Refleksi tentang buku, membaca, dan sebuah keajaiban

Rahadian Rundjan
Manusia kelak akan mati. Namun berkat buku, suara dari masa lalu dan ilmu pengetahuan manusia menjadi kekal dan abadi.

Siswa-siswi SMP Muhammadiyah 2 di Surabaya, Jawa Timur, memperingati Hari Buku Internasional pada 23 April 2016. Foto oleh Moch Asim/Antara  

Lelaki berusia 40 tahun itu belakangan kerap menyendiri di gua untuk menemukan pencerahan spiritual. Di dalam pikirannya begitu banyak pertanyaan tentang dunia dan kehidupan. Hingga pada satu malam, sesosok malaikat mendadak muncul dan menghampiri si lelaki yang terperanjat. 

Sang malaikat memeluknya dan berkata, “Iqra! (bacalah)”. Namun si lelaki tidak bisa membaca. Diulangnya seruan itu tiga kali, dan lelaki itu akhirnya mengikuti kata-kata sang malaikat. 

Lelaki itu, Muhammad, begitu ketakutan dengan pengalaman spiritual tersebut. Tak lama setelahnya ia langsung lari ke rumahnya di Mekah dan meminta istrinya untuk menyelimutinya, masih dalam keadaan menggigil. 

Inilah sepintas kisah pertemuan pertama Muhammad dengan malaikat Jibril yang menyampaikan wahyu pertama Allah. Muhammad kemudian menyebarkan agama Allah, Islam, ke seluruh Arabia. Dan oleh pengikutnya, dari Arabia ke seluruh dunia. Kini Islam telah dianut dan menjadi pedoman hidup 1,6 miliar penduduk dunia. Semuanya dimulai dari sebuah seruan untuk membaca.

Mungkin dari sekian banyak kemampuan artifisial, membaca adalah sebuah aktivitas yang memiliki pengaruh paling besar dalam memajukan hidup manusia. Otak mendorong untuk belajar, dan memahami sesuatu melalui bahasa tertulis adalah bentuk paling alamiah dari sebuah proses pembelajaran. Dan tentu saja, hadiah terbesar bagi seorang pembaca adalah kesempatan untuk berkenalan dengan salah satu penemuan paling dahsyat dalam sejarah: buku.

Buku adalah instrumen paling relevan untuk mencatat dan mengomunikasikan informasi. Hal ini dimulai dari ambisi manusia untuk melestarikan pengetahuan dan mewariskannya pada generasi yang akan datang, dan lahirlah konsep dokumen. Sampai saat ini, buku adalah bentuk dokumen yang paling populer di antara umat manusia.

Lihatlah sejarah. Berseminya peradaban-peradaban agung di masa lalu ditandai dengan seberapa besar mereka mampu mengimpor, memproduksi, dan mendistribusikan pengetahuan melalui buku, juga dari bagaimana mereka merawat perpustakaan sebagai pusat intelektualisme. Monumen mereka hancur, negeri runtuh, peradaban menua lalu mati, namun kebajikan mereka masih dapat dinikmati melalui buku-buku yang mereka tinggalkan. 

Membaca buku di Indonesia

Membaca buku sebagai aktivitas intelektual harus terus dilestarikan untuk mencetak manusia-manusia yang kian arif dan berpengetahuan. Sebenarnya belum lama ini Indonesia mengalami euforia perayaan tiga hari penting, Hari Kartini 21 April, Hari Bumi 22 April, serta Hari Buku Sedunia 23 April. Ketiganya terkait erat dengan buku. 

Keharuman nama Kartini menyerbak setelah surat-suratnya dibukukan oleh seorang petinggi kolonial Belanda yang simpatik, J.H. Abendanon. Di atas Bumi, pohon tumbuh dan bersemi, dan dengan bantuan teknologi pembuatan kertas, pohon yang mati ber-“reinkarnasi” menjadi buku. 

Dan tentu saja, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai agen perdamaian dunia modern merasa penting untuk memuliakan kegiatan membaca, penerbitan, dan literasi masyarakat dunia, maka digagaslah Hari Buku Sedunia sejak tahun 1995 yang tanggalnya bertepatan dengan kematian penulis kenamaan asal Inggris, William Shakespeare.

Sejumlah siswi memakai kebaya seraya membaca buku di sekolah MTS YMP 1 Wonoayu, Sidoarjo, Jawa Timur, pada 23 April 2016, untuk memperingati Hari Kartini dan Hari Buku Internasional. Foto oleh Umarul Faruq/Antara

Lalu, di mana posisi Indonesia dalam peringkat literasi dunia? 

Berdasarkan data World’s Most Literate Nations yang disusun oleh Central Connecticut State University pada 2016, Indonesia berada di urutan 60 dari 61 negara yang menjadi sampel, hanya satu level lebih tinggi dari Bostwana di Afrika. Jauh dibandingkan dengan negara yang kerap dicela masyarakat Indonesia, Israel (peringkat 19), apalagi Finlandia (peringkat 1) yang satu dekade belakangan ini menunjukkan kemajuan sistem pendidikan yang luar biasa.

