Kisah 100 hari Kina Grannis tertahan di Indonesia

Rappler.com
Promotor konser Kina Grannis di Jakarta menipunya dengan tidak mengurus visa kerja sesuai aturan yang berlaku. Kina Grannis terpaksa membatalkan konser di negara lain.

TERTAHAN DI INDONESIA. Musisi asal Amerika Serikat, Kina Grannis sempat tertahan di Indonesia selama 100 hari karena ditipu oleh promotor mengenai visa kerja mereka. Akhirnya turnya di Asia Tenggara tidak terwujud, akibat tersandung masalah imigrasi. Foto: situs pribadi Kina Grannis

JAKARTA, Indonesia – Penyanyi beken Youtube Kina Grannis buka suara saat terjebak selama hampir 100 hari di Jakarta. Rupanya, visa yang ia gunakan saat melangsungkan konser kecil-kecilan bermasalah.

Kedatangan Grannis dan rombongannya ke Jakarta bermula pada 14 September 2015 lalu. Saat itu, mereka tengah melangsungkan tur keliling Asia Tenggara, di mana Indonesia menjadi salah satu perhentian.

“Konsernya menakjubkan. Saya bertemu banyak orang yang menyenangkan di sesi meet and greet setelahnya. Saya merasa sangat baik,” kata dia lewat situs resminya. Namun, kebahagiaan itu sirna saat petugas imigrasi datang ke panggung dan mengambil paspor mereka.

Kina dan kawan-kawannya dipulangkan ke hotel tanpa ada penjelasan sepatah katapun.

Masalah visa

Sekembalinya ke hotel, Grannis dan kawan-kawannya tak bisa tidur sedikit pun. Mereka memikirkan masalah apa yang sebenarnya tengah terjadi. Perwakilan dari promotor sempat menyampaikan kalau masalah akan segera berakhir.

“Mereka bilang kami bisa meninggalkan Indonesia dan terbang ke perhentian selanjutnya di Taiwan malam herikutnya. Tetapi kami masih di Jakarta, demikian juga malam-malam selanjutnya,” kata dia.

Setelah berhari-hari menunggu, akhirnya rombongan dibawa ke kantor imigrasi untuk diinterogasi satu per satu. Di sana, Grannis baru mengetahui kalau promotor mereka sebenarnya tak mendapatkan visa kerja yang dibutuhkan.

Dengan demikian, konser Grannis dan kawan-kawannya bisa dikategorikan sebagai pemalsuan visa. “Di mana saya diberitahu bisa kena hukuman denda US$ 35 ribu per orang dan 5 tahun penjara,” kata dia.

Upaya Grannis untuk menjelaskan kesalahpahaman, kalau visa menjadi tanggung jawab promotor dan rombongan musisi sama sekali tak mengurusinya, juga tak membuahkan hasil. Petugas beralasan kalau nama Grannis dan kawan-kawannya yang tertera di dokumen, hingga merekalah yang harus bertanggung jawab.

“Mereka menahan paspor kami dan memulai investigasi kriminal,” kata dia.

Rentetan pembatalan konser

Karena tertahan, Grannis terpaksa harus membatalkan konser di tempat-tempat lainnya. Awalnya, promotor sempat menjanjikan kalau masalah ini akan selesai secepatnya dan ia bisa melangsungkan konser di tempat lainnya.

Namun, janji itu ternyata palsu karena berhari-hari Grannis tak mendapat kepastian kapan ia akan meninggalkan Indonesia. Lewat akun media sosialnya, ia menyampaikan pembatalan konser satu per satu.

“Saya selalu berharap setiap pembatalan adalah yang berakhir, tetapi akhirnya seluruh tur ini tak ada yang terwujud,” kata dia.

Ia merasa terpuruk, apalagi ketika mengetahui ada penggemar yang rela jauh-jauh datang dari Australia dan Jepang ikut hadir di beberapa lokasi konser. Mereka frustrasi. Demikian juga Grannis. Ia tak tahu bagaimana menyampaikan kebingungan dan pembatalan yang serba kabur dan mendadak ini.

Situasi yang aneh

Grannis dan rombongan meminta pertolongan ke semua pihak. Pertama, mereka ke Kedutaan Besar Amerika. Lalu, menyewa pengacara. Tapi tak ada yang bisa menolong mereka.

“Bahkan kata mereka situasi ini tak masuk akal. Mengapa kami tak dideportasi saja,” kata dia.

Setiap pertemuan dengan pengacara mereka juga tak membuahkan hasil. Tak ada perkembangan yang berarti, kecuali fakta kalau mereka akan segera diadili.

Untuk menghibur diri, Grannis dan rombongan melakukan banyak kegiatan dan saling menguatkan satu sama lain. Mereka berenang, bermain basket, dan mengobrol. Situasi semakin berat ketika Grannis batal menyanyi di upacara pernikahan sepupunya, juga tak bisa ada di samping saudara perempuannya yang mengalami kecelakaan.

Putusan pengadilan

Sepekan sebelum natal, mereka menjalani sidang perdana di pengadilan. Di hadapan ketiga hakim, Grannis dan kawan-kawan menceritakan secara jujur bagaimana kondisi mereka.

Sidang ditunda dan berlanjut ke hari kedua, di mana pengadilan menghadirkan saksi. Saat itu, Grannis diminta membacakan pledoi, di mana ia meminta maaf.

“Saya katakan kalau kami tak berniat buruk, tak tahu apa-apa sama sekali. Kami tak bermaksud melecehkan pemerintah atau pun negara ini,” kata dia.

Mereka hanya ingin pulang dan menghabiskan waktu bersama keluarga di hari natal. Grannis mencoba menahan tangis saat menyampaikan semuanya.

Namun, kenyataan berkata lain. Pengadilan memutuskan kelima orang ini bersalah. Mereka harus menjalani masa percobaan selama 8 bulan dan membayar denda.

Sesaat, Grannis merasa hidupnya akan hancur. Namun, penerjemah mengatakan masa percobaan akan dilakukan dari rumah mereka di Amerika. Pernyataan ini ditutup dengan ketukan palu.

“Saat itu, saya merasa 3 bulan kesedihan, ketakutan, dan ketidakpastian di dada saya akhirnya sirna,” kata dia. Sekeluarnya dari pengadilan, mereka langsung menelepon keluarga untuk menyampaikan berita gembira itu.

Setelahnya, Grannis mengingatkan kepada setiap artis yang akan melakukan tur keliling dunia untuk memeriksa berkali-kali apakah visa mereka sudah benar, sebelum memulai aksi di atas panggung.Rappler.com

BACA JUGA: