Warga Bandung tiup peluit tanda darurat kekerasan seksual terhadap perempuan

Yuli Saputra
Warga Bandung tiup peluit tanda darurat kekerasan seksual terhadap perempuan
Meniup peluit sebagai simbol bahwa kekerasan terhadap anak dan perempuan sudah dalam kondisi darurat

BANDUNG, Indonesia — Kasus kekerasan seksual dan pembunuhan terhadap YY,  gadis 14 tahun asal Bengkulu, menggugah puluhan warga Bandung untuk turun ke jalan. 

Suhu udara Kota Bandung yang cukup dingin sehabis diguyur hujan tidak menghentikan langkah warga Bandung untuk berkumpul di Taman Cikapayang Jalan Ir. H. Djuanda Bandung, Rabu malam, 4 Mei.

Mereka datang dari berbagai kalangan dengan rasa keprihatinan yang sama. Hanya satu niat mereka, mendoakan YY yang menambah panjang daftar korban kekerasan perempuan di Indonesia. 

Doa yang terucap juga berisikan harapan agar tidak ada lagi perempuan yang bernasib seperti YY.

Doa, harapan, keprihatinan, dan duka cita yang mendalam diwujudkan massa aksi dengan menyalakan lilin dan meniup peluit secara serentak.

“Menyalakan lilin sebagai simbol nurani kita masih hidup walaupun kecil tapi ada di setiap orang,” kata koordinator lapangan saat aksi, Kurniawan Saefullah.

“Meniup peluit sebagai simbol bahwa kekerasan terhadap anak dan perempuan sudah dalam kondisi darurat,” ujarnya.

Dalam acara tersebut juga digelar aksi teatrikal yang menyatakan stop kekerasan terhadap perempuan. Seorang seniman perempuan, bernama Mimi Padmi, membungkus tubuhnya dengan kain berwarna merah di depan layar putih bertuliskan, “Stop Kekerasan terhadap Perempuan #NyalaUntukYY #sayabersamaYY #YYadalahkita #saveOURSISTERS”.

“Warna merah yang saya pakai adalah sebagai warning, tanda bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan sudah darurat, tapi sekaligus juga tanda sebagai keberanian para perempuan untuk mengungkap dan juga melawan kekerasan terhadap dirinya,” kata Mimi.

Seniman Bandung, Mimi Padmi, menggelar aksi teatrikal yang menyatakan Stop Kekerasan terhadap Perempuan pada 4 Mei 2016. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler

Kondisi darurat itu tergambarkan dari banyaknya jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan termasuk anak-anak di bawah umur. Komnas Perempuan mencatat sekitar 20 orang perempuan di Indonesia diperkosa setiap hari.  

Sementara di Jawa Barat, ada 215 kasus kekerasan terhadap perempuan yang ditangani Forum Pengada Layanan hanya dalam rentang waktu tiga bulan, dari Januari hingga Maret tahun ini.

“Jawa Barat ini masih tertinggi di nasional untuk kasus kekerasan terhadap perempuan, terutama dalam kasus trafficking. Seperti kita ketahui, di dalam kasus trafficking ini banyak sekali kekerasan terhadap perempuan yang terjadi,” ungkap Sri Mulyati, Dewan Pengarah Nasional Forum Pengada Layanan yang juga Direktur SAPA Institute.

Terkait dengan kondisi darurat kekerasan terhadap perempuan, aksi yang mengatasnamakan Solidaritas Warga Bandung untuk Korban Kekerasan dan Pelecehan Seksual terhadap Perempuan ini mengeluarkan pernyataan sikap yang dibacakan Aquarini Priyatna, dosen dan juga pemerhati gender.

“Selayaknya pemerintah Indonesia bersikap proaktif dan melakukan berbagai tindakan preventif untuk memastikan tidak terjadi lagi kekerasan terhadap perempuan,” kata Aquarini.

Warga Bandung berkumpul untuk mendoakan YY anak perempuan 13 tahun yang menjadi korban kekerasan seksual dan pembunuhan. Foto oleh Yuli Saputra/Rappler.com

“Pada saat yang sama, kami pun menyerukan kepada segenap lapisan masyarakat untuk bersama-sama membangun budaya yang lebih menghormati perempuan dan berhenti memandang perempuan sebagai objek. Perempuan dan laki-laki adalah sama-sama subjek yang mempunyai hak penuh atas tubuh dan dirinya,” kata Aquarini.

Hal penting dan segera yang harus dilakukan pemerintah, kata Aquarini, adalah segera mengesahkan Rancangan Undang-undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) dan merevisi Undang-Undang Perkawinan dengan mengubah usia minimal perempuan menikah dari 16 tahun menjadi 18 tahun.

“Hal lainnya, materi buku sekolah juga harus dipikirkan karena buku teks memicu pola pikir kita,” ujar Aquarini.

Marintan Sirait, aktivis Rumpun Indonesia, organisasi yang beranggotakan para ibu, menyatakan keluarga menjadi garda terdepan untuk menghapus kekerasan terhadap perempuan. Ia berpendapat, perlu dinegakkan kembali pendidikan nilai-nilai baik dalam keluarga.

“Saya percaya, tak ada ibu, ayah, kakak, adik yang rela salah satu di antara keluarganya menjadi pelaku maupun korban. Karenanya mari kita tegakkan kembali pendidikan nilai-nilai baik yang berperspektif kemanusiaan di keluarga, karena keluargalah dasar dari pembentukan akhlak setiap insan,” ujar Marintan.

“Mari kita bekali keluarga dengan informasi dan pengetahuan yang berorientasi pada kesetaraan, keterbukaan dan tanggung jawab demi bangsa yang beradab.”—Rappler.com

BACA JUGA:

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.