Menariknya, generasi muda Indonesia termasuk cukup melek teknologi, terutama media sosial. Geliat teknologi membuat kegiatan membaca kian mudah, meski sayangnya tidak ada peningkatan kualitas bacaan yang signifikan.

Di Indonesia, terkadang masalahnya bukan hanya di pembaca, namun juga faktor penerbit yang tidak mumpuni memenuhi kebutuhan bacaan masyarakat. 

Peter Carey, sejarawan asal Inggris yang selama 30 tahun mendedikasikan dirinya meneliti sejarah Pangeran Diponegoro, bahkan harus menyerahkan naskah Babad Diponegoro yang disuntingnya kepada penerbit Malaysia karena nihilnya ketertarikan penerbit lokal. Babad Diponegoro telah diakui sebagai warisan dunia UNESCO pada 2013.

Harus diakui bahwa Indonesia masih belum memiliki kebudayaan buku yang unggul, hal yang ironis mengingat bahwa bahan baku kertas, yakni pohon, tersedia dalam jumlah besar di wilayahnya yang tropis. 

Akarnya cukup mendalam. Feodalisme di Nusantara, yang lantas kemudian bersekongkol dengan kolonialisme, sukses mengekang nalar masyarakat setidaknya sampai politik etis dicanangkan di awal abad ke-20. Saat itu buku-buku dari Barat mengalir deras dan gagasan di dalamnya berhasil diolah menjadi senjata intelektual oleh para founding fathers Indonesia untuk menuntut kemerdekaan.

Membaca buku dan menyerap pengetahuan secara kritis harus digiatkan. Melek aksara tidaklah cukup, kini sudah saatnya untuk diikuti dengan melek intelektualitas.

17 Agustus 1945, Indonesia merdeka. Tak lama setelahnya, buta huruf pun dengan cepat berhasil diberantas oleh pemerintah. Namun ternyata, pemerintah juga mudah parno sehingga sensor buku pun gencar terjadi, baik di masa Orde Lama maupun Orde Baru. 

Geliat sensor Orde Baru terhadap buku-buku Marxisme dan komunisme, juga semua buku seputar peristiwa 1965 yang tidak sejalan dengan versi pemerintah ikut dilarang. Efeknya cukup fatal terhadap orang-orang yang hidup di masa Orde Baru.  

Teror intelektual Orde Baru sangat berhasil, dan terasa sampai sekarang, dibuktikan dengan sulitnya mengangkat kembali wacana peristiwa 1965 dengan perspektif yang baru tanpa tekanan politik dan sosial, baik dari pemerintah yang sekarang maupun masyarakat yang sudah terlanjur tercuci otaknya. 

Buku dan keajaiban

Perjuangan generasi sekarang, mereka yang bisa membaca buku dengan lebih bebas daripada orangtua mereka, memang berat, namun di pundak merekalah masa depan kebebasan intelektualisme negeri ini berada. 

Membaca buku dan menyerap pengetahuan secara kritis harus digiatkan. Melek aksara tidaklah cukup, kini sudah saatnya untuk diikuti dengan melek intelektualitas.

Karena pada dasarnya buku berbeda dengan manusia, ia benda yang netral dan tak berdosa. Contohnya, meskipun seluruh dunia mengutuk Hitler, Mein Kampf, karyanya yang tahun ini hak ciptanya habis toh tetap diperbolehkan terbit dengan bebas di Jerman dan sampai sekarang terus menjadi bahan penelitian sejarawan dunia. 

Sebuah buku tidak seharusnya disensor, apalagi sampai di-bibliosida (dibakar secara massal), yang sayangnya begitu sering terjadi dalam sejarah. 

Kisah-kisah bibiliosida yang memilukan sepanjang sejarah manusia ini telah dihimpun oleh penulis asal Venezuela, Fernando Baez, dalam karyanya Historia Universal de la Destrucción de Libros, yang pada 2013 lalu telah terbit versi terjemahannya di Indonesia; sebuah bacaan wajib bagi pecinta buku di seluruh dunia.

Membaca buku berarti menyelam ke dalam pikiran orang lain, bahkan mereka yang sudah mati ribuan tahun lalu. Seperti sihir, buku mampu menyatukan dua orang yang tidak pernah saling mengenal, yang jaraknya terpisah ruang dan waktu. Buku adalah bukti bahwa manusia dapat menciptakan keajaiban. —Rappler.com

Rahadian Rundjan adalah sejarawan lepas yang tengah menggeluti tema sejarah sains dan teknologi. Kini berdomisili di Bogor dan bisa disapa di @rahadianrundjan.

BACA JUGA: