tetapi jangan memunculkan tokoh komunis. Paham komunis, lanjut Dedi, sudah jelas-jelas dilarang dalam TAP MPR No 25 Tahun 1966.

“Tokoh Tan Malaka itu sudah jelas tokoh kiri,” kata Dedi.

Dedi mengklaim ada 100 orang dari Forum Masyarakat Anti Komunis Bandung Raya yang diturunkan untuk membatalkan pementasan monolog Tan Malaka. Kericuhan yang terjadi menurutnya disebabkan karena adanya diskusi tentang Tan Malaka padahal acara sudah sepakat dibatalkan.

“Ini memancing kemarahan kami. Kita sama-sama cinta Bandung. Jangan Bandung sudah kondusif dibikin tidak kondusif dengan acara yang mengusung paham komunis. Ini kan berbenturan dengan NKRI,” katanya.

 

Tan Malaka adalah pelopor sayap kiri yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melawan penjajah Belanda. Di era pemerintahan Presiden Soekarno, Tan Malaka ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional sesuai dengan Keputusan Presiden RI No. 53 yang ditandatangani pada 28 Maret 1963. – Rappler.com

BACA JUGA:

 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.