FOTO: Warga Kendeng ‘menggugat’ Jerman

Ketika warga Kendeng menggugat pembangunan pabrik semen ke Kedutaan Besar Jerman. Investor terbesar perusahaan semen ini berasal dari sana.

 

Warga Kendeng, Pati, Jawa Tengah, beraksi di depan Kedutaan Besar Jerman pada Senin, 16 Mei 2016. Mereka menentang rencana pertambangan pasir yang didanai oleh Heidelberg Cement AG dari sana. FOTO: PRINT WULUNG

JAKARTA, Indonesia – Hari ini, 30 orang warga Kendeng, Pati, Jawa Tengah, kembali menyambangi Jakarta. Namun, tujuan mereka bukan lagi Istana Negara. Berbekal spanduk menolak pabrik semen, serta berpakaian atribut petani, para warga berkumpul di depan Kedutaan Besar Jerman, Jalan M. H. Thamrin, Jakarta Pusat.

30 orang warga Kendeng berkumpul di depan Kedutaan Besar Jerman, Jakarta, pada Senin, 16 Maret 2016. Mereka hendak melakukan audiensi terkait rencana penambangan. FOTO: Print Wulung

Aksi yang sudah berlangsung sejak pagi ini didominasi oleh kaum wanita. Menurut Gunretno, koordinator aksi, prianya berjumlah 3 atau 4 orang saja. Para peserta yang kebanyakan berprofesi sebagai petani ini juga membawa hasil alam mereka. Mereka berorasi, menembang, dan geguritan.

Akhirnya, mereka ditemui oleh perwakilan Duta Besar Jerman, yakni Konselor Bagian Kebudayaan dan Pers Jorg Kinnen. “Yang masuk saya dan Ibu Paini. Karena dalam kasus semen, ia bertindak sebagai penggugat,” kata Gunretno.

Tanah Ibu Paini termasuk yang akan diubah menjadi pabrik semen kelak.

Ibu-ibu petani membawa hasil alam dari Desa Kendeng. Mereka tengah menanti hasil audiensi dengan perwakilan Kedutaan Besar Jerman. FOTO: Print Wulung.

Rupanya, Kedutaan Jerman menyambut baik maksud kedatangan para warga. “Bangsa dan masyarakat Jerman memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan. Kami berterimakasih mendapat masukan dari warga Kendeng perihal pertambangan semen di Pati,” kata Gunritno menirukan Jorg.

Sayang, wewenang izin pertambangan dan investasi tak ada di tangan mereka. Kinnen berjanji akan menyampaikan aspirasi warga ke Heidelberg Cement AG yang menjadi investor mayoritas di PT Indocement Tunggal Prakarsa – perusahaan yang akan membangun pabrik.

“Pak Jorg bahkan bersedia diundang ke Kendeng untuk mempelajari situasi secara langsung,” kata dia.

Meski hujan turun, warga Kendeng tetap melanjutkan penyampaian aspirasi di depan Kantor Kedutaan Besar Jerman, Jakarta, pada Senin, 16 Mei 2016. Mereka membawa tanaman dan kendi sebagai lambang bumi. Foto: Print Wulung.

Setelah itu, rombongan melanjutkan perjalanan ke Kantor Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Mereka berniat menyampaikan surat aspirasi pada Menteri ESDM Sudirman Said.

Di sana, mereka disambut oleh Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian ESDM Sujatmiko. Pertemuan berlangsung sekitar 45 menit.

“Akhirnya kami sampaikan ke Pak Sujatmiko, yang janji suratnya akan dikasih ke Pak Menteri,” kata Gunretno.

Membawa hasil bumi dan kendi sebagai lambang alam, warga Kendeng menentang pembangunan pabrik semen di Jakarta pada Senin, 16 Mei 2016. Foto: Print Wulung.

Kasus ini bermula ketika PT Sahabat Mulia Sakti (SMS), anak perusahaan PT Indocement, hendak melakukan ekspansi pembangunan pabrik semen dan penambangan di Kecamatan Kayen dan Tambakromo, Pati. Padahal, kedua kawasan tersebut padat penduduk, dan memiliki banyak sumber mata air.

Banyak warga yang memanfaatkan sumber daya alam di daerah tersebut untuk mencukupi kebutuhan hidup, rumah tangga, dan pertanian. Pegunungan Kendeng Utara, yang juga hendak dijadikan area pabrik, memang merupakan kawasan karst yang dapat menjamin pasokan air bersih ke daerah sekitarnya.

Penghancuran area ini dapat berdampak kerusakan lingkungan, juga hilangnya mata pencaharian sebagian besar petani di sana.– Rappler.com

BACA JUGA: