Catatan akhir ASEAN Literary Festival: Jangan kembali bungkam

Febriana Firdaus
Catatan akhir ASEAN Literary Festival: Jangan kembali bungkam
Ada upaya pelurusan sejarah tragedi 1965 yang dilakukan generasi muda maupun seniman.

 

Ketika saya menulis artikel ini, saya ditemani oleh Nyanyian Sunyi Seorang Bisu karya Pramoedya Ananta Toer dan Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer yang ditulis oleh Faiza Mardzoeki. 

Kedua buku itu saya baca-baca kembali, karena saya sedang ingin menikmati sunyi di tengah gaduhnya isu mengenai palu arit yang dipercaya Kapolri Jenderal Badrodin Haiti sebagai ancaman serius keamanan negara dan dipercaya oleh front pemuda yang selalu memakai embel-embel Pancasila sebagai kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sambil mendengarkan lagu Genjer-Genjer yang diaransemen ulang oleh musisi muda Yudha Perdana di Soundcloud dan seduhan secangkir teh, saya menulis blog ini. Syahdan. Pagi dan tenggat. 

Kemewahan ini saya rasakan di tahun ketika setiap orang (seharusnya) bebas berekspresi. 

Tak ada teror fisik atau penculikan-penculikan, bahkan penangkapan seperti yang terjadi pada 1965 lalu. Hanya sedikit teror, penangkapan sejumlah orang karena pemakaian atribut palu arit, walaupun polisi tak pernah mengungkap siapa dalang di balik ini semua.

(BACA: Penjual kopi di Malang ditangkap karena memakai kaus Palu Arit)

Sebelumnya, membicarakan karya-karya orang Lekra, seperti Pram, dan mendendangkan Genjer-Genjer terasa janggal di masyarakat kita, bahkan mengadakan diskusi mengenai tragedi pembantaian massal 1965 menjadi sulit saat itu. 

Tapi angin surga itu pelan-pelan dihembuskan ketika pemerintah memutuskan untuk menggelar diskusi kesejarahan Simposium Nasional 1965 di Hotel Aryaduta, Jakarta, pada pertengahan April lalu. 

Saya berada di sana, meliput dari awal hingga akhir. Saya merawat setiap kata yang keluar dari kesaksian setiap narasumber, karena ini adalah sejarah yang siap dibukukan dalam bentuk berita. Dan suatu hari nanti akan di-googling oleh anak cucu kita. Oh mungkin besok enggak pakai Google lagi, entah mesin pencari apa namanya. 

Di simposium itu, pelaku dan korban berhadap-hadapan. Dialog mengalir meski kadang buntu. Klarifikasi demi klarifikasi dijahit untuk meluruskan sebuah konsep bernama: Pelurusan sejarah tragedi 1965. 

Angin itu kemudian berlanjut dengan penyelenggaran ASEAN Literary Festival yang digagas oleh penulis muda, Okky Madasari. Di tangan Okky, ALF tahun ini menjadi lebih ramai. 

Okky memutuskan untuk memberikan suara pada yang dibungkam, seperti isu tragedi 1965, LGBT, hingga Papua. Keputusan yang belum pernah ia ambil pada tahun-tahun sebelumnya. 

Menurut Okky pada Rappler, ia hanya sedang mengikuti perkembangan zaman saja. 

Setidaknya ada tiga acara yang membahas tragedi 1965. Diskusi bersama komunitas storytelling Ingat65 yang saya gawangi sendiri bersama Prodita Sabarini dan teman-teman yang lainnya, diskusi mengenai pengungsi dan eksil ’65 oleh penulis Leila S Chudori, dan terakhir monolog drama untuk peluncuran buku Nyanyi Sunyi Kembang-Kembang Genjer. 

Ingat 65 dan Ingat 48 

Di sebuah sesi yang saya sendiri ditunjuk menjadi pembicara, sesi Ingat 65, ada upaya pelurusan sejarah juga. Saya menjelaskan kepada seorang peserta, mengapa Ingat 65, mengapa bukan Ingat 48? 

Sejarah menulis bahwa peristiwa tewasnya sejumlah kyai di Madiun pada 1948 itu adalah pertumpahan darah yang mengakibatkan korban dari dua belah pihak, kelompok sayap dari non-PKI dan PKI. 

Dalam peristiwa itu, negara menjalankan fungsi penegakan hukumnya. Sehingga setahun setelah itu, pemerintah menerbitkan surat keputusan pemberian maaf kepada PKI yang ditandatangani Menteri Kehakiman Soesanto Tirtoprodjo, pada 7 September 1949.

Isinya: Pemerintah tidak akan menuntut PKI. Tentang hal ini bisa dibaca di buku serial sejarah yang dikeluarkan oleh Tempo berjudul Musso. 

Aktivis 1998, Dhyta Caturani, yang juga pernah terlibat dalam sebuah film terkait peristiwa 1948 itu juga menegaskan, bahwa kasus 1948 sudah selesai. “Jadi kalau kita bicara soal penyelesaian ‘65 maka tidak bisa dikaitkan dengan peristiwa ’48, karena itu ’48 sudah diselesaikan,” katanya. 

Tapi apakah ada hubungan sebab akibat? Peserta kembali bertanya.

Maka saya menjawab. “Jikalau dialog mengenai ’65 ini tidak selalu dibungkam, saya, kita, semua akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Anda, karena itu 65 harus kita bicarakan, karena kita juga ingin tahu lebih jauh secara utuh, apa sebenarnya yang terjadi pada 1965?” 

Di sesi ini, kami tak hanya berbicara tentang ’48 tapi juga mendengarkan pernyataan dari pihak yang berseberangan di masa silam, keluarga jenderal yang terbunuh. 

Puri Lestari, seorang cucu jenderal yang gugur saat peristiwa ’65 secara khusus meminta maaf pada semua peserta dan masyarakat pada umumnya, jika kematian kakeknya tersebut dijadikan alasan Orde Baru untuk menakut-nakuti untuk berbicara tentang tragedi 1965, tentunya dalam rangka pelurusan sejarah. 

Mengasingkan yang terpelajar

SECANGKIR KOPI DARI PLAYA. Sebuah kisah cinta seorang eksil 1965 yang terpisah dari kekasihnya. Foto diambil dari Facebook Papermoon.

Di sesi lain, juga terungkap bagaimana orang-orang terpelajar dari Tanah Air yang dikirim ke luar negeri atau sedang mengikuti seminar di luar negeri diasingkan dari negerinya sendiri. 

Leila S Chudori juga mengungkap cerita-cerita mengenai eksil atau perantau yang dipaksa keluar dari negeri, paspor mereka dicabut oleh penguasa Orde Baru, karena dianggap berkaitan dengan petinggi PKI atau pemerintahan Sukarno saat itu. 

Fokus Leila pada eksil sebenarnya bukan barang baru, sebelumnya ia pernah menulisnya di novel Pulang.

Hananto Prawiro dan Dimas Suryo, dua tokoh utama dalam novel itu dikisahkan sebagai korban tragedi 1965. Hananto tewas setelah peluru yang ditembakkan dari bedil yang dingin itu bersarang di tubuhnya, dan Dimas Suryo yang akhirnya terasing di negeri paling romantis, Perancis. 

Cerita-cerita eksil ini banyak diangkat oleh penulis dan seniman di Tanah Air. Terakhir Kisah Secangkir Kopi dari Playa diangkat menjadi sisipan di film Ada Apa Dengan Cinta? 2. 

Widodo Suwardjo, pemuda kelahiran 2 September 1940, dan kekasihnya, seorang putri sulung direktur perusahaan negara, adalah tokoh utama dari teater boneka Papermoon Puppet Theatre karya Ria dan Iwan Effendi tersebut. 

Dikisahkan, setelah menyelesaikan studinya di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Widodo mendapat kehormatan untuk melanjutkan studinya jauh ke Moskow, Rusia, pada 1959.

Sebelum berangkat ia bertunangan dan bahkan berencana menikah selepas masa tugas belajarnya. Tahun berganti, surat-surat cinta di antara mereka pada akhirnya harus terputus oleh peristiwa 30 September 1965.

Leila menyoroti secara politis pengasingan orang-orang terpelajar ini. Bahkan ia melakukan penelitian khusus. Temuan Leila, ada eksil yang sampai harus berkeliling 10 negara hingga akhirnya mendapatkan negara yang aman untuk mereka. Sebuah kisah yang panjang. 

Kembang genjer dan simbol perlawanan perempuan

Di hari ketiga, Faiza Mardzoeki membuat jantung saya berdegub kencang. Bagaimana tidak, ia akan menampilkan cerita seorang anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Sumilah namanya. 

Sumilah, tokoh dalam monolog yang diperankan oleh Pipien Putri itu, adalah seorang penari yang juga mewakili aktivis perempuan di zamannya. 

Ia kerap menyanyikan Genjer-Genjer, yang sebenarnya adalah simbol kemiskinan. Awal mulanya, pada 1942, berkembang lagu Kesenian Angklung yang terkenal berjudul Genjer-Genjer

Pada saat itu, kondisi rakyat sedang krisis dibanding sebelumnya. Bahkan genjer, atau tanaman gulma yang tumbuh di rawa-rawa yang sebelumnya dikonsumsi itik, akhirnya menjadi santapan yang lezat, karena masyarakat tidak mampu membeli daging. 

Genjer-Genjer sempat dipopulerkan setelah kemerdekaan Indonesia karena dibawakan oleh Lilis Suryani dan Bing Slamet. 

PKI kemudian menggunakan lagu ini sebagai bahan kampanye untuk mengangkat isu kemiskinan di desa. 

Tapi di monolog karya Faiza ini, banyak ditampilkan karakter Sumilah yang menceritakan pengalamannya diinterogasi oleh tentara dalam keadaan telanjang. Bajunya dilucuti dan harus menjawab pertanyaan seperti, apakah ia ikut menari dan mengiris kemaluan para jenderal yang disebut dieksekusi oleh PKI? 

Monolog ini merupakan wacana tandingan atas skenario tentang nasib aktivis perempuan saat peristiwa 1965 oleh Orde Baru. 

Menurut Orde Baru saat itu, aktivis Gerwani adalah perempuan-perempuan binal. Mereka telah memotong kemaluan jenderal dan mengumpulkan mayatnya di dalam satu sumur mati di wilayah Lubang Buaya, Jakarta. 

Di atas sumur mati tersebut para wanita “sundal” yang ditujukan pada Gerwani digambarkan menari “Tari Harum Bunga” dengan bugil merayakan kemenangan. 

Tarian setan tersebut diiringi lagu Genjer-Genjer yang bernuansa mistis, sebagai pelengkap cerita horor pembunuhan 7 jenderal pada 1 Oktober 1965 tersebut. Selengkapnya baca di sini. 

Tapi seorang peneliti, Saskia Eleonora Wieringa, dalam bukunya Penghancuran Gerakan Perempuan,  membantah skenario ini. 

Seperti yang ditulis Rio Apinino di Indoprogress, bahwa ada upaya untuk membolak-balikkan fakta tentang Gerwani. Padahal Gerwani fokus pada perjuangan kaum perempuan, mulai dari menolak poligami, kampanye anti-pernikahan dini, hingga pemberantasan buta huruf. 

Gerwani juga melakukan jaringan yang luas dan kuat dengan organisasi perempuan internasional. Buktinya, Gerwani ikut serta dalam sebuah federasi perempuan internasional, Women International Democratic Federation (WIDF) yang didirikan tahun 1945. Gerwani juga turut berpartisipasi dalam Congress of Women di Paris. 

Yang jadi pertanyaan, siapa pihak yang gerah dengan sepak terjang aktivis Gerwani? Silakan pembaca menemukan jawabannya sendiri.  

Lalu apa yang harus dilakukan setelah ALF?  

Kawan saya, Dhyta Caturani, menulis di status Facebook-nya, “Keberanian itu menular. Teruslah bicara sebab keberanianmu untuk bicara akan menular.” 

Jika ada satu orang yang berani berbicara, maka orang lain juga ingin tergerak untuk bicara. Bicara bukan untuk membuat pihak lain resah, tapi demi tanggung jawab yang lebih besar. Tanggung jawab pelurusan sejarah pada generasi setelah kita. 

Bicara atau menulis, sama saja. Yang penting jangan bungkam (lagi). —Rappler.com 

Febriana Firdaus adalah wartawan Rappler Indonesia. Ia fokus membahas isu korupsi, HAM, LGBT, dan buruh migran. Selain menjadi wartawan, ia adalah Podcast Producer di @Ingat65. Febro, panggilan akrabnya, bisa disapa di @febrofirdaus. 

Add a comment

Sort by

There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.