JAKARTA, Indonesia — Buku kumpulan puisi dan foto karya penyair Aan Mansyur dan fotografer Mo Riza untuk film Ada Apa Dengan Cinta? 2 (AADC 2) laku keras.
Pada hari pertama peluncuran yang bersamaan dengan rilis film AADC 2, pada 28 April lalu, 5.000 buku berjudul Tidak Ada New York Hari Ini tersebut ludes terjual dan langsung masuk ke cetakan kedua.

Puisi dan foto memang tidak dapat terlepas dari sosok Rangga, pemeran utama pria AADC 2. Dalam kesendiriannya selama tinggal di New York, dua hal tersebutlah yang menjadi caranya mengungkapkan isi hati.
Setelah sebelumnya kita sempat membahas sosok Aan Mansyur di balik puisi Rangga, kini saatnya kita mengupas mata yang berada di belakang lensa kamera Rangga.
Mo Riza, seorang street photographer yang berdomisili di New York dipilih produser AADC 2, Mira Lesmana, untuk menjadi Rangga lewat bidikan kameranya.
Siapa Mo Riza?
Sehari-harinya, Mo bekerja sebagai seorang visual designer dengan latar belakang desain industrial dan interaktif yang berpengalaman selama lebih dari 20 tahun.
Ayah dari dua orang anak ini aktif sebagai Chief Design Officer di Amplify. Namun di sela-sela kesibukannya, ia selalu menyempatkan diri membidik berbagai sudut Kota New York lewat lensa kameranya.
Awal mula ketertarikan pada fotografi
Mo tertarik pada dunia fotografi sejak duduk di bangku SMA. Saat itu, fotografi hanya merupakan hobi saja karena mengikuti teman.
Semasa kuliah, hobi tersebut berlanjut karena memiliki banyak teman-teman yang mengerti fotografi. Saat kuliah di jurusan Desain Industri, Seni Rupa, Universitas Trisakti, teman kuliah di jurusan Desain Grafis sering kali menjadi mentor, dengan kamera dan teknis yang lebih bagus.
Namun ketika itu fotografi masih tetap menjadi hobi (yang cukup mahal).
Akhirnya, setelah kamera digital mulai beredar, Mo mulai benar-benar serius dan mencoba untuk memotret setiap hari. Ketidakterbatasan film yang sebelumnya menjadi kendala, sangat memberikan kesempatan untuk berlatih.
Menurutnya, seperti keahlian lainnya, fotografi hanya 10 persen bakat, sedangkan 90 persen lainny adalah keringat.
“Jadi, semakin sering memotret, semakin banyak peluang untuk menjadi fotografer yang baik,” ujar Mo kepada Rappler melalui e-mail.
Bahkan, berdasarkan pengalamannya, peralatan yang canggih tidak terlalu diperhitungkan. Mayoritas foto-fotonya cukup dijepret lewat kamera iPhone.
Keterlibatan di ‘AADC 2’

Keterlibatan Mo dalam proyek AADC 2 berawal saat produser Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza datang ke New York untuk riset lokasi syuting. Sang produser lah yang meminta langsung padanya untuk menggunakan foto jepretannya sebagai foto karya Rangga.
“Mungkin karena foto saya itu ada span waktunya, dari tahun Rangga ke New York sampai sekarang,” ujarnya.
Sementara Mira sendiri mengaku mengajak Mo Riza karena menyukai foto-foto New York jepretannya yang sering diunggah lewat media sosial.
“Saya kenal Mo Riza sudah lama sekali. Saya selalu mengikuti foto-foto hasil jepretannya di New York via sosmed-nya. Ketika mengandai Rangga yang selalu merekam gambar atau video di NYC, saya merasa jepretan dia pas sekali,” ujar Mira kepada Rappler, Selasa, 10 Mei.
Awalnya, Mira dan Riri memberikan overview jalan cerita film AADC 2, serta mengirimkan Mo puisi-puisi karya Aan. Berdasarkan hal tersebut, kemudian Mo memilih beberapa foto bidikannya yang dirasa bisa menjadi jepretan Rangga.
Selanjutnya, pada Maret 2016 lalu, Mo sempat berkunjung ke Jakarta untuk me-review layout yang didesain oleh Muhammad “Emte” Taufiq dan terkesan dengan hasilnya.
Mo juga mengaku senang sekaligus salut kepada kejeniusan Aan dalam menuliskan puisi-puisi dari sudut pandang Rangga.
Menurutnya, hal tersebut lah yang menjadi alasan mengapa buku Tidak Ada New York Hari Ini bisa ludes dipasaran. Selain tentunya keberhasilan Mira dan Riri dalam memposisikan buku ini di dalam dan sekitar AADC 2 serta Hari Puisi Nasional.
Kota New York dan fotografi
Mo berangkat ke New York pada 1986 dan melanjutkan sekolahnya di bidang computer graphic. Selesai sekolah, ia pun menetap di kota dengan julukan Big Apple ini.
Bagi Mo, New York merupakan sumber inspirasi dan energi kreatifnya, baik untuk fotografi maupun hal-hal kehidupan sehari-hari yang terus diupayakan agar selalu berseni. Fotografi hanyalah salah satu jalur kreatif yang dipilihnya sebagai rutinitas disela-sela kesibukan kerja kantoran.
“Saya selalu berusaha me-maintain empat photo blogs dengan tema berbeda selama empat tahun ini,” katanya. Keempatnya bisa dilihat di situs moriza.com.
Kota merupakan sumber inspirasi untuk Mo, dan setiap kota memiliki inspirasi tertentu bagi setiap fotografer. Yang berbeda tidak hanya perbedaan landscape, namun juga tingkat energinya.
Bagi Mo yang telah memotret New York selama 20 tahun, kota ini memang sangat menarik. New York memberi peluang untuk menggambarkan berbagai kultur, karena New York adalah melting pot.
Energi kota ini sangat tinggi, mirip dengan Jakarta. Oleh karena itu, setiap pulang kampung, ia selalu menyempatkan diri memotret di jalan, pasar, stasiun, hingga di terminal bus.
“Tapi saya bisa rasakan cara saya memotret di New York memang lain dengan kalau memotret di Jakarta,” ujarnya.
Proyek berikutnya
Sebelum mengerjakan proyek Tidak Ada New York Hari Ini, pada awal 2016 foto-foto jepretannya sempat diterbitkan bersama lewat buku koleksi foto Kota New York berjudul New York-Non Stop terbitan penerbit Universe.
Saat ini ia sedang sibuk menggarap proyek multimedia instalasi yang menghubungkan Makassar, kota kelahirannya, dengan New York, kota tempat tinggalnya selama 30 tahun terakhir.
“Rencananya, saya akan ajukan sebagai proposal untuk pameran dan workshop di Rumah Budaya Rumata di Makassar,” katanya.—Rappler.com
BACA JUGA:
- Sosok di balik rangkaian puisi Rangga
- DENGAR: Puisi yang dibacakan Rangga di ‘AADC 2’
- Jelang rilis film AADC 2, diluncurkan novel dan buku kumpulan puisi
There are no comments yet. Add your comment to start the conversation